TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.198


Hari-hari yang dijalani Min tinggal di villa bos nya selama 5 bulan tidak pernah di ketahui siapa pun. Pagi ini pun Min masih berangkat bersama bos nya meskipun di turunkan di perempatan jalan karena permintaan Min.


Min sampai di meja kerja nya, namun badan nya terasa tidak enak. Mungkin karena musim hujan juga pancaroba dari cuaca di musim yang lembab ini, Min sering terkena flu yang tidak ringan saat kecil juga hingga ke bangku kuliah.


Min segera ke toilet, perut nya sudah tidak bisa kompromi lagi mual terasa, untung tidak ada orang disana.


"Mual sekali"


Min masuk ke WC barang kali dia Ingan buang air besar, nyata nya tidak hanya sekedar mules saja.


"Kebanyakn makan sambel kali ya"


Min segera bercermin dengan cermin kecil nya.


"Pucat banget"


Min segera memakai lipstik yang berwarna terang dan agak tua. Dia terlihat tidak pucat meski sedikit menor.


"Lebih mendingan ini"


Min membereskan pakaian nya menyemprot parfum yang agak menyengat.


"Kok bau"


Ketika hendak keluar, di luar nampak segerombolan wanita muda yang juga bekerja di kantor ini namun berbeda divisi.


"Eh tau tidak semalam ya, aku melihat Presdir kita berjalan dengan seorang wanita muda loh!"


Ucap salah seorang dari mereka.


"Halah paling juga Bu Elian tuh"


Timpal yang lain nya.


"Loh Bu Elian kan sudah di pindahkan ke kantor cabang di kota xx"


Yang lain mengomentari juga.


"Bener juga sih"


Ucap kedua wanita yang tadi berbicara itu menyahut.


Mereka sekitaran 5 orang yang pergi hanya untuk cuci muka juga touch up.


"Jangan-jangan beneran punya sugar baby, secara meskipun masih muda dan ganteng pak Presdir memang sudah kepala tiga kan guys?"


Ucap wanita bersuara yang lain.


"Bener loh, dia 2 Minggu lalu ke restoran soto milik sepupu ku, lihat sepupu ku yang memotret mereka"


"Coba lihat"


Ucap mereka serentak.


"Tapi ini tidak jelas ya"


"Bener tidak jelas, ini ngeblur"


"Wah sayang sekali"


Percakapan mereka terhenti ketika ada pihak HRD datang dan membubarkan mereka karena kebisingan yang mereka buat.


"Pembicaraan mereka seperti kaleng rombeng saja"


Ucap Min.


Min segera keluar dari toilet sudah pengap juga, sampai minyak wangi nya juga memudar kewangian nya.


"Kok wangi nya pudar sih? jangan-jangan merk palsu lagi, ya sudah lah murah juga"


Min berjalan kembali menuju ke ruang kerja nya, dia sedikit meminum air lemon hangat ditambah madu yang dibawa dari rumah.


Sudah 3 hari ini Min memiliki gejala pusing di pagi hari sampai mual dan muntah seperti tadi.


"Apa aku kena penyakit menular ya?"


"Siapa yang kena penyakit menular?"


"Ah, ehh...


pak Andreas"


"Iya ini saya"


"Kok bapak ada disini?"


"Iya, ini ada tugas meninjau lokasi pembuatan taman baru di kota, niat nya dengan Bu Arini tapi beliau ada rapat dengan klien penting juga jadi menunjuk ku dan kamu untuk meninjau nya"


"Oh"


"Apa tidak dapat pemberitahuan email 2 hari lalu"


Min tersenyum canggung.


"Kan aku tidak pernah buka email pak"


Andreas mengangguk.


"Mungkin karena kamu sibuk jadi tidak sempat buat buka email iya kan?"


"Benar"


Min kembali tersenyum seperti orang bodoh saja.


"Baik lah, setelah makan siang kita berangkat dan paling jam 6 sudah kembali lagi"


"Baik lah pak"


Andreas segera berlalu meninggalkan ruang kerja Min, dia sudah menyiapkan segala hal dan bekal juga selama perjalanan.


Sementara Rei menunggu di kantor nya dengan gelisah.


"Kemana wanita itu?"


Dia berjalan mondar-mandir sendirian dan juga sangat khawatir.


"Ah sudah lah, biarkan saja makanan itu basi"


Ujar Rei, karena tadi pagi sebelum berangkat ke kantor Min meminta dibelikan makan siang soto yang pernah mereka makan saat pulang kehujanan waktu itu.


"Wah ini luas sekali?"


"Benar, lagi pula disini belum ada pariwisata untuk turis"


"Benar sangat cocok, udara nya juga masih bagus"


"Betul sekali karena ini dipinggir pulau"


"Oh pantas masih asri"


"Ayo kita berkeliling untuk meninjau nya"


Mereka berkeliling meninjau sementara lokasi nya, menentukan luas juga apa saja yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan.


"Selamat siang pak Andreas dan Bu Arini"


Sapa seorang pegawai yang melayani informasi tanah yang akan mereka gunakan nanti nya.


"Maaf dia bukan Bu Arini tapi wakil nya"


"Oh maaf kalau begitu Bu"


"Oh iya, tidak apa"


"Silahkan ikuti kami"


Merek ada berjumlah lima orang tiga lelaki diantara nya dan dua lainnya itu perempuan.


selama setengah jam sudah mereka berkeliling lalu mencatat dan merencanakan hal apa yang harus dibangun oleh perusahaan dan yang tidak boleh dibangun.


"Pekerjaan kita jadi cepat selesai Karen kecerdasan kalian mengolah data apa saja yang di butuhkan perusahaan"


"Anda bisa saja memuji kami"


Ucap Andreas.


"Bagaimana kalau kita minum teh dulu pak Andreas dan ibu"


Andreas segera mengangguk menyetujui mereka, mereka sudah membooking tempat resto yang paling mewah dengan tipe privat room.


"Ini bukan nya terlalu mewah?"


"Oh, untuk anda tidak pak Andreas"


"Oh baik lah, anda semua sangat baik sekali"


Mereka setuju minum teh dulu karena waktu masih jam tiga sore, sedangkan waktu pulang kerja masih 2 jam lagi yaitu jam 5 sore.


"Anda berdua adalah karya divisi ya?"


"Bukan, aku hanya wakil divisi, sedangkan dia adalah orang yang di tunjuk Bu Arini untuk mewakili nya karena Bu Arini sendiri sedang rapat dengan klien penting"


"Begitu ya, silahkan dicicipi hidangan nya"


Pelayan restoran menyajikan hidangan yang lengkap dan banyak dalam beberapa porsi lauk dan sayuran juga. Semua hidangan itu termahal dan menggugah selera.


"Silahkan jangan sungkan-sungkan"


"Baik lah, terimakasih atas jamuan nya"


Andreas terlihat sangat senang karena usaha nya sangat berhasil dan lancar ditambah bonus nya di temani oleh gadis yang mulai mengisi hati nya sejak bulan lalu.


"Saya pamit ke toilet sebentar"


"Oh silahkan"


Perempuan yang berkaca mata segera berlalu pergi, tinggal perempuan satu lagi yang sedari tadi tersenyum manis.


Tiba-tiba ponsel wanita itu berbunyi dengan keras.


"Maaf saya keluar angkat telpon dulu"


"Iya silahkan"


Kini hanya tersisa Andreas dan Min saja, mereka makan dengan pelan.


"Kok aneh, ini hanya kita berdua ya?"


"Mungkin merek sibuk"


"Kan tadi nya minum teh, kenapa jadi makan sore"


Andreas melihat Min, mereka sudah menghabiskan separuh hidangan saja.


"Benar juga"


Tiba-tiba kepala Andreas pusing dan sangat berat.


"Ini obat bius, cepat minum ini"


Andreas menelan satu pil begitu juga Min.


"Kita lewat pintu belakang restoran dan naik taksi"


"Bagaimana dengan mobil mu?"


"Nanti juga di derek yang penting sekarang kita keluar dulu"


"Baik lah"


Merek keluar setelah situasi aman, rupanya mereka adalah penjahat.


"Ayo mumpung masih aman"


Min mengangguk, mereka keluar dari restoran dengan selamat.


'Untung saja aku membawa uang'


Gumam Andreas dalam hati.


Min juga membawa tas nya jadi tidak ada data diri yang tertinggal, sedangkan hasil kerja mereka sudah diselipkan kedalam jas milik Andreas.


Tak berapa lama taksi lewat dan mereka segera menaiki nya hingga ke perusahaan.


BERSAMBUNG.