
"Aku akan masuk"
"Tapi tuan Aryos"
Paman James berusaha untuk mencegah namun Aryos segera masuk ke kamar tuan nya. Kamar nampak rapih dan bersih, wangi lagi tidak ada pergerakan apa pun termasuk Rei yang tertidur dengan pulas.
"Dimana kamar nyonya?"
"Di kamar utama bawah, tuan"
"Baik lah, cepat periksa"
Paman James bergegas menuju lantai bawah, sementara Aryos mengecek Rei. Benar saja Rei terlihat menggunakan obat tidur karena Aryos tak melihat Rei tidur dengan pulas tanpa kewaspadaan.
"Enghh........"
Rei menggeliat tampak membuka mata nya.
"Tuan"
"Kenapa kau disini?"
"Aku sedang memeriksa mu, oh ya kau menelan berapa butir obat tidur?"
Rei terlonjak kaget karena sepengetahuan nya dia tidak pernah mengonsumsi obat tidur.
"Tidak ada, aku........."
Rei mengingat bayangan semalam saat memadu kasih dengan sang istri. Kenikmatan tiada tara itu kembali Rei rasakan setelah dua bulan lama nya menunggu.
"Tuan"
Paman James sudah kembali dari kamar utama bawah.
"Bagaimana paman?"
"Semua barang nyonya tidak ada dikamar bawah tuan"
"Apa! coba kau periksa sekali lagi, cepat"
"Baik tuan"
Rei tidak percaya akan laporan paman James nya.
"Tuan mandi lah dulu, aku siapkan stelan tuan"
"Baik lah"
Rei bergegas mandi, memang benar tubuh nya sangat relaks meski pun masih banyak cairan percintaan itu menempel di tubuh nya.
Klek.
Satu jam kemudian Rei selesai dengan ritual mandi nya, dia sangat segar. Rei hendak mengeringkan rambut nya lantas dia melihat kertas yang ditindih salah satu parfum yang sempat dia belikan untuk Min.
"Ini......"
Rei mengambil nya dan membaca surat itu.
'Om selamat pagi, jika menemukan surat ini mungkin Jasmin sudah pergi jauh, terimakasih sudah merawat Jamin dan mamah, maaf hutang Jasmin terlalu banyak sama om, om Jasmin hanya menagih janji, bukan kah jika dia sudah lenyap Jasmin boleh meminta satu permintaan? Jasmin sudah tanda tangan, maaf Jasmin tidak sempat pamit'
Rei selesai membaca surat itu, dia meremas nya, membuang semua benda yang ada diatas meja rias itu. Memukul retak kaca yang biasa Min gunakan untuk menatap diri nya dari pantulan cermin itu.
"Aahhhh.......!"
Semua orang berlari menuju kamar utama villa tuan mereka. Rei berdiri dengan tangan yang mengucurkan darah dari jari jemari nya.
Aryos kaget setengah mati.
"Aryos"
"Iya tuan"
"Kumpulkan semua orang, tutup semua bandara, stasiun dan periksa semua kendaraan yang melaju dan terdiam di jalan"
"Baik"
"Temukan dia dimana pun"
Aryos mengangguk, ini perintah pertama setelah kakek Aryandy meninggal dunia. Mata Rei memerah apa lagi melihat surat cerai yang sudah ditanda tangani oleh Min sendiri, bahkan baju sudah tidak ada satu pun.
'Berapa lama kamu menyiapkan itu,?'
Rei tertawa duduk di sofa, sambil menenggak minuman beralkohol tinggi.
'Baru saja aku sangat menginginkan mu, kau pergi bahkan tanpa melihat kearah ku, apa kau pantas!'
Gumam Rei dalam hati, kamar utama lantai atas seperti kapal pecah. Hancur berantakan, Rei saat ini menertawakan diri nya sendiri. Nyata nya semalam hanya bukan diri nya yang memberikan hadiah tapi istri belia nya yang lemah lembut itu.
'Ha....ha, nyata nya kau sudah berhasil membunuh ku, usaha ku tak ada apa-apa nya baik membenci mu atau sangat mencintai mu'
"Tuan"
Setelah 2 jam lebih Aryos kembali.
"Masukan dia kemari"
Aryos menunduk.
"Ada apa?"
"Pesawat yang nyonya tumpangi, meledak di laut dekat negara H"
Deg...deg....deg.
PRAAKK........
Gelas anggur yang dipegang Rei hancur membentur lantai.
"Tuan!"
Rei terdiam, sorot mata nya tajam memandang lurus namun kosong. Aryos begitu ketakutan akan kondisi Rei. Tanpa pikir panjang menelpon nyonya besar Alkatiri, dia menceritakan semua yang dia tahu.
Jangankan mamah, bahkan Herdan pun sampai kaget karena berita kecelakaan pesawat itu ada nama sang adik yang sangat dia sayangi.
"Ayo kita ke villa nya Rei, mah"
Papah Aksara yang baru datang dari dinas dengan klien nya di luar negeri pun segera mengajak semua keluarga untuk menyelesaikan masalah dengan Rei.
Mereka tiba di villa Rei saat sore, ada Herdan, Riana, papah Aksa, mamah Cinta, Indri, Dimitri, Saluna bahkan Raksa juga datang.
"Dimana Rei?"
"Tuan sedang mandi"
"Jam segini sudah mandi?"
"Maaf tuan"
"Jelaskan?"
Aryos segera menjelaskan masalah yang dia tahu, namun tidak tahu awal kejadian nya itu.
"Baik lah"
Mereka menikmati teh sore dengan ketiga cucu mereka, semua nya perempuan cantik penerus Alkatiri.
"James"
"Iya tuan"
"Siapkan kamar kami akan berlibur disini juga buatkan makan malam spesial buat keluarga besar ku"
"Baik tuan"
James bergegas masuk ke dapur mengerjakan tuan besar Alkatiri itu. Beberapa pekerja lain disuruh untuk membersihkan kamar yang akan ditempati oleh empat pasangan.
"Siapa dibawah?"
"Tuan dan nyonya besar"
"Kau yang memanggil mereka?"
"Benar tuan"
"Baik lah, aku juga nanti akan keluar"
Aryos segera turun kebawah, sementara tuan nya sedang berganti baju, maka nya dia bergegas menuju dapur untuk segera makan.
Rei turun dari kamar dengan sangat segar, namun pandangan mata itu seolah tak ada kehidupan.
"Rei!"
Mamah Cinta memeluk sang anak, meski sangat tinggi berusaha untuk merangkul si jangkung bungsu nya.
"Mamah"
Aksara menghela nafas berat, terjadi lagi seperti hal sebelum nya. Rei hebat dalam berbisnis mungkin, namun asmara nya yang tidak beruntung sama sekali .
"Boy, sudah lama tidak melihat mu menderita?"
Ucap papa sambil mengelus kepala anak nya.
Papah Aksara tak tinggal diam, dia mengirimkan sekompi pasukan untuk mencari menantu nya yang hilang.
Rei nampak duduk, meski Herdan terus melirik nya, Rei memang agak kasar dan juga penuh dengan kharismatik.
BERSAMBUNG