
Rei merebahkan diri nya di kap mobil hingga tertidur pulas. Angin malam yang dingin menyapu kulit nya tak terasa, meski hanya kulit wajah. Sampai matahari pagi menyinari wajah putih mulus nya, Rei baru terbangun. Dia tersadar bahwasanya dia masih di pinggiran pantai, Rei segera memacu mobil nya menuju kantor lewat parkiran nya yang langsung menuju kantor.
"Mandi di kantor saja"
Arah lift itu langsung ke dalam ruangan kantor nya Rei, Rei mandi setelah menghubungi Aryos untuk mengambil baju kantor nya di rumah.
Tok....tok.....tok.
"Nyonya permisi"
"Iya paman James"
"Ada pak Aryos yang mau mengambil baju kerja tuan"
"Sebentar saya pilihkan"
Paman James selaku kepala pelayan itu menunggu di luar kamar menunggu nyonya nya mengambil pakaian kerja milik tuan rumah yang tidak pulang semalaman.
"Ini paman James"
"Terimakasih nyonya"
Paman James, segera pergi bergegas memberikan pakaian kantor itu. Min tertegun, dia segera memakai pakaian kerja nya, dia segera menuju kantor setelah mengemasi bekal sarapan juga makan siang dan malam nya.
"Pasti banyak sekali pekerjaan ku karena sakit"
Min masuk agak terlambat, tapi seharus nya masih libur sehari lagi.
"Min kau sudah ke kantor?"
Andreas sudah menyapa di lobi karena dia akan dibawa meeting oleh paman nya.
"Iya pak, selamat tinggal"
Min dengan lesu menuju ruangan nya, dia mengerjakan dengan pelan pekerjaan nya. Meski masih lemah namun sebisa mungkin Min kerjakan. Sang mamah mertua nya meminta agar dia berhenti bekerja, namun sekarang harapan itu seperti nya akan pupus karena kejadian semalam.
"Min kau tidak apa-apa?"
Salah satu rekan kerja Min menegur nya.
"Aku sehat saja, terimakasih"
"Baik lah, pelan-pelan saja ya bekerja nya"
Min mengangguk tersenyum, meski sudah ditutupi bedak namun agak pucat. Min memakan sarapan nya untuk bisa minum obat vitamin yang diresepkan dokter.
Sesekali Min menengok kearah jalan, lalu kembali fokus mengerjakan tugas nya yang menumpuk meski sedikit demi sedikit.
"Nyonya"
Min mendongak, jantung Min hampir copot ketika mendapati asisten suami nya itu.
"Anda disuruh tuan datang ke kantor"
"Baik"
Tanpa berlama-lama Min segera bangkit, tak diragukan dia begitu senang dengan apa yang Aryos katakan jika sang suami yang nama nya kini mulai bertahta di hati nya itu menyuruh nya datang.
'Mungkin si om kemaren hanya emosi saja'
Gumam Min dalam derap langkah nya menuju kantor orang tertinggi di salah satu gedung perkantoran tertinggi itu.
"Tuan, nyonya datang?"
"Suruh masuk"
Min segera masuk, senyum nya mengembang dengan manis.
"Duduk"
Rei terdiam, memandang kearah Min.
"Ada apa om"
Min selalu memanggil Rei dengan sebutan om karena dia nyaman ditambah jika tidak ada hubungan pernikahan mereka memang pantas menjadi om dan keponakan.
"Lihat berkas ini apa kau yang mengerjakan?"
Min melihat lantas memeriksa nya.
"Benar"
"Perbaiki cepat saya tunggu 1 jam dari sekarang karena sebelum makan siang saya ada meeting dengan klien"
"Baik"
Min segera bangkit, dia melirik suami nya sebelum keluar dari ruangan itu. Namun Rei sama sekali acuh, dingin bahkan tidak peduli.
Min dengan lesu kembali ke ruangan nya, seolah dunia ini sepi pada hal dia sangat rindu pelukan Rei. Tanpa terasa air mata nya meleleh dikedua pipi mulus nya, hati nya sakit karena di acuhkan oleh Rei.
Min sampai menyemangati diri nya sendiri bahkan dia membuat coklat hangat yang menenangkan diri nya. Dia melihat Rei keluar kantor dengan terburu-buru, mengenakan pakaian lebih rapi juga lebih wangi. Dengan mencium aroma nya saja Min sangat senang dan bisa mengembalikan mood nya.
"Wangi sekali, wangi ini membuat rindu"
Min kembali mengerjakan pekerjaan milik nya hingga ponsel pintar nya berdering saat sebelum jam makan siang.
"Iya mah"
"Sayang kamu ke alamat ini ya, sekarang mamah tunggu ya"
"Iya mah"
Yang menelpon adalah sang mamah mertua nya, ibu kandung suami nya.
"Aku harus cari taksi"
Min segera meluncur ke tempat tujuan dengan taksi, dalam 20 menit Min sudah sampai di tempat tujuan. Yaitu sebuah mall terbesar di kota itu, Min masuk mencari. Sang mamah melambaikan tangan nya, Min tersenyum manis, menyalami mamah Cinta, Riana bahkan ada suami nya yang sedang sibuk dengan ponsel pintar nya.
"Ayo kalian pilih mau cincin yang mana?"
Rei melirik istri nya yang sedang memperhatikan beberapa design cincin itu.
"Suruh Min pilih, Rei ikut saja"
"Loh tentukan pilihan mu juga karena kita akan memilih dua pasang cincin"
"Loh kok dua pasang mah?"
"Satu nya cincin pertunangan"
"Terserah mamah saja lah"
Min hanya menyaksikan ibu dan anak beradu argumen.
"Ya sudah mamah saja yang memilih"
Akhir nya sang mamah mengalah untuk memilihkan cincin yang terbaik.
"Nah ini cocok, cepat berikan cincin pertunangan nya dulu"
Rei membuka kotak nya lalu mengambil cincin itu dan menyematkan nya pada Min, begitu pun sebalik nya.
Mereka pun makan siang bersama, beberapa kali Min melirik suami nya yang sedang menyuapkan makan siang nya itu.
"Sayang mamah punya hadiah buat pernikahan kalian ambillah"
"Tapi mah"
"Dek tidak baik menolak pemberian mamah, lagi pula kamu sudah menjadi istri nya selama lebih dari 8 bulan ini, itu milik mu"
Ucap Riana yang kini sedang menemani mamah nya untuk bertemu Min.
Min tersenyum manis mengambil satu set perhiasan dan sejumlah uang di dalam rekening suatu bank.
"Baik lah tugas mamah sebagai orang tua sudah selesai"
"Baik lah mah, kami permisi mau ke kantor lagi"
Rei segera menarik istri nya untuk pergi ke kantor, Min sangat senang karena Rei masih perduli pada nya. Rei mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, Min terdiam dia cukup gugup entah mengapa.
CEEKKIITT.....
Tiba-tiba mobil yang dikendarai Rei berhenti mendadak.
"Ada apa om?"
"Turun"
Min tak pernah curiga, dia langsung bergegas turun. Begitu pintu mobil ditutup, Rei segera melajukan mobil nya. Min terdiam mematung, satu pesan masuk itu dari Rei. Min hanya membaca lalu tidak membalas nya, lelaki itu berubah seperti semula, percuma saja Min berharap pernikahan nya akan semakin bahagia.
Pandangan Min kabur lalu setelah itu menggelap, entah sudah berapa lama Min tak sadarkan diri ketika dia membuka mata ada seorang perawat yang menjaga nya.
"Ibu sudah sadar, harap hati-hati ya Bu, anda sedang mengandung jadi tidak boleh kelelahan"
DERRRRRR......
Mata Min membola, dia tidak salah dengar jika diri nya hamil bukan.
"Maaf tadi saya kenapa ya?"
"Ibu sedang hamil, ini hasil tes nya juga resep nya mohon ditebus juga jangan sampai kelelahan ya Bu"
Pantas hasil nya sudah ada, ini sudah waktu jam makan malam. Min segera ke bagian apotek menebus resep yang diberikan dokter. Min keluar dari rumah sakit dengan menaiki taksi, dia menuju ke villa, Min begitu bahagia dengan kehamilan nya.
BERSAMBUNG.