
Sudah seminggu ini Rindi latihan fisik, keahlian dan belajar. Akhir nya mulai terbiasa setelah 5 hari latihan fisik. Mulai memahami jika keahlian dibutuhkan ketika kita terdesak dan mulai mengerti akan penting nya ilmu karena akan menentukan masa depan. Rindi begitu santai hari ini setelah seminggu sudah dia mengejar semua pelatihan itu.
"Non sudah mulai terbiasa ya?"
"Iya bi, awal-awal kaya mau mati saja"
Si bibi hanya tersenyum manis, meski mirip namun nona kecil nya ini lebih lambat car belajar nya. Tapi keteguhan hati nya lebih kuat dan sabar.
"Baru datang?"
"Iya paman, paman mau kemana rapih amat?"
"Mau bertemu teman lama"
"Oh"
"Kamu mau libur tidak?"
"Memang bisa?"
"Kamu kan sudah mulai terbiasa, jadi bisa libur, kamu sudah mahir menembak juga"
"Kan baru senjata kecil paman"
"Ya sudah kalau tidak mu libur"
Rindi berpikir lalu dia berlari mengejar sang paman.
"Aku mau paman, aku mau libur setengah hari ini"
"Ya sudah pergi lah"
"Sampai jumpa paman"
Rindi bersorak senang, bagaimana kabar pangeran impian nya. Sang paman hanya menggelengkan kepala nya. Dia segera menuju resort milik kakek Aryandy sejam kemudian dia turun untuk menemui sahabat nya itu.
"Hai bro!"
Rei melambaikan tangan nya pada sahabat lama nya itu.
"Apa kabar nih?"
"Baik, ayo masuk dulu"
Rei mengajak paman nya Rindi memasuki gazebo pinggir pantai.
"Masih seneng ke pantai ya?"
"Iya, maka nya resort ini aku kembangkan"
"Apa pun bis kau kembangkan tidak seperti diri ku"
"Memang kau kenapa?"
"Aku hanya mengembangkan restoran bintang lima saja"
"Tapikan sudah ke mancanegara"
"Memang"
Mereka sejenak terdiam mengenang masa lalu.
"Apa tidak berpikir untuk berkeluarga?"
"Sudah tapi aku pernah dikhianati apa lagi kisah tragis adik ku"
"Iya tidak menyangka, gadis yang lengket dengan ku bisa jatuh cinta pada lelaki lain"
"Lelaki itu mengkhianati cinta nya hingga adik ku bunuh diri"
"Apa!"
"Itu kenyataan nya, tapi dia meninggalkan seorang gadis cantik untuk ku urus"
"Syukur lah"
"Tapi dia masih tinggal bersama keluarga ayah nya, parah nya aku tidak bisa jujur jika dia keponakan ku saja, aku kakak mamah kandung nya bukan kakak dari mamah nya yang sekarang"
"Kok jadi tragis begini sih, tinggal adopsi saja"
"Kau kira dia bayi, dia sudah 18 tahun bro"
"Wah secantik mamah nya ya"
"Lebih cantik bahkan"
"Oh ya"
"Tapi aneh nya keponakan ku jatuh cinta pada anak tunggal mu"
"Uhuukk.....uhhuukk"
Rei yang sedang meminum teh herbal nya itu sampai tersedak.
"Benarkah?"
Paman Rindu mengangguk perlahan.
"Awal nya pengasuh yang menjaga adik ku memberi pesan jika anak itu selalu memandang foto seorang lelaki"
"Lalu?"
"Karena penasaran ku hack ponsel nya, ternyata ada perusahaan anak mu yang menghadang"
"Jadi karena ini kau mendatangi ku?"
"Tentu bukan, aku tidak mau ikut campur urusan anak muda"
"Tapi anak ku sudah berjamur, dia berusia 32 tahun"
"Mungkin Arin lebih suka yang matang"
"Tapi istri ku sudah mengatur perjodohan dengan kerabat jauh nya"
"Biarkan saja, kalau jodoh juga pasti akan ketemu"
"Iya juga sih, jadi bagaimana?"
"Biarkan saja urusan anak muda, aku sedang menempa keponakan ku sebagai pewaris"
"Oh ya"
"Lalu?"
"Sekalian ku tawari sekolah kepewarisan, latihan fisik juga untuk jaga diri saja"
"Itu bagus, baik lah jika begitu kita menonton saja"
"Mungkin keponakan ku juga menemui anak mu hari ini, ku liburkan setengah hari"
"Benar kasihan jika latihan terus"
"Anak muda kadang perasaan nya masih belum menetap mungkin hanya kagum, atau juga melihat anak mu kaya dan tampan"
"Tapi anak ku lumpuh karena dia waktu kecil menghilang"
"Itu seperti nya bukan alasan, keponakan ku ini sangat polos"
"Baik lah nanti ku awasi anak ku, aku ingin tahu juga ekspresi nya, belum tentu anak ku tidak normal jujur dia tidak pernah dekat dengan wanita satu pun"
"Semoga tidak ada tragedi yang menimpa mereka"
Re mengangguk teman satu desa nya ini sangat pandai meski dulu mereka orang kaya baru namun setelah pindah ke kota mereka sukses menjadi keluarga yang sangat potensial.
Drrtt...drrtt.
Ponsel Rei berdering dengan kencang.
"Sebentar aku angkat telpon dari rumah dulu"
Rei pergi menjauh untuk menerima sambungan ponsel nya.
"Iya mah"
"Pah, mamah sudah belanja hidangan sudah dipesan semua, saudara mamah juga sudah datang, tolong hubungi Arvin ya"
"Baik lah"
Rei kembali duduk.
"Aku pulang dulu bro"
"Ya maaf bro, keluarga ku sibuk"
Mereka berjabat tangan lantas paman Rindi segera pamit. Rei menghuni Andra yang masih berkutat di kantor.
"Iya dad"
"Pulang ke rumah Daddy, mamah punya acara jamuan untuk mu"
"Baik Arvin kesana waktu jam makan malam"
"Iya Daddy tunggu ya"
Di ruang kantor Andra masih banyak pekerjaan, tapi lelah nya berkurang karena barusan dikunjungi oleh Rindi.
"Ada apa tuan?"
"Siapkan pakaian buat dinner yang biasa saja"
"Dinner dengan klien mana tuan?"
"Dinner perjodohan di rumah Daddy"
"Yakin akan hadir"
Andra mengangguk pelan, Roy segera pergi menyiapkan yang tuan nya minta.
Tok....tok....tok.
Setelah Roy membawakan pesanan bos nya, Roy mengetuk pintu ruangan kantor bos nya namun tak ada jawaban.
Roy mendorong pintu nya tidak terkunci, Roy melihat sekeliling hingga menemukan tuan nya tertelungkup tertidur kepala nya diletakkan diatas meja kerja nya.
Sudah pukul 8 malam namun Andra belum juga nampak batang hidung nya.
"Pah kok belum datang?"
"Siapa mah?"
"Arvin"
"Macet kali mah"
"Macet apa ini sudah malam loh"
"Papah sudah telpon dia tadi sore, dia bilang akan datang mah"
"Mamah khawatir"
"Sudah lah kita tunggu saja"
Di halaman terdengar suara deru mesin mobil. Elian segera pergi menyambut anak tiri nya itu.
"Arvin sudah datang ya!"
"Selamat malam Tante Elian"
"Selamat malam, Roy ayo masuk"
Mereka masuk nampak disana sudah ada satu keluarga besar, dan nampak ramai. Mereka semua nampak tersenyum, namun senyum itu seolah hal yang jijik bagi Andra.
"Ayo kita makan malam saja langsung bisa sambil ngobrol"
Mereka makan malam besar karena keluarga jauh dari Elian.
"Arvin kenalkan itu sepupu jauh Tante Elian mereka dari keluarga Braja"
Andra biasa saja memandang mereka, baju mereka nampak biasa saja tidak glamor. Sederhana namun bagi Andra mereka terlihat seperti badut, berpura-pura sederhana namun sosialita tinggi.
"Salam kenal semua"
Mereka saling melirik dengan tatapan licik, saling senyum dan pandang seperti sedang menyusun rencana.
BERSAMBUNG