
Tak....tak...tak.
Hills menapaki lantai licin rumah keluarga Mukti, siapa lagi yang sudah berdandan selain Lisa.
"Kau mau kemana?"
"Kenapa memang mah?"
"Jangan keluyuran terus"
"Aku hanya pergi refreshing saja mah"
"Tunggu papah mu pulang makan malam lalu baru pergi"
"Cerewet sekali, baik lah"
Lisa kembali ke kamar nya.
"Huh, bosan sekali"
Dia mengetik nama Bayu, lantas diseberang langsung diangkat.
"Aku bosan di rumah"
"Mau ke club'"
"Mamah melarang, papah belum pulang soal nya"
"Oke tunggu saja dulu, nanti semalaman ku puaskan kau, aku ada barang baru"
"Oh ya"
"Iya baru datang tadi pagi, khasiat nya lebih bagus"
"Baik lah, demi barang itu aku akan bersabar"
Ponsel dimatikan oleh Lisa, dia melihat layar televisi sembari menunggu sang papah pulang.
Sedangkan di kantor Andra sudah hampir menyelesaikan bertumpuk pekerjaan nya.
"Tuan sudah mau petang?"
"Baik lah, aku mandi disini saja"
"Pakaian anda sudah saya persiapkan"
"Iya, apa kamu sudah pilih hadiah nya"
"Sudah aja di bagasi mobil"
"Baik lah"
Andra segera mengarahkan kursi roda nya ke kamar privat nya yang ada di sebelah ruang kerja nya. Tak lupa Andra mengambil baju ganti nya.
"Apa kita akan pulang?"
"Iya non"
Rindi juga segera keluar pergi ke toilet umum yang tersedia di lantai itu, lantas mencuci wajah nya. Rindi menyisir rambut dan memperbaiki baju nya.
Tak berapa lama Andra sudah selesai dengan ritual mandi dan sudah rapih berpakaian.
"Kemana dia?"
Roy menengok ke arah bos nya itu.
"Non Rindi ke toilet umum, tuan"
Tak berapa lama Rindi muncul dengan senyum manis nya. Wajah nya cerah tanpa make up dan lipstik sangat fresh, Andra melihat gadis yang dulu pernah dia tolong dari para penculik.
"Ayo aku akan mengantar mu pulang, sekalian aku juga pulang menemui Daddy ku"
Rindi mengangguk.
Mereka turun bersama menuju tempat parkir, lalu menaiki mobil yang sama.
"Nanti kita berhenti di restoran langganan Roy, belikan 3 menu makan malam ya"
"Baik, tuan"
10 menit kemudian mobil yang Roy kemudikan itu berhenti seperti kata tuan nya tadi.
"Sudah tuan"
"Jalan ke rumah keluarga Mukti"
Rindi semakin gelisah, dia takut tidak bisa bertemu dengan Andra kembali. Rindi terlalu asik melamun tak memikirkan jika mereka telah sampai di depan gerbang rumah kedua orang tua nya.
"Kita sudah sampai di rumah keluarga Mukti, tuan"
"Box itu serahkan pada nya"
"Baik, ini nona"
Rindi menerima nya, lantas Roy turun dari depan membukakan pintu mobil untuk Rindi. Rindi masih terdiam di dalam mobil. Scurity keluarga Mukti sudah memperhatikan sejak tadi, namun mereka tidak bisa menegur mobil yang berhenti tepat di tengah pagar rumah milik keluarga yang mereka jaga. Mereka tidak berani menegur karena melihat plat mobil nya, jika berurusan dengan salah satu keluarga besar maka sudah pasti jadi pengangguran selama nya.
"Apa kita bisa bertemu lagi?"
Andra melirik gadis cantik itu, dia masih sangat belia dan masa depan nya masih sangat panjang.
"Aku tidak ingin pulang"
Andra pun hanya terdiam, dia tidak tahu kondisi sebenar nya dari anak kedua keluarga Mukti ini.
"Baik lah aku akan pulang"
"Turun lah"
"Kau mengusir ku?"
Andra hanya terdiam saja tanpa tahu harus menjawab apa.
"Apa boleh aku mengejar mu?"
"Kalau tidak menjawab berarti setuju"
Rindi dengan senyum manis, menjabat tangan besar Andra yang hangat dan memberi kenyamanan.
"Sampai jumpa calon pacar!"
Rindi mengucapkan itu di dekat telinga Andra.
Roy mendengar itu mencoba menahan tawa nya, meski wajah Roy menjadi merah padam.
"Sampai jumpa lagi Roy"
"Sampai jumpa lagi nona Rindi"
"Prrttt.........."
Meski menahan tawa suara Roy tetap terdengar.
"Potong bonus tiga bulan"
"Jangan lah tuan"
"Cepat jalan"
"Laksanakan!"
Mereka melajukan mobil menuju kediaman keluarga Rei. Sementara Rindi berjalan menuju pagar rumah nya. Dia memandang rumah sejak dia lahir ke dunia hingga 18 tahun ini. Tidak ada kegembiraan dan cahaya, hanya luka, kesakitan dan tak ada kehangatan. Apakah ini yang disebut rumah?.
"Non Arin baru pulang ya?"
"Iya pak, tolong bukakan pintu pagar nya"
Sekilas mereka melihat paper bag itu.
Scurity membukakan pagar, bersama dengan itu mobil merah milik Afar Mukti juga melintas menuju ke halaman.
Ayah dua anak itu segera menarik lengan putri kedua nya untu masuk ke rumah mereka.
"Kunci pintu nya!"
Afar berteriak di dalam rumah nya sendiri, di luar dia hanya menyeret sedikit lebih cepat. Dia menyuruh pembantu rumah tangga nya mengunci pintu.
BUUKKK......
Afar menghempaskan tangan Rindi, dengan spontan tubuh langsing Rindi juga ikut terbanting ke lantai. Box pemberian dari Andra terpental entah kemana, namun isi nya masih utuh.
"Kau gadis tak punya tatakrama, kalau ingin pulang minta Bayu antarkan bukan nya kabur!"
Rindi diam tidak menjawab, dia terduduk di lantai.
Di dapur Melina sedang menata peralatan makan malam kaget, langsung menghampiri suami nya di ruang tamu dan anak tiri nya itu.
"Pah, ada apa ini?"
"Anak bungsu kita sudah pulang, setelah kabur dari acara tunangan keluarga Braja semalam"
"Hah! jadi dia kabur, pah?"
Melina kaget dengan pernyataan suami nya itu, tak berapa lama Lisa keluar dari kamar nya itu.
"Siapa yang kabur pah?"
"Adik mu yang cerdas ini siapa lagi?"
Lisa kaget, untung saja tadi pagi dia sudah membereskan Bayu di mall, kalau tidak bisa ember tuh mulut Bayu pikir Lisa.
"Memang dia bisa kabur kemana, pah?"
"Tanyakan saja pada orang nya, papah cape malah harus mengurusi hidup mu!"
"Gadis tidak tahu diri, sudah di beri jalan enak malah kabur!"
Cecar Lisa.
Rindi hanya diam tak menjawab apa pun, dia masih duduk di lantai.
"Bawa dia ke kamar gelap, introspeksi diri disana"
Afar memerintahkan pembantu nya untuk membawa Rindi ke kamar gelap.
"Jangan beri makan selama tiga hari, dan jangan lupa bawa sampah itu yang tergeletak di lantai juga"
Rindi dibangunkan oleh pembantu rumah mereka, untuk segera dimasukkan ke kamar gelap.
"Setiap hari pukul lima kali dengan tongkat punggung nya"
"Baik tuan"
Melina dan Lisa tersenyum puas karena gadis liar yang bodoh itu akhir nya di hukum lagi. Meski rencana untuk merusak Rindi gagal tapi dengan kesakitan fisik itu pasti Rindi jadi semakin bodoh.
"Sudah pah, jangan marah lagi, kita makan malam dulu"
Ucap Melina.
"Ayo"
Balas Afar.
"Nanti habis makan, aku ijin ke rumah teman ya pah ada yang adakan jamuan bisnis"
Sela Lisa.
"Iya berangkat lah, cari koneksi buat perusahaan jangan lupa itu"
"Siap bos"
Mereka keluarga Mukti malam itu menikmati makan malam lezat mereka.
BERSAMBUNG.