
Semua informasi tentang Wicaksara Ray Alkatiri sudah diketahui oleh Caterine. Wanita itu mengetahui jika mantan tunangannya sudah berada dinegara yang sama kembali. Dulu dia masih muda hingga mengambil tindakan yang sangat gegabah, dikira lelaki itu adalah anak asisten. Sedangkan lelaki yang dikencaninya adalah sang pemilik tahta Alkatiri. 9 tahun bukan waktu yang hanya sekejap mata, tetapi lelaki itu belum jua menempatkan seorang wanita disisinya.
"Mommy"
Seorang anak 6 tahun masuk kedalam pelukannya ketika Caterine keluar dari mobil. Wajah yang begitu tegas, hidung mancung, berkulit putih lagi mulus juga bibir sensual ya dialah Caterine Limaks wanita kesayangan Diah Inez Rayz ibunda kandung Wicaksara Rayz Alkatiri.
"Aku sudah lapar mommy!"
"Baik lah kita makan dulu, anak kesayangan mommy"
Mereka menuju satu restoran besar dinegara itu, Caterine mulai mencari tempat duduk.
"Ayo kita duduk disini saja"
"Baik lah mommy"
Anak lelaki kecil itu duduk berhadapan dengan mommy nya, Ahaaz Limaks ya itu lah nama lengkap yang diberikan Caterine pada anaknya dengan Arseno Almero.
10 menit kemudian, yang ditunggu Caterine pun muncul dari pintu utama. Tubuh tinggi tegap, wajah yang begitu tampan juga mata itu mata begitu bening sebening embun. Bahkan jati diri Aksara sangat Caterine kagumi.
"Selamat siang pak Aksara"
Ketika Aksara melewati meja Caterine, Aksara menoleh karena ada yang mengenal dirinya. Sedetik kedua pasang bola mata orang itu bertemu, Aksara sesegera mungkin memalingkan wajahnya. Aksara kira koleganya yang tinggal diluar negeri, ternyata memang yang dia cari sudah muncul ke permukaan. Aksara tersenyum smirk, lalu menempati tempat duduk nya.
"Maaf bos"
Ucap Melki.
"Tidak ada yang salah, malah aku sangat tertarik sekali dengan pertempuran ini"
Dino dan Melki saling pandang, kemudian mereka memesan menu makanan kesukaan mereka selama disini.
"Bilang pada Max, aku ingin bertemu sekarang"
"Baik tuan"
Seorang pelayan restoran mewah itu segera pergi melapor pada yang Aksara sebut. Tak berapa lama seorang lelaki gagah, dengan style modis nya menghampiri mereka.
"Kenapa kau datang sekarang? aku sudah ingatkan untuk datang makan siang"
Ucap Max.
"Aku tidak butuh arahan mu!"
"Lalu kau butuh apa?"
"Umumkan hanya orang yang pernah datang bersama ku, yang pantas kalian layani, tidak menuntut nama keluarga mereka"
Max sangat terkejut.
"Apa kau yakin"
"Tentu saja, setelah semu nama keluarga inti ku"
"Baik lah bos, kau yang berkuasa"
Max memanggil seorang pelayan untuk mengumumkan dilayar.
"Baik lah aku mau menghitung laba, jika kau kembali ke posisi mu maka hubungi aku"
Aksara mengibaskan tangannya dengan segera Max pamit undur diri.
"Tester makanan disini masih sama seperti yang dulu"
Dino berucap, namun ketika bocah lelaki 6 tahun itu pergi ke toilet, Dino pun segera beranjak.
"Mau kemana"
Namun Dino menunjukkan jari kelingking nya. Melki tersenyum melihat kelakuan asisten tuannya itu.
Dino mengikuti bocah itu sampai ke toilet lelaki. Dan secara kebetulan lelaki kecil itu sulit merai sabun cuci tangan didekat kran, dengan repleks Dino mengambilkannya.
"Terimakasih paman"
"Sama sama boy, siapa nama mu? kau tampan sekali"
Lelaki kecil itu tersenyum.
"Aku Ahaaz, kata mommy muka ku mirip dengan daddy"
"Berarti kamu anak nya daddy ya, siapa nama daddy mu"
Bocah lelaki itu menggeleng, kemudian menunduk.
"Hanya ada om pemaksa yang selalu menyiksa mommy setiap malam mommy diikat diatas ranjang"
"Kau kenal dengannya"
Bocah lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa bisa menyiksa mommy mu?"
"Aku tidak tahu paman, setiap malam mommy menjerit disiksa paman kejam itu, tapi dia selalu melakukannya setiap malam. Mommy selalu disiksa dibawah tubuh paman kejam itu bahkan sampai mommy dibekap dalam selimut paman kejam itu juga"
Anak itu berkata sambil menitikkan air matanya, Dino menggelengkan kepala nya.
'Dasar otak bocah, tidak tahu orang tuanya sedang apa, malah persepsinya apa, hadeeuuhhh'
Batin Dino menjerit.
"Tapi paman aneh nya mommy tidak meminta tolong kalau sudah dianiaya"
Lanjut bocah 6 tahun itu.
"Heh bocah umur mu berapa?"
"6 tahun"
Tadi sempat menangis sekarang bocah lelaki itu malah tersenyum memamerkan sederetan giginya.
"Jangan ikut campur urusan orang dewasa, kau anak kecil harusnya tugas mu belajar, makan dan tidur"
"Aku tau paman, tapi paman kejam itu pernah membunuh orang yang sudah menolong Ahaaz, juga pernah mengancam orang"
Ungkap nya dengan perasaan menggebu.
Dino mengusap rambut tebal lelaki kecil itu.
"Baik lah aku tahu, siapa nama paman?"
"Dino Margata"
Ucap Dino tersenyum kepada bocah lelaki itu.
"Baik lah salam kenal paman"
Lelaki 9 tahun itu berlari keluar, begitu pun dengan Dino tak lama kemudian.
Melki yang duduk diseberang tidak melihat ada yang mendekat, namun Aksara melihat wanita dewasa itu mendekat.
"Hai boleh aku duduk?"
"Silahkan"
Dengan elegan Caterine duduk diseberang Aksara.
"Apa kabar?"
"Baik"
"Apa ada urusan yang sangat mendadak?"
"Tidak juga, hanya bisnis"
Ucap Aksara, Caterine tersenyum. Tak berapa lama boca lelakinya berhenti di samping nya.
"Mommy kok pindah meja?"
"Mommy menyapa temen mommy"
Ahaaz berbalik matanya langsung menatap pada Aksara.
'Kok om ini mirip aku ya wajahnya?'
Ucap Ahaaz didalam hati.
"Ayo sapa temen mommy juga!"
Ahaaz mengangguk, lalu membungkuk.
"Halo tuan, nama ku Ahaaz Limaks, umur ku 6 tahun"
Aksara mengangguk.
"Salam kenal, aku Wicaksara Rayz Alkatiri"
Aksara menyebutkan nama lengkapnya dan dengan segera Ahaaz mematri nama itu diotak kecilnya.
Bocah lelaki kecil itu maju lalu menjabat tangan Aksara. Aksara juga memperhatikan wajah anak didepannya, begitu mirip lagi itu dirinya sewaktu berusia 6 tahun. Caterine diam diam tersenyum puas, sebentar lagi semua senjatanya akan dia gunakan untuk menarik lelaki dihadapannya takluk seperti 9 tahun lalu.
"Baik lah kalau begitu kami permisi dulu"
"Iya"
"Sampai jumpa paman"
Ucap Ahaaz, Aksara mengangguk. Bocah lelaki itu berlalu dari meja Aksara yang digandeng mommy nya. Baru beberapa langkah bocah itu menoleh, tersenyum juga membarikan lambaian tangan begitu juga Aksara.
"Bos kau menyukainya?"
Ucap Melki.
"Iya karena dia membawa DNA ku"
"Maksud mu?"
Melki terkejut dengan ucapan bos nya.
"Nanti kalian juga akan tahu"
Ucap Aksara kemudian.
"Ternyata lawan ku sangat tangguh kali ini, mungkin akan sedikit lama tinggal disini"
Baik Dino atau pun Melki sama sama menggedigkan bahunya.
Caterine dengan anak tunggalnya itu memasuki parkiran area restoran mewah itu.
"Ayo masuk!"
Dengan segera Ahaaz masuk ke tempat duduk nya, memasang sabuk pengaman sebelum mobil itu melaju.
"Mom"
"Iya"
"Apa orang itu daddy?"
Caterine diam saja, dan itu membuat Ahaaz sangat yakin jika lelaki tampan itu memang sang daddy miliknya.
'Aku sudah menemukan daddy, aku harus mencari alamat rumahnya'
Ucap Ahaaz tersenyum puas. Begitu juga Caterine satu langkah sudah berjalan dengan hasil yang sangat memuaskan. Ibu dan anak itu sudah sampai dikediamannya, terlihat Ahaaz anak itu sangat gembira. Malam harinya Ahaaz membuka laptopnya lalu berselancar didunia maya, guna mencari lelaki dewasa yang begitu mirip dengannya.
Mata Ahaaz membulat sempurna ketika mengetikkan nama lengkap lelaki dewasa yang mirip dengannya itu. Seorang putra mahkota kerajaan bisnis Alkatiri, anak tunggal berusia 30 tahun saat ini dengan status pria single dan masih banyak lagi biodata yang Ahaaz temukan.
'Ternyata dia sangat pupoler'
Ucap Ahaaz dalam hati
'Apa dia daddy ku? tapi tidak ada riwayat pernikahan deng mommy'
Lanjutnya.
Sementara disana seseorang tersenyum, setelah melihat semua biodata pribadi miliknya. Bahkan lelaki dewasa itu sengaja membuka semua data pribadinya hanya untuk seorang bocah yang dijadikan pion supaya dalang nya merasa puas.
BERSAMBUNG.