TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.305


Pagi itu Andreas sudah tiba di bandara di negara Z, karena semalam di hubungi oleh Andra untuk segera sampai di kediaman sang Daddy.


"Selamat pagi yah?"


Andra dengan pakaian kasual nya menyambut Andreas, begitu pun Rei yang pernah menjadi bos nya dahulu.


"Selamat pagi pak"


Sapa Andreas dengan sopan pada Rei, sedangkan Rei tersenyum pada nya.


"Jangan sungkan Ndre, ayo masuk kita sarapan dulu"


Rei menjabat tangan Andreas yang terlihat canggung. Namun Rei segera mencairkan suasana canggung tersebut karena dia sangat menghargai lelaki dihadapan nya. Bagaimana pun lelaki ini sudah menemani putra semata wayang nya meski hanya 2 tahun. Selalu menemani wanita yang Rei cintai hingga mengorbankan masa muda nya.


Di meja makan sudah terhidang berbagai makanan khas dari beberapa negara.


"Pantas kau betah disini Vin?"


Canda Andreas.


Andra hanya tersenyum, lantas tak berapa lama kemudian ada wanita belia yang begitu cantik.


"Apa dia menantu ku?"


Andra tersenyum.


"Sini sayang, kenalkan ini ayah Andreas"


Dengan senang Rindi salim dengan lelaki sebaya paman nya itu.


"Arin, ayah"


"Menantu ku sangat cantik, maaf"


Andreas tidak enak berkata demikian karena ada Rei, bagaimana pun Rei adalah ayah kandung dari Andra itu.


"Pantas saja 5 tahun galau"


Lirih Andreas.


Namun mereka kini memulai sarapan nya dengan lezat, semua berkumpul dengan sarapan pagi di rumah Daddy Rei. Kini mereka sedang berbicara di ruang tamu.


"Jadi bagaimana?"


Ucap ayah Andreas.


Novan dan Anita maju lantas menceritakan kronologi nya atas kondisi ruang kerja Elian.


"Itu agak berbahaya, apa lagi kulit Novan yang sering masuk ke sana terkena dampak obat pelebur itu"


Semua mengangguk akan ucapan ayah Andreas baik Daddy Rei, paman Rindi, Roy, Novan, Anita, Rindi dan Andra. Sementara semua keluarga Alkatiri sudah dipulangkan ke mansion kakek Wicaksara.


"Jadi bagaimana menurut ayah?"


Ucap Andra meminta pendapat ayah Andreas.


"Lagi pula kita tidak dapat merobohkan ruang kerja Elian itu, secara itu akan membuat penghuni rumah lain akan heran atau curiga"


Semua orang mengangguk.


"Benar juga"


Ucap paman Rindi.


"Bagaimana jika kita meneliti ruangan kerja itu sebelum membuka ruangan penyimpanan jadi kita bisa menemukan sesuatu atau apa pun yang berhubungan dengan obat itu"


Ucap Novan tiba-tiba.


"Apa tidak bisa kita hubungi orang yang membuat nya agar tahu kelemahan nya?"


Ucap ayah Andreas.


"Jelas tidak bisa yah, mereka yang sudah membuat kita celaka, kalau diberi kemudahan justru akan semakin membuat kita dalam masalah"


Andra menjawab nya segera.


"Iya sih"


Ayah Andreas nampak berpikir.


"Ya sudah kalau begitu kita ke ruangan itu dulu, lalu setelah melihat kondisi sebenar nya maka kita akan bisa menyimpulkan masuk ke ruangan itu tanpa ada korban atau luka-luka"


Imbuh nya.


Mereka mengangguk setuju, pihak dokter sebagian masuk di komandoi oleh Anita dan Novan. Tak berapa lama mereka sampai, begitu pun cctv pemantau yang langsung diaktifkan oleh pemantau juga.


Novan dan tim dokter mencari dengan kamera yang mereka bawa itu. Lantas mereka mengitari seluruh ruangan sebelum menuju ruang bawah tanah.


"Novan coba kau lihat sebelah atas kepala mu di lampu itu ada apa?"


"Sebentar bos"


Novan menaiki tangga dan dua orang dokter yang ahli analisis mengawasi dan memperhatikan bentuk lampu itu.


"Ini adalah wadah zat yang membuat pembusukan ke kulit, ini juga ada porsi yang harus di keluarkan setiap hari nya zat itu melalui pemanas lampu nya"


Novan nampak kaget.


"Lantas apa bisa kita mematikan nya dokter?"


"Jangan dimatikan, tapi di cari kontrol yang langsung ke sumber obat sehingga bisa di hentikan"


"Baik dokter"


Mereka mencari sampai 15 menit dimana kontak nya, hingga mereka menemukan selang yang terhubung ke bawah lantai.


BUAKKK.....


Salah satu ubin terbuka, disana terdapat banyak obat untuk membuat penyusup membusuk setelah keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana ini dokter?"


"Saya akan menghentikan laju obat ini"


"Baik"


Sementara dokter mengerjakan Novan mencari kembali obat-obatan untuk penyakit koma tersebut karena di dalam hanya ada beberapa botol.


"Sudah"


Novan menengok melihat kearah dokter itu yang telah selesai dengan misi nya.


"Apa bisa di buka sekarang dok?"


"Bisa"


Dokter tadi membuka nya perlahan, benar udara di lantai bawah itu sudah tidak terpapar obat yang dapat membusukkan kulit lagi.


Mereka masuk ke dalam lantai bawah tanah itu untuk membongkar tabung yang berisi gadis yang sudah 30 tahun Aditya sembunyikan itu. Para dokter ahli membongkar nya dan memindahkan tubuh gadis itu yang masih segar selama 30 menit. Setelah nya mereka juga membawa obat rahasia yang sudah hampir punah itu untuk di bawa ke negara A agar bisa menyembuhkan mommy dari Andra itu.


"Tugas kita berhasil tuan"


Terang dokter itu pada Andreas yang menunggu mereka dengan cemas.


"Bagus lah kalau begitu"


Mereka mengangguk permisi pada Andreas dan menunggu lelaki itu untuk segera menyusul mereka. Sementara Andra masih berbicara pada Bu Amelia yang sudah dia temukan kemaren sore.


"Ibu pergi berobat ya Bu"


Ibu Amelia hanya tersenyum saja, meski otak nya terganggu namun dia jelas mengenali anak lelaki yang dia temukan itu.


"Andra kau Andra anak ibu, kau sudah besar nak"


"Iya, ibu berobat ya"


Lirih Andra kepada ibu Amelia.


Ibu Amelia hanya mengangguk pasrah, ini untuk kebaikan nya. Dia juga ingin sembuh meski bukan untuk putri kandung nya, setidak nya ada Andra yang selalu menyayangi nya.


"Nanti Andra akan mengunjungi ibu, jangan khawatir nya, lihat Andra sudah menikah"


Tangan Andra menuntun Rindi untuk berkenalan dengan Ibu Amelia.


"Cantik sekali....."


Ibu Amelia mengelus kepala Rindi yang lebih tinggi dari diri nya.


"Aku Arindi Bu"


"Nama yang cantik, ibu titip Andra ya nak, ibu ingin sembuh"


Lirih nya meneteskan bulir bening di kedua mata nya yang sudah penuh dengan keriput.


"Iya, ibu harus sehat dan segera berkumpul dengan kami"


Ibu Amelia mengangguk lantas naik kedalam mobil. Sementara Andra sudah mendekat kedalam kotak seperti peti mati dimana disana terdapat tubuh kakak angkat nya, Alesa. Ya tubuh yang ingin Andra selamatkan mati-matian adalah milik kakak angkat yang sangat menyayangi nya.


"Kakak, cepat sembuh, Andra menunggu mu"


Lirih Andra, entah suatu keajaiban atau apa pun, bahkan tak ada yang tahu jika respon Alesa sampai menggerakkan jari nya itu.


"Sudah, ayah akan menjaga mereka disana"


Andreas memberi semangat pada Andra lelaki kecil kesayangan nya itu.


BERSAMBUNG.