TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.122


Mobil yang dikendarai Ravenda melesat menuju perumahan yang masih terbilang megah. Namun sejak dari pusat pertokoan itu Rei hanya diam saja tidak seperti biasa nya.


"Rei ada apa?"


Aryos terlihat menunduk bagaimana pun itu juga salah nya sudah menyinggung keluarga Sanunjaya.


"Apa kau kepikiran bocah Sanunjaya itu?"


Aryos menimpali.


"Bukan"


"Lantas?"


Baik Aryos atau Ravenda khawatir kalau-kalau teman mereka yang satu ini memikirkan hal yang aneh.


"Bukan apa pun, tidak usah khawatir"


Mobil sampai di depan gerbang rumah megah milik kakek Aryandy.


"Rumah mu sangat megah kawan"


"Mampir lah, lain kali"


Ravenda dan Aryos melambaikan tangan dan kembali melaju pulang.


Didalam rumah pria berjubah sudah mendengar jika pembukaan butik internasional itu milik keluarga Alkatiri. Sang kakek juga menunggu kepulangan Rei.


"Sudah pulang?"


"Sudah kek, selamat malam paman"


Ada yang aneh dengan sikap bocah lelaki kecil itu.


"Besok kita harus latihan sudah beberapa Minggu kau tidak ada latihan fisik"


Ucap kakek pada Rei mewakili paman nya.


"Baik"


Rei langsung naik keatas, merebahkan diri nya. Entah lah ada rasa gelisah, senang bahkan rasa tak tergambarkan muncul ketika menatap lelaki yang beberapa Minggu lalu dompet nya selamatkan.


"Bangun!"


Rei baru berpejam beberapa detik sudah di bangunkan kakek nya, sementara paman nya sudah menunggu di arena latihan.


"Sudah pagi cepat bangun!"


"Baik, aku ganti pakaian dulu"


Rei meneguk air mineral, lalu turun ke samping rumah. Disana ada arena bertarung terpisah dari rumah, tempat latihan khusus seperti di desa dulu. Beberapa kali Rei melakukan pemanasan, lalu mencoba teknik bertarung yang baru.


"Fokus, kau tidak fokus hari ini"


Ucap sang kakek mengawasi. Nenek memperhatikan ketiga orang lelaki itu.


"Apa yang mereka lakukan di hari libur ini?"


Nenek kembali ke dapur setelah menyajikan teh hangat, memasak makanan kesukaan si kakek dan cucu nya itu.


"Ada apa?"


Rei menoleh kepada sang paman, akhir nya setelah belasan tahun bersama baru kali ini paman bicara langsung pada nya.


"Rei juga tidak tahu paman, semalam Rei bentrok dengan Hardan Sanunjaya"


"Lalu"


"Ada keponakan dari pemilik butik yang menghadang dan melerai kami, karena akan mengenai anak perempuan dari pemilik butik itu"


"Siapa pemilik butik itu?"


"Nyonya Amara Tithania Arcinta Alkatiri"


"Oh, apa megah?"


"Benar, bahkan seluruh keluarga nya hadir disana"


"Lalu kenapa kau uring-uringan?"


"Rei pernah 3 Minggu lalu menyelamatkan lelaki paruh baya suami dari pemilik butik itu"


Pria berjubah itu melirik lelaki kecil yang penuh keringat di samping nya itu.


'Secepat ini kau sudah bertemu kembali dengan mereka, takdir memang sangat cepat'


Gumam pria berjubah dalam hati.


"Ayo sarapan dulu"


Sang nenek datang.


Terlihat ubi rebus, singkong rebus, pisang goreng, ubi goreng, singkong goreng juga. Mereka sedang asik berkumpul di arena latihan.


Mereka terkejut karena lelaki muda yang masuk itu.


"Rei, dia teman mu?"


"Benar, Rav kau kenapa disini?"


"Tentu aku mencari mu, kalian sedang apa di rerumputan ini?"


"Ini arena latihan fisik ku"


"Hah, latihan fisik apa maksud mu?"


"Latihan bela diri"


"Benar kah? apa aku boleh ikut dan dia"


Ravenda menunjuk pada Aryos yang membawa jus mangga dan susu.


"Kenapa kau menunjuk ku bos"


Aryos yang tak tahu apa pun bertanya.


"Kita akan belajar beladiri sama seperti Rei"


"Wah aku ikut Rei"


Mereka semua saling pandang dan kakek mengangguk.


"Tapi ingat jangan bocorkan latihan kalian"


"Baik kakek Aryandy"


"Panggil kakek saja"


Pria berjubah memberikan teknik dasar pelatihan yaitu pemanasan. Mengukur fisik mereka untuk menerima latihan selanjut nya.


Di rumah megah Alkatiri semua makan bersama, semua berjumlah 14 orang.


"Riana suka seperti ini mah"


Sambil menyuapkan pancake ke mulut nya.


"Memang suka apa?"


"Suka makan dengan komplit begini"


Anak yang sementara bungsu itu tersenyum, semua gen Alkatiri baik Dimitri sangat cantik dan tampan. Damian duduk berhadapan dengan Rieka, sementara Saluna berhadapan dengan Raksa.


"Rieka tidak sarapan?"


Damian memulai percakapan.


"Ini kan aku sarapan"


"Kak Damian jangan kaget, kak Rieka memang seperti itu sarapan nya, dia model internasional"


"Oh"


Mereka lanjut sarapan lagi.


"Papah, kita liburan yuk?"


"Papah harus kerja, ada urusan"


Sahut mamah Cinta.


"Kan Riana tanya papah, mah!"


Cinta memandang Aksara.


"Memang mau liburan kemana?"


"Beach"


"Apa tidak bosan?"


Sahut Indri.


"Memang kenapa?"


"Sudah jangan bertengkar, papah sudah booking tempat yang kalian inginkan"


"Horeee, papah emang the best"


"Dasar watak bocil"


Ketiga nya kompak mengatai Riana, sedangkan Saluna yang seumuran Raksa dan Rieka hanya tersenyum lain hal nya Damian hanya geleng kepala saja.


BERSAMBUNG.