
BUUKKK.........
Rei membanting tubuh langsing Min ke ranjang besar nan empuk nya, memang tidak di lantai namun Min merasakan nyeri juga meski diatas ranjang. Posisi Min sekarang telentang, karen nyeri akibat bantingan itu terdiam dengan posisi tersebut.
Rei menatap tajam tubuh mungil yang sedang terasa nyeri itu, dia juga tahu bantingan nya mematikan maka nya Rei membanting gadis itu di ranjang tidak di lantai.
"Kenapa? apakah sakit?"
Min menggeleng perlahan, dia bangkit dengan segera meski nyeri di sekujur bagian belakang tubuh nya.
Rei sudah menarik sabuk celana nya, Min kaget. Rei tahu gadis itu waspada, gadis itu cukup mengerti akan situasi.
"Takut?"
Min menundukkan kepala nya, meski tak paham dengan salah nya itu namun dia tetap diam.
"Berbalik lah"
Min segera berbalik memunggungi Rei dengan patuh nya, segala takdir nya malam ini sudah dia serahkan pada lelaki itu.
CETAAASSS......CETAASSS.....
Sabuk celana Rei mendarat di permukaan kulit Min dengan mulus tujuh kali hingga semua punggung gadis itu memar bahkan memerah.
'Sakit sekali mah'
Gumam Min.
"Bagaimana rasa nya? enak?"
Rei menyeringai pada badan langsing yang gemetar, dia mengira gadis itu menangis.
"Baru tujuh cambukan saja sudah menangis? ini sabuk celana bukan cambuk kuda"
Min terdiam, dia mencoba tidak mengeluarkan air mata.
"Itu hukuman untuk orang yang membantah, berkata tidak sesuai keinginan ku"
Ucap Rei, lantas lelaki tinggi jangkung nan tampan itu keluar dari kamar nya. Dia bergegas kebawah untuk memerintah Annete untuk mengobati istri nya.
"Annet!"
Wanita paruh baya itu keluar dari dapur.
"Saya tuan"
"Bantu nyonya mengobati luka-luka karena ranjang roboh di punggung nya"
"Baik tuan"
Annete segera bergegas ke lantai atas, sedangkan Rei pergi ke resort untuk mengerjakan pekerjaan nya.
Tok...tok.
Annete mengetuk pintu beberapa lama.
Klek.
Pintu terbuka menampilkan gadis belia yang tersenyum dengan cantik.
"Nyonya mari saya obati luka nyonya, kata tuan nyonya jatuh diatas ranjang roboh"
Min berpikir sejenak.
"Ah, ohh tidak perlu bibi Annete ini hanya goresan kecil sudah di plester"
"Benar kah?"
"Benar tidak perlu di besar-besarkan, bilang pada tuan jika dia bertanya bibi sudah mengobati saya sampai sembuh ya"
"Oh baik nyonya"
Klek.
Min segera kembali, luka nya terasa perih setelah diberi antiseptik. Min mengoleskan dengan tangan dari balon anti septik itu, tangan itu buatan yang sempat dia beli ketika masih ada di kampus. Dia gerakkan perlahan mengoles anti septik lalu mengoles salep anti luka setelah nya menyetel kipas angin agar mempercepat pengeringan lalu membalut nya dan memakai pakaian tebal supaya tidak ada yang tahu tentang luka nya.
Min berbaring di sofa dengan tengkurap setelah merapihkan ranjang tempat tidur Rei, karena kemungkinan lelaki itu akan pulang saat dia tidur.
Min pergi ke balkon untuk perban luka nya sangat tebal dan kencang jadi tidak terkena angin.
'Aku salah berbicara kali ini yang menyinggung perasaan nya, mungkin diam akan lebih baik'
Gumam Min dalam hati, gadis polos itu berpikir bahwa diri nya yang bersalah karena sudah menyinggung perasaan Rei.
"Sebaik nya aku tidur"
Min sudah meminum obat sesuai anjuran dokter online yang dia hubungi. Agar saat tidur tidak demam karena luka kecil itu.
"Nyonya mau bekerja?"
"Iya paman James"
"Tuan sudah pergi 30.menit yang lalu"
"Baik lah"
Min melahap nasi goreng dan membawa bekal untuk di kantor 2 porsi beberapa minuman dan camilan juga.
Min segera pergi ke garasi berniat untuk menaiki motor nya.
"Nyonya"
Paman James sudah berdiri di samping nya.
"Tuan berpesan nyonya tidak boleh menggunakan sepeda motor lagi"
"Oh baik lah"
Min segera berjalan keluar gerbang untuk mencari ojek keluar dari villa lalu menuju halte bus. Jam kerja nya masih 1 jam lagi, jadi masih keburu, untung nya bus terakhir baru sampai jadi bisa langsung naik.
"Loh, baru datang?"
"Iya bu"
ketua tim divisi nya menyapa di lobi kantor.
"Kamu masuk duluan ya, saya ada menunggu seseorang"
"Baik bu"
Min dengan cekatan mengerjakan tugas nya, meski kadang ada rasa sakit di punggung nya dia menahan dengan kuat dan tetap semangat.
"Min, kau bekerja hari ini?"
Min mengangguk tersenyum, Elian menyeringai. Gadis itu pasti sedang kesakitan karena di cabuk oleh Rei, Elian secara tak sengaja melihat mereka kembali larut malam, semalam. Elian bukan gadis bodoh, dia khusus menyewa mata-mata untuk memata-matai Rei dan istri belia nya itu. Elian sangat kesal ketika diri nya tahu, jika Rei makan malam bersama kelurga mengajak gadis desa itu.
"Rasakan lah, aku hanya tinggal membumbui saja kan!"
Ucap Elian sambil berlalu, dia selalu memasang tampang imut pada Rei berharap lelaki matang nan rupawan dan kaya raya itu mau memperistri nya.
Rei tidak memperhatikan jika Min datang ke kantor, dia menduga pasti gadis itu sedang tertidur manja di ranjang empuk nya.
"Tuan ini sudah saat nya jam pulang kerja!"
Aryos masuk ke ruang kerja tuan muda nya.
"Benar, sudah waktu nya"
Rei tak seperti biasa nya yang menunda waktu pulang kerja nya, hari ini lelaki matang itu bergegas menuju parkiran mobil untuk pulang.
"Pulang lah, seperti nya hari akan hujan deras, aku akan pulang ke rumah sendirian saja"
"Baik tuan"
Aryos segera menaiki moge nya untuk menuju apartment nya.
1 jam sebelum jam kerja berakhir, Elian mendatangi meja kerja milik Min.
"Min"
"Iya Bu"
"Ini ada tugas tambahan hanya sedikit kok, bisa tidak"
"Bisa bu"
"Terimakasih ya, saya ada meeting penting dengan klien sore ini"
"Iya Bu, hati-hati di jalan"
Elian segera pergi menuju ruang kerja nya dan bergegas keluar. Elian tersenyum miring bumbu yang ingin dia tambahkan sudah di tambahkan.
Tadi pagi ketika Elian joging tak sengaja mendengar Rei berbicara pada Aryos, dia mengatakan jika istri nya sakit dan terluka di punggung jadi dia menyuruh paman James untuk menyampaikan pada wanita itu untuk istirahat. Lelaki idaman Elian itu sangat sibuk hingga tak memperhatikan sekitar saat gadis itu masuk kantor.
Rei sampai di villa, setelah 10 menit berlalu, kini hujan mulai mengguyur bumi. Rei masuk dengan sedikit berlari, terlihat langit yang gelap menandakan jika hujan turun lebat sementara tak ada tanda untuk berhenti. Apa lagi villa nya yang berada di puncak menanjak pasti jalanan licin dan tak ada kendaraan yang mau melalui nya.
"Akhir nya sampai di villa, untuk saja tidak terlambat, sedikit ngebut juga"
Ucap Rei dengan hati tenang.
BERSAMBUNG.