
Tok...tok.
Pintu depan rumah sederhana diketuk tepat saat Cinta hendak berangkat menuju kantor tempat dia bekerja.
"Siapa? apa hubby sudah pulang?"
Monolog Cinta sambil berpikir.
"Sudah lah ku buka kan saja"
Lanjut nya.
Sambil membawa tas nya, Cinta bergegas ke pintu depan.
Klek.
Cinta begitu terkejut, begitu pun lelaki paruh baya yang berdiri di depan pintu rumah yang dia huni itu.
'Ini papah Alan Dimitri, mertua kak Rista, ada apa ya?'
Monolog Cinta dalam hati.
Lelaki perih baya itu tersenyum, lantas menarik tangan Cinta.
"Masuk lah dulu nak, nanti dijalan kita bicarakan!"
"Baik tuan"
Mobil papah Alan segera melaju menuju jalanan, mereka juga menggunakan jalanan tikus menuju hotel.
"Maaf tuan kalian ini siapa ya?"
"Aku adalah suami dari adik Daddy nya suami mu nak!"
Cinta segera mengangguk.
"Suami mu dalam bahaya, maka nya papah menjemput mu untuk menemui nya"
"Baik"
"Kita akan segera sampai sebentar lagi"
"Baik"
Sebelum sampai di hotel, papah Alan juga menceritakan kronologi keadaan Aksara yang sebenar nya. Cinta hanya terdiam, mendengarkan dengan seksama cerita dari papah Alan. Karena Cinta sudah tidak bisa berkomunikasi dengan orang yang sama dengan dalang itu.
'Apa mungkin byy di jebak oleh dia?'
Cinta nampak berpikir.
"Ada apa?"
Cinta segera menggelengkan kepalanya karena tidak ingin membuat papah Alan cemas.
"Kita akan segera sampai dengan aman kamu tenang saja!"
Dengan yakin papah Alan menguatkan Cinta.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Kita tidak bisa masuk lewat jalan depan juga parkiran"
Jawab si pengawal pribadi milik papah Alan.
"Lalu bagaimana cara nya?"
"Saya sudah menghubungi tuan besar sebentar lagi ada rombongan dokter masuk hotel"
"Kita sebagai asisten dokter dan nona sebagai orang sakit, silahkan ganti baju kalian"
"Apa kau sudah gila!"
"Tidak ada cara lain lagi tuan"
"Baik lah aku ganti di depan turunkan kursi nya"
Untung mereka membawa mobil keluarga sehingga dan memudahkan Cinta berganti baju dengan pakaian pasien. Benar saja 10 menit kemudian para iring-iringan dokter datang menghampiri mereka lantas mereka semua turun. Cinta duduk di kursi roda, dan ada 10orang pasien dengan luka bakar yang parah. Ada beberapa orang yang bahkan begitu mencolok memperhatikan mereka, namun mereka menaiki lift biasa yang digunakan orang-orang.
Beberapa orang berbisik, mengatakan jijik bahkan ada yang mual karena bau di badan Cinta.
mereka hanya sampai lantai 24 dengan segera memasuki salah satu kamar milik Dino yang tepat berada di bawah penta house milik Aksara.
"Cepat kau naik lah sendiri"
"Baik"
Dengan hati-hati Cinta menaiki tangga bahkan tanpa suara. Cinta langsung menempelkan muka nya pada scanner penta house di pintu masuk.
"Nona Indy"
Terlihat 2 orang paruh baya mereka orang tua Aksara juga beberapa puluh pelayan juga dokter yang sudah ada disana.
"Kemarilah"
Cinta segera mendekat pada dokter yang memanggilnya, lantas juga menceritakan kondisi detail Aksara 0tentang keadaan nya. Aksara hanya telentang dengan keringat mengucur dan mata yang sudah berkabut. Cinta hanya memandang suami nya yang tidak berdaya, air mata nya tiba-tiba meleleh dan itu tak luput dari perhatian Daddy Ditya.
"Kami mohon bantuan mu nak?"
Sang Daddy berbicara dengan lirih.
"Dia sangat kesakitan sedari tadi malam"
Imbuh sang mommy.
Cinta terdiam, menunduk, sungguh sakit juga perih hati Cinta melihat lelaki tercinta nya segera meregang nyawa dihadapannya dengan obat keparat yang Karenina berikan.
"Jangan lakukan Indy, pulang lah, aku.....aku sakit....."
Suara Aksara sangat lemah.
"Apa yang harus Indy lakukan dokter"
"Kalian harus melakukan hubungan suami istri itu saja, tapi mungkin porsinya tidak seperti pada umum nya, mungkin juga akan membuat mu pingsan karena efek obat itu"
"Saya bersedia dok"
"Efek lainnya yaitu kau akan segera mengandung beberapa janin"
"Baik"
Kedua orang tua Aksara saling pandang, Daddy Ditya melihat ada gelagat lain dari gadis itu, entah mengapa seperti akrab saja.
"Baik kami akan berjaga penuh, kamar ini kedap suara juga"
Cinta mengangguk, mereka berlalu pergi lantas berjaga didepan meninggalkan Aksara n Cinta.
Cinta meraba tubuh Aksara yang sudah lunglai.
"Jangan Indy, kau akan menyesal!"
Cinta menggeleng, lantas membuka baju juga semua pakaiannya. Tanpa menunggu lagi, Aksara sudah menindih tubuh langsing itu, memulai pergulatan panjang berkali-kali bahkan sudah 3 jam namun belum juga disudahi.
Hingga menjelang sore hari baru lah Aksara menyelesaikan kegiatannya, Cinta hanya terdiam ketika Aksara berguling ke samping tubuhnya. Cinta memiringkan tubuh nya memunggungi Aksara lantas terlelap untuk tidur.
BERSAMBUNG.