
Pesta meriah telah usai, perlahan para tamu pulang satu persatu.
"Tuan muda, kamar milik anda di lantai atas sudah dibersihkan"
"Baik lah"
Andra segera masuk di dorong oleh Roy, mereka memasuki lift khusus yang hanya di peruntukkan Andra dan orang-orang kepercayaan nya.
"Selamat malam nak"
Ketika Andra masuk ke rumah megah milik Daddy nya itu.
"Selamat malam Tante"
Kemudian Andra masuk ke lift, disana juga ada Aditya dan Camelia namun tidak menyapa nya. Andra juga tidak menghiraukan itu.
"Tuan silahkan beristirahat, saya ada di sebelah kamar anda"
"Iya"
Andra segera mengunci kamar nya, dia bergegas untuk melakukan kursi roda nya ke kamar mandi sekaligus membawa baju ganti nya.
Andra selesai membersihkan tubuh nya, mengganti pakaian nya, dia membuka balkon. Angin dingin menusuk tulang nya namun itu semua sudah terbiasa, dia keluar ingin menatap langit yang hitam di malam hari. Andra masih ingat hari ini tepat nya hari apa?.
Flashback on.
30 tahun Andra adalah anak balita yang berusia 2 tahun, dia bernama Arvino Zakuta Mid. Nama itu diberikan oleh sang mommy yang sudah bersusah payah mengandung dan melahirkan nya Jasmina Melodia Sanunjaya adalah nama ibu kandung nya.
Namun saat itu orang-orang selalu memanggil nya Cate Mid, Mid adalah nama keluarga milik Opa nya di negara A.
Awal nya hidup Andra sangat bahagia karena tak kekurangan apa pun, sebelum akhir nya dia ikut seorang lelaki yang biasa dia panggil ayah Andreas untuk berbisnis. Karena sang mommy berprofesi sebagai model internasional, masih ingat Andra saat dia dibawa mommy nya naik ke catwalk.
Sekarang dengan perlahan, Andra mengingat semua ingatan masa kecil nya, sejak diri nya berusia 27 tahun Andra pernah terbentur karena sedikit ban mobil nya oleng. Mulai dari itu lah Andra mengingat masa kecil yang bahagia bersama sang mommy.
Andari 30 tahun lalu Andra tidak memaksa ingin bertemu mommy nya, tak mungkin Andra kehilangan mommy nya saat itu.
Mommy berkata jika mereka akan kembali sore itu dengan menaiki taksi dan membawa data diri nya saja, namun ketika hendak sampai di bandara dari pertigaan itu ada mobil yang dengan sengaja menabrakkan mereka ke pembatas jalan, hingga mommy nya melemparkan diri nya dari kaca jendela taksi.
DDUUAARR.........
Jelas api itu sangat besar, samar-samar Andra yang berusia 2 tahun sedikit membuka mata nya sebelum pingsan karena terlempar dari kaca taksi yang mommy dan diri nya naiki untuk pergi ke bandara. Andra ingin memanggil sang mommy namun suara nya tidak bisa keluar, hanya air mata yang keluar dari dua kelopak mata nya sebelum dia pingsan.
Andra hanya tahu jika mobil itu meledak, namun dia tidak pernah tahu jika dia memiliki seorang Daddy kandung. Daddy kandung nya lah yang menyelamatkan sang mommy meski harus koma selama 6 bulan.
Rei sudah mencari anak tunggal nya siang dan malam tanpa henti. Sementara dia harus merelakan Min di jemput keluarga kandung nya ke negara A. Demi kesembuhan istri pertama nya Rei rela berpisah, namun entah bagaimana terapi itu berlangsung, karena Rei selalu dihalangi jika ingin bertemu istri yang sangat di cintai.
Andra atau Arvino bocah kecil 2 tahun itu luput dari perhatian, lantas hujan besar mengguyur negara Z rupa nya negara Z berduka atas pergi nya wanita yang baik hati itu. Andra serasa hangat, entah berapa hari dia tertidur dengan lelap.
"Bagaimana Bu, adik kecil ku?"
Seorang gadis kecil berusia 7 tahunan itu bersuara, Andra sudah bisa mendengar.
"Demam nya sudah turun, dia sedang tertidur, jangan mengganggu nya dari kemarin kau selalu menciumi nya"
"He...he...he"
"Kau ini, kalau dia tidak mau kakak seperti mu bagaimana?"
Rupa nya Andra diselamatkan oleh sepasang anak perempuan dan ibu nya, entah bagaimana mereka menemukan diri nya.
Serasa aman Andra membuka mata nya, sang ibu duluan yang melihat anak kecil itu membuka mata nya.
"Sudah bangun, ganteng?"
Suara nya lembut, meski penampilan mereka biasa saja, Andra menggeliat lalu sebisa nya tersenyum.
"Wah, adek sudah sadar ibu"
Gadis kecil yang lebih besar tinggi nya dari Andra berlari menghampiri nya. Ibu Amelia dan putri tunggal nya Saputri Alesa itu merawat luka-luka Andra hingga sembuh.
"Dek, siap nama mu?"
"Avin"
"Bu kok dia menyebut diri nya Avin"
"Kita beri dia nama saja Bu"
"Jangan ngaco, nanti kalau ditemukan keluarga bagaimana?"
"Ya tidak apa-apa kan?"
"Kita beruntung menemukan di semak-semak kota, kalau tidak dia bisa meninggal malam itu"
"Iya Avin anak siapa ya Bu?"
"Ibu juga tidak tahu, tidak ada yang mencari diri nya selama ini"
Kedua ibu dan anak itu tidak pernah tahu siapa sebenar nya Andra mereka hanya menganggap Andra adalah ank yang malang saja yang kebetulan mereka temukan.
"Kita namai yang bagus saja Bu?"
"Ya sudah namakan saja"
"Arviandra Excel Pratama"
"Kenapa harus ada Pratama nya?"
"Karena dia lelaki satu-satu nya di keluarga kita"
Ibu Amelia tertawa mendengar alasan anak cantik nya.
"Apa kau dengar dek, itu nama mu"
"Hore....."
"Kau di panggil Andra, kau lelaki tampan"
"Yee....!"
Anak lelaki kecil itu bertepuk tangan dengan senang, sementara ibu Amelia hanya menggelengkan kepala nya saja, anak perempuan nya sangat menyayangi adik lelaki nya itu.
Berhari-hari hingga berganti bulan tidak ada berita apa pun, hingga ibu Amelia memutuskan jika Andra adalah anak lelaki kandung nya.
"Dek, kakak mau jualan es lilin dulu ya"
Mereka sangat miskin, jadi ibu Amelia adalah buru gosok dan anak gadis nya mencari kerja serabutan. Meski pun begitu ibu Amelia sudah melarang anak nya menjual es lilin namun gadis kecil itu tetap mau berjualan.
"Ikut!"
"Jangan adek di rumah saja"
Andra memelas pada gadis kecil kakak nya itu.
"Baik lah, kamu pakai kaos saja, buat menutupi kepala"
Alesa segera membuat simpul dari kaos, memakaikan nya pada Andra hingga terlihat seperti ninja cilik.
Mereka berangkat untuk menjual es lilin di jalanan, kalau ada lampu merah mereka bergegas menjual.
Andra melihat penjual yang berteriak, menawarkan dan menjajakan barang dagangan mereka dengan ucapan yang enak di dengar sehingga pembeli mau membeli dagangan pedagang itu. Andra pun mencoba nya.
"Ayo es lilin enak, manis, istimewa dan segar di hari panas!"
Andra dengan suara cempreng nya berteriak demikian. Dan benar saja beberapa pembeli pun penasaran dan membeli es lilin nya. Alesa tersenyum karena dagangan adik nya laku hampir semua ditangan Andra habis.
"Kau hebat, hari ini masih sore tapi es lilin kita sudah habis dek"
"Tentu saja Andra pintar"
"Ayo kita pulang, kita untung banyak nih"
Mereka mengembalikan wadah es lilin besar yang mereka jinjing bersama. Lalu pulang dengan menerima upah sekitar lima belas ribu dari penjual es lilin.
Flashback off.
BERSAMBUNG.