TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.250


Di kediaman Mukti, Afar dan Melina merasa sangat bahagia karena hari ini pasti kucuran dana seperti air mengalir ke rekening mereka.


"Pah, kira-kira berapa uang yang akan kita dapat ya?"


"Nanti kita lihat mah"


"Mamah pengen menghitung nol nya"


Pagi hari mereka di meja sarapan untuk menikmati sarapan lezat mereka.


"Mamah sudah tidak sabar untuk belanja pah"


"Jangan boros mah, kita gulirkan ke perusahaan papah dulu setelah itu baru mamah nikmati hasil nya"


Tak...tak...tak.


Suara hills menghentak di lantai dengan anggun nya.


"Kalian sangat senang memang sedang berbicara apa?"


"Tentu saja kucuran uang dari keluarga Braja"


Sahut sang mamah dengan senyum sumringah.


"Tapi sudah siang kok Arin belum pulang?"


"Mungkin tuan muda Bayu menyayangi nya, siapa tahu diajak makan dulu atau di beri kasih sayang dulu"


"Hah! apa seramah itu"


"Apa maksud mu Lisa?"


Suara Afar meninggi.


"Tidak ada"


Afar mengerutkan kening nya.


"Bayu hanya mengajak Arin makan malam romantis apa nya yang seramah itu, jelaskan kata-kata mu itu"


"Tidak ada pah"


"Ada-ada saja"


Afar membanting koran lalu bergegas ke kantor.


"Bagaimana kalau papah mu tahu?"


"Kan cuma semalam mah, tidak mungkin juga Arin hamil, aku akan berikan obat aborsi di makanan nya sehingga bibit janin terkutuk milik Bayu hancur"


"Kau mencintai Bayu, tapi kau menyuruh adik tiri mu mendatangi nya"


"Hidup ku hancur, maka hidup Arin juga tidak boleh bahagia"


"Baik lah, cepat lah bekerja, jangan sampai ayah mu tahu apa pun"


"Beres mah, hari ini aku ingin menemui pembisnis kakap mah, sudah lama aku mengincar nya"


"Apa dia tampan?"


"Tentu saja, meski pun lumpuh dan gagap tapi uang nya tidak gagap"


Ibu dan anak itu tertawa terbahak, Lisa segera berangkat ke kantor perusahaan yang akan menjadi rekan bisnis nya.


Andra seharian berkutat dengan dokumen, Rindi pun bosan.


"Ada apa? apa kau mau pulang?"


"Aku tidak mau pulang"


"Aku akan mengantar mu malam ini"


"Tapi......."


"Aku akan memastikan nya tidak akan ada orang yang menindas ku nanti"


Rindi terdiam ketika itu dia tidak tahu harus bagaimana untuk menempuh jalan pulang itu.


"Aku lapar, apa aku boleh memasak?"


"Sebentar"


Andra memanggil sekertaris wanita nya.


"Anita temani nona berbelanja dia ingin memasak"


"Baik tuan"


"Silahkan nona"


Rindi masih terdiam, Andra menatap gadis itu yang terlihat takut.


"Tenang saja dia bisa segala nya, jangan khawatir Anita bisa melawan lima lelaki kemaren malam"


Rindi tersenyum lalu mengangguk.


"Baik lah, aku pergi belanja dulu ya"


Rindi menaiki mobil yang Anita supir, lalu tiba di mall yang besar.


"Apa tidak ada pasar Anita?"


"Pasar terlalu jauh dan kondisi nya agak ke pelosok, tidak leluasa dan banyak pencopet, disini adalah mall milik tuan Rei"


"Oh, baik lah"


Rindi yang tidak tahu apa pun dia segera pergi untuk membeli kebutuhan yang dia butuhkan.


"Anita aku mau ke toilet sebentar"


"Baik lah saya berjaga disini nona, akan ada pengawal yang mengikuti anda"


Dengan bergegas Rindu pergi ke toilet wanita, namun di samar-samar mendengar sesuatu dari toilet pria. Meski Rindi tidak begitu tinggi tapi dia memanjat closet untuk tahu apa itu, lantas mengeluarkan ponsel nya.


Rindi menempelkan kamera ponsel nya tanpa Flashlight, tanpa suara karena memode terbang nya. mata nya melotot seketika, dia melihat sang kakak sedang beradegan mesum dengan seorang pria di toilet pria. Awal nya tak terlihat jelas wajah nya namun, ketika pria itu tanpa sadar melihat wajah nya ke kamera Rindi lebih kaget lagi.


Rindi sudah menyimpan video dan foto mereka, Rindi segera pergi dari toilet tanpa membuang hajat nya.


"Cepat sekali nona?"


"Iya kan cuma pipis"


"Oh"


Rindi memilih beberapa bahan masakan lagi.


"Sudah"


"Baik lah aku bayar ke kasir ya nona"


"Aku mau menunggu di mobil dengan Roy"


"Baik lah hati-hati nona"


Dengan gemetar dan berjalan terburu-buru dia segera masuk ke dalam mobil.


"Oh, ah, tidak....tidak ada"


Rindi segera menunduk saat sang kakak muncul berjalan melewati mobil yang ada diri nya di dalam. Roy melihat itu semua, dia segera mengirimkan pesan pada beberapa anak buah nya untuk memeriksa mall itu. Roy tersenyum, memang gadis ini cocok dengan tuan nya, dia polos dan jujur.


"Sudah selesai Anita?"


"Sudah Roy"


"Baik lah kita beli camilan dulu di depan, tuan menyuruh kita membeli beberapa camilan dan permen"


"Iya kah? bukan nya kemaren baru beli?"


Mata Roy mengkode, Anita terdiam tidak banyak bicara lagi.


"Nona saya turun dulu ya?"


"Iya Roy"


Roy segera memesan lalu kembali ke mobil.


"Cepat sekali"


"Ini toko camilan langganan tuan, hanya memesan nanti diantar ke mobil"


"Oh"


Roy melihat gadis itu sibuk dengan ponsel nya.


"Ada apa non?"


"Ini aku mau menyimpan sesuatu ke email ku tapi tidak bisa masuk, tapi selalu memposting kabar terbaru tentang diri ku"


"Itu email non sudah di retas, tidak aman menyimpan data di email itu lagi"


"Aduh bagaimana ya?"


"Ini pakai saja ponsel baru milik tuan, non bisa buat email baru nanti saya konfirmasikan ke laptop tuan"


"Memang bisa?"


"Bisa, ini pakai saja sudah ada nomor nya, patahkan saya nomor lama nya non"


"Iya ya, aku transfer data-data penting ku dulu"


Rindi segera mentransfer data penting dari ponsel lama ke ponsel baru nya.


"Aku sudah selesai mentransfer data penting ke ponsel baru nya"


"Mari saya buat email nya supaya tidak kena hack"


Rindi menyerahkan ponsel itu pada Roy, Roy mengutak-atik nya dalam sepuluh menit sudah selesai.


"Nah sudah selesai"


"Terimakasih Roy"


"Sama-sama"


Anita hanya memperhatikan Roy saja, jarang sekali Roy perhatian pada wanita.


"Kita sudah sampai?"


"Terimakasih"


Rindi berjalan diiringi oleh Anita dan Roy, Anita membawa belanjaan dan Roy membawa camilan.


"Antar nona langsung ke dapur?"


"Baik"


Anita menunjukkan jalan untuk Rindi menuju dapur.


15 menit yang lalu di ruangan Andra sepeninggal Roy dan Anita. Novan yaitu sekertaris lelaki atau asisten ke tiga setelah Roy dan Anita masuk memberitahukan ada tamu yang ingin bertemu guna membahas proyek kerja sama.


"Persilahkan dia masuk"


"Baik tuan"


Novan membawa Lisa masuk, Lisa sangat senang dia tersenyum manis. Lisa dengan cekatan membeberkan kinerja perusahaan milik ayah nya. Mula nya Andra sangat senang namun mata wanita itu sangat Andra hapal.


Roy bergegas menuju ke ruangan tuan nya, dia dikirimi pesan agar segera kembali oleh bos nya itu.


Tok....tok....tok.


"Masuk"


"Tuan memanggil saya"


Roy sudah sampai di ruangan tuan nya, dia melihat wanita itu yang dia lihat beberapa jam lalu di mall.


"Kau bahas kontrak kerjasama kita dengan perusahaan keluarga Mukti bersama dengan nona Lisa"


Lisa melihat Roy sekilas, lalu tersenyum.


"Tuan kenapa tidak anda sendiri yang membahas kontrak nya dengan saya?"


"Aku sedang sibuk nona Lisa"


Andra menatap tajam wanita dihadapan nya yang berpakaian sexy itu, ada beberapa kancing di dada nya yang copot hingga menunjukan tonjolan dada dengan jelas.


"Mari silahkan ikut saya"


Roy keluar duluan, di saat itu Rindi mengintip dan Roy memberi kode pada Rindi untuk bersembunyi. Meskipun demikian Rindi tetap mengintip dengan sebelah mata nya. Ternyata kakak tersayang nya itu dengan baju yang masih sama saat di mall, Rindi tiba-tiba mual jika ingat kejadian di mall tadi.


"Tuan bagi pembisnis kecil seperti kami, andil anda adalah anugerah terbesar"


Ucap Lisa dengan suara yang merdu, serta mengelus lengan Andra dan menempelkan tubuh nya.


Andra terdiam sesaat, Lisa tersenyum devil, dia kira tipu muslihat nya berhasil dan merasa senang dengan diam nya Andra.


"Kau ingin berbisnis dengan ku atau kau mau perusahaan keluarga detik ini juga bangkrut"


Andra menghempas lengan nya yang Lisa sentuh.


"Ahh.....!"


Lisa terdorong ke lantai, tenaga Andra sangat besar hingga wanita itu terjengkang.


"Tuan kau sangat kasar!"


Lisa berkata sambil menangis dan keluar begitu saja.


"Roy!"


"Saya tuan"


"Ambil baju ganti, aku tidak suka baju berbau pelacur"


"Baik, tuan"


Roy segera bergegas mengambilkan baju untuk tuan nya berganti sementara Andra bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


BERSAMBUNG.