
Seperti pagi ini Rei dengan sigap segera bangun karena mata kuliah akan di mulai pada hari ini.
Drrtt......ddrrttt.
Bunyi dering ponsel begitu memekakkan telinga. Ya ponsel tersebut merupakan pembelian kakek nya, Rei begitu sangat senang.
"Ya"
"Jam berapa kau berangkat?"
"Jam 9 aku ada kuliah sebelum jam makan siang dan jam 2 nanti"
"Oh, baik lah aku menunggu mu di jalan kemaren, nebeng ya"
"Beres"
"Siapa mereka?"
"Teman baru nek"
"Mudah kali kau dapat teman"
Celetuk sang kakek, menyela pembicaraan mereka.
Keempat nya memakan nasi goreng dengan lahap lagi nikmat.
"Aku berangkat ya?"
Rei berpamitan pada semua orang, sedangkan pria berjubah pergi ke bar untuk menjadi bartender disana.
Rei dengan cepat menjemput Ravenda, dengan cepat menjumpai mereka di dekat alun-alun kota.
"Bro sudah sampai?"
"Ayo naik"
Ketiga nya berboncengan dengan gaya cool mereka.
Setelah sampai di kampus mereka turun.
"Bos itu lihat cewe paling cantik di kampus loh"
"Jaga jari tangan mu, nanti pria yang di sebelah nya memotong jari mu, baru tahu rasa"
Dengan segera Aryos, yang merupakan asisten Ravenda itu menyembunyikan tangan nya.
"Memang kenapa?"
"Tidak hanya gadis itu yang sedang melintas di hadapan kita dia adalah putri tercantik kampus ini sedangkan pria nya dia adalah preman sekolah"
"Oh"
"Jadi jangan ganggu atau singgung mereka, gadis Shazilla Queena Pratamajaya, anak konglomerat meski bapak ku pejabat namun kekayaan nya lebih melimpah setelah Alkatiri dan Aryandy tidak di kota ini lagi"
Ucap Rav.
"Alkatiri dan Aryandy?"
"Benar kedua keluarga konglomerat itu kekayaan nya melimpah"
Ravenda terus bercerita.
'Aryandy apa itu nama keluarga kakek? Apa kakek seorang trilyuner dulu nya disini?'
Gumam Rei di dalam hati.
"Hei kenapa kau bengong?"
Ravenda menatap aneh pada Rei, bocah ini tiba-tiba melamun setelah dia menyebut dua keluarga besar itu.
"Tidak usah dipikirkan lagi pula dua keluarga itu sudah tak ada kabar berita nya"
Ucap Ravenda santai.
Pelajaran di mulai, Rei nampak serius mencatat mata kuliah. 1 jam kemudian selesai, semua menghambur ke kantin karena masih ada satu mata kuliah lagi. Rei asal duduk saja, karena dia baru pertama kali ke kantin.
"Kau mata mu buta ya itu kursi kami!"
Bertubuh tambun dan tinggi, sangat dan ucapan nya tanpa ada basa-basi apa lagi sopan santun.
"Apa bukti nya?"
Merek berempat orang tertawa.
"Bos bocah ini sinting!"
Kembali tertawa sementara Rei hanya diam karena masih menunggu Ravenda.
"Kau mau pergi tidak"
"Kursi yang lain juga kosong, kenapa kalian harus berebut dengan ku"
"Itu kursi kami"
Rei masih diam namun salah satu diantara nya menyerang Rei, dengan gesit Rei menghindar. Ketika akan melayangkan pukulan, salah satu nya tiba-tiba terdiam.
"Ada apa ini?"
"Queen!"
"Apa yang kalian perebutkan?"
"Itu kursi kami Queen!"
"Duduk di tempat lain saja, bukan kah masih banyak"
Mereka mengikuti Queen itu.
"Terimakasih sudah mau mengalah"
"Karena kau anak baru, lain kali jangan duduk disitu"
"Baik lah, maaf"
Queen dan geng nya duduk dipinggiran sebelah kiri.
"Queen kenapa kau membelanya?"
"Dia anak baru, jangan bikin masalah duluan, kalian tak mau kan jika di deportasi ke universitas lain"
"Benar"
"Jadi lah pelindung kampus ini"
Merek semua mengangguk.
'Gadis itu bisa memimpin anak-anak geng itu'
Gumam Rei.
Ravenda datang karena kelas nya telah selesai, mereka segera makan di kantin lalu bergegas untuk mengikuti mata kuliah selanjut nya.
BERSAMBUNG.