
Mereka masih tertawa-tawa di ruang perawatan milik Andra, sudah tiga bulan lelaki itu dirawat setiap seminggu sekali atau dua kali William menemani nya karena ibu Amelia merawat Lisa dengan baik.
"Ah seperti nya sudah sore, aku mau pamit dulu"
Ucap William.
"Baik lah cepat lah pergi, kalian ini bising sekali"
Ucap Andra seperti biasa nya.
"Kau ini, nanti ada zombie baru tahu rasa kau!"
Ucap William. Namun William segera menarik Roy yang masih duduk di kursi dekat ranjang milik bos nya itu.
"Bos saya antar Will kedepan dulu"
Andra pun mengangguk, kedua lelaki itu tak tahu jika rantang makanan yang William bawa tertinggal.
KLEEKK....
Setelah pintu kamar rawat Andra tertutup, kini William dan Roy menuju ruang istirahat di ujung lorong beberapa kamar rawat VVIP itu.
Kini di kamar rawat Andra terasa sepi, jujur dia senang ditengok, sejak bersama Rindi dia sangat suka keramaian.
"Sayang, mas kangen loh"
Mengusap wajah cantik yang terpasang di wallpaper ponsel nya. Andra meletakkan ponsel nya diatas nakas bermaksud akan berbaring saja.
Tapi sedetik kemudian dia melihat rantang wadah makanan yang Will bawa tadi untuk menjenguk nya.
"Huft mereka ini suka sekali lupa, pikun dipiara"
Ucap Andra kesal, dia harus turun dan naik ke kursi roda nya namun kaki nya masih terasa sakit.
Andra memacu kursi roda nya itu menuju keluar karena tak ada kerabat yang menunggui diri nya mau pun perawat lewat yang bisa dia mintai tolong.
KRUKK....KRUUKK...
Sangat pelan Andra mendorong kursi roda itu, hingga Andra menghentikan kursi roda nya.
Nampak William sedang memaksa Roy untuk berbicara.
"Katakan Roy, aku ingin mendengar semua yang telah ku lewati?"
"Maaf tuan muda Lordian saya tidak ingin menceritakan apa pun, saya sudah dipesankan oleh tuan besar dan nyonya besar untuk tidak berkata apa pun pada siapa pun"
"Saya juga keluarga mereka, saya kakak ipar nya Arvin"
"Benar oleh karena itu lah saya diam"
"Termasuk menutupi kepergian Rindi karena kesalahan yang Andra lakukan meski tidak sengaja! Sampai kapan kalian menutupi nya 2 bulan lalu bisa karena penglihatan Andra buram tapi sekarang Andra sudah bisa melihat Kita semua bagaimana kau akan menjelaskan nya"
Degh.....degh.....
Andra sendiri terpaku mendengar dua orang lelaki dewasa yang sedang berbincang itu.
Dia masih mendengarkan apa lagi kebohongan yang mereka sembunyikan.
"Lalu bagaimana dengan Carmen?"
"Wanita itu sudah membusuk di penjara pemerintah, aku sudah mengusulkan dia dihukum mati namun kesalahan nya merupakan tindak pidana karena kedua nya suka sama suka"
William terdiam.
"Apa kalian juga sudah memberitahukan ini?"
Ucap Will yang hanya di jawab gelengan.
"Tuan dan nyonya besar takut jika bos kami kambuh, dia tidak ingin anak satu-satu nya menderita, tak pantas rasa nya hanya karena kejadian sepele dia harus menanggung akibat nyawa nya melayang"
"Tapi bukan kah ini tidak adil untuk Arin?"
"Entah lah tuan, kita fokus ke pemulihan tuan muda, jika dia sudah pulih apa pun akan kami ceritakan tapi tidak sekarang kami takut dia akan drop lagi saat dia ingin bertemu dengan istri nya namun nyonya besar yang selalu memakai parfum istri nya"
Mata Andra terbelalak lebar, tidak menyangka jika parfum yang digunakan oleh istri nya ternyata sang mommy yang memakai nya.
Andra memutar kembali ingatan memang selama dia siuman dia tidak pernah berbicara langsung dengan Rindi.
Tangan Andra bergetar lantas.....BRRUKK........Kursi roda nya terjatuh.
"Apa itu di luar?"
Semua perawat menghambur membawa Andra kembali ke ruangan nya. William dan Roy berlari keluar mereka menemukan wadah rantang makanan milik William.
"Kau ceroboh Will?"
William terdiam, dia memandangi rantang yang terjatuh dan berantakan itu membuktikan jika Andra mendengar semua nya.
"Kenapa aku bodoh sekali!"
William menarik rambut nya frustasi.
"Maka nya sudah ku bilang agar jangan bicara sembarangan, kau sendiri yang cari penyakit"
"Jadi bagaimana sekarang?"
"Bukan hanya kau tapi juga diri ku yang akan menerima akibat nya"
William memukul kepala nya sendiri, dengan kebodohan nya menginterogasi Roy maka dia sudah membongkar rahasia yang Daddy Rei dan mommy Jasmin sembunyikan.
Benar saja semua orang dari keluarga Alkatiri, ayah Andreas, juga kedua orang tua nya datang.
"Kalian ada disini? Lalu kenapa dengan Andra?"
William menunduk diam ketika di beri pertanyaan oleh mommy Amelia nya.
"Jawab Will apa yang kau lakukan pada Andra?"
Daddy German langsung mengintrogasi putra nya.
Will semakin menunduk dia tidak bisa lagi apa-apa.
Dokter keluar setelah menangani Andra di dalam.
"Bagaimana keadaan anak kami dok?"
"Pasien sempat drop dan kejang namun karena cepat ditangani jadi dia bisa tidak apa-apa, dia sudah diberi obat penenang jadi tolong jangan menekan nya dengan beban pikiran yah terlalu berat"
"Baik dokter, maaf"
Dokter visit pun berlalu kembali ke ruangan nya, mereka semua bernafas dengan lega.
"Kau punya hutang penjelasan pada kami William dan Roy"
Mereka berdua saling pandang dan saling tertunduk diam melihat semua seolah menyoroti mereka.
"Kita sudah melakukan kesalahan yang besar"
Ucap William.
"Jangan mengingatkan ku pada kebodohan mu"
Ucap Roy dingin.
"Kau mengatai ku bodoh!"
"Lalu apa?"
"Awas kau!"
"Coba saja kalau kau berani, aku akan membuat mu seperti perkedel tahu yang benyek"
"Aku akan melawan mu"
Ujar William, meski ini memang adalah salah nya tapi pasti dia yang akan lebih disalahkan oleh semua keluarga.
"Sial nya hidup ku, kenapa juga sih harus terkena imbas nya, harus nya tidak usah ikut campur"
William masuk setelah Roy masuk ke ruang rawat inap milik Andra.
"Untung nya hanya kejang biasa saja tidak sampai kritis ya Dad?"
"Iya mom, tadi Daddy sangat khawatir"
BRUUKK....
"Maafkan saya tuan ini semua jug tak luput dari kesalahan saya"
Mereka semua bingung akan tingkah Roy begitu pun William yang kini menunduk.
"Ini juga kesalahan William kok"
Lirih William yang menunduk.
"Coba kalian ceritakan bagaimana kejadian nya?"
Ucap ayah Andreas kemudian.
"Tadi aku menjenguk Andra, dimana disana ada Roy"
Will menjeda ucapan nya itu.
"Lalu kami bercanda ria, setelah nya aku pamit tapi aku mengajak Roy agar aku bisa tahu keadaan Andra yang sebenar nya"
Mereka semua mengangguk menunggu cerita dari William lagi.
"Aku bermaksud menginterogasi Roy, awal nya Roy bungkam hingga aku memaksa nya akhir nya Roy berbicara juga tapi sebelum selesai kami mendengar bunyi jatuh yang sangat berat dari luar ruang istirahat di pojok lorong ini"
Ucap Will menunduk menyesali perbuatan nya itu.
BERSAMBUNG