
Haris yang mengunjungi ruangan Rista mendapati nya kosong, lantas segera menuju ruangannya kembali dengan lesu.
"Kenapa bos"
Haris menggelengkan kepalanya.
Lantas terduduk di sofa, tak berapa lama kemudian ponselnya berdering. Dengan semangat Haris segera mengangkatnya, dia kira itu dari novel sang istri yang amat dirindukannya, namun ternyata nomer lain.
"Ya"
Dengan malas Haris mengangkat nya, terdengar suara perempuan yang amat dia kenali. Suara itu terlihat panik, dengan segera Haris menyuruh Jamie menjemput wanita yang menghubungi Haris dalam ponselnya itu.
"Jamie"
"Iya, tuan"
"Jemput Amira dilantai dasar, segera"
"Baik bos"
Dengan segera Jamie membawa wanita yang bos nya maksud.
Tok.....tok...
"Masuk"
Seru Haris, setelah 30 menit menunggu asistennya menjemput seseorang yang sudah berada di depan resepsionis itu.
"Bos, ini nona Amira sudah datang"
Ucap Jamie dengan segera berlalu dari ruangan bos nya.
'Bos ini apa terlibat cinta rumit dengan kedua orang wanita itu, apakah nona Rista tidak akan sakit hati jika tahu suaminya bersama wanita lain'
Pikir Jamie dalam hatinya.
'Sudah lah, sebaiknya aku tidak ikut campur'
Lanjut Jamie.
"Ayo duduk dulu"
Haris mempersilahkan Amira untuk duduk disofa yang ada diruangannya itu.
"Terimakasih mas"
Ucap Amira selembut mungkin sementara si kecil dalam gendongannya terpulas.
"Ada apa jauh jauh datang kemari?"
Amira terlihat menepuk pantat si mungil yang menggeliat itu. Pemandangan itu begitu asik disaksikan Haris.
"Tinggal telpon saja kan bisa, kenapa juga membawa Ibran"
Ucap Haris kemudian, Amira hanya tersenyum kecut.
"Aku mau diantar mas untuk suntik vaksin buat Ibran"
Ucap Amira lirih.
"Ayo sekalian kita makan di luar"
Amira tersenyum senang sekali, dia diajak Haris untuk menikmati udara luar sejak 2 bulan lalu dia selalu dirumah. Secara repleks Haris memegang Amira karena ada bayi dalam gendongannya. Hingga mereka keluar lobi perusahaan juga memasuki mobil milik Haris Amira sangat senang diperlakukan hangat seperti itu. Namun baik Amira atau pun Haris tak ada yang tahu jika kepergian mereka menusukkan luka bagi seseorang yaitu istri sah Haris, Rista.
Sementara Rista sudah sampai diruangannya dengan ekspresi datar seolah tak terjadi apa pun. Mengerjakan tugas kantor yang menumpuk, tapi setelah nya tiba giba perutnya agak melilit. Dengan segera Rista meminum obat yang baru saja didapat oleh dokter, setelah menyembunyikan hasil tes kehamilannya.
Istirahat sebentar, Rista menuju taman dilantai dasar dengan membawa sebotol jus jeruk segar. Rista juga melihat pedagang rujak buah, entah sejak kapan Rista menyukainya pada hal biasanya tidak pernah menyukai rujak seperti itu. Rista sudah menghabiskan 2 porsi rujak yang dia beli. Rasanya segar lagi bisa menambah semangat untuk kembali bekerja.
"Sayang ibu mau kerja dulu ya, jangan nakal, maaf ya ibu buat kamu susah, ibu janji tidak akan banyak pikiran lagi cuma pikirin anak kesayang ibu"
Sambil mengelus perut ratanya Rista berucap seolah sang anak mendengarkan ucapannya.
Rista masuk kembali ke ruangannya terlihat ruangan Haris masih kosong lalu Rista mengerjakan sebentar kerjaannya kemudian beberes untuk pulang. Dia sudah tidak naik taksi lagi tapi naik matic yang 2 hari lalu dibelinya. Rista juga mampir ke pusat perbelanjaan makanan, olahan susu, camilan sehat juga beberapa vitamin sudah Rista beli.
"Sepertinya sudah cukup"
Rista bergegas pulang, lalu membakar semua wadah susu buat ibu hamil itu. Rista hanya menuangkan isinya kedalam toples 1 toples besar penuh. Beberapa vitamin pun sama hanya diambil isinya juga, kemudian camilan sehat dia tarih di rak paling bawah dalam toples lantas Rista kunci.
"Buat persediaan sebulan udah cukup lah"
Rista segera memasak untuk menu makan malam hanya ayam goreng juga sayur bening dan tak ketinggalan sambal terasi juga. Setelahnya Rista bergegas mandi, lalu memakan makan malam nya sendirian.
"Aku seperti janda saja"
Selesai dengan makanannya, lalu Rista bergegas mencuci piring. Menutup dengan tudung saji makanan untuk porsi makan suaminya. Rista mengambil gelas, menuang 2 sendok susu, menyeduhnya dengan air panas.
Nampak Haris menuju kearahnya, dengan senyum manis lelaki itu menghampirinya. Mengecup pucuk kepala Rista, melihat kearah susu yang sedang Rista aduk.
"Itu susu ayy?"
Rista mengangguk.
"Biasanya tidak suka susu?"
"Mau mulai hidup sehat aja"
"Oh"
Haris hendak mengatakan sesuatu namun Rista segera melangkah menuju kamar mereka.
"Baju mu sudah aku siapkan mas, makanan ada dimeja, aku mau tidur duluan aku lelah"
Rista sudah duduk dipinggir ranjang tempat tidur mereka.
"Memang nya dari mana seharian hingga bisa selelah itu?"
"Proyek yang aku kerjakan sudah selesai jadi aku dipanggil oleh teman ku untuk menerima bonus sekaligus meninjau proyek itu"
"Oh, baik lah"
Haris hendak melangkah menuju kamar mandi.
"Tadi siang aku bersama Amira mengantar Ibran untuk vaksin di rumah sakit, maaf aku tidak meminta ijin pada mu"
"Iya"
"Tidur lah, aku mandi dan makan dulu"
Ucap Haris sembari melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Sementara Diah Rayz ibu kandung Aksara saat ini sedang mendengarkan laporan dari mata matanya yang ditempatkan disekitar hotel milik Aksara.
Drrttt....ddrrtt.
"Tuan nyonya akan berkunjung ke apartment milik anda!"
Ucap Melki saat sambungan terhubung ke ponsel Aksara.
"Biarkan saja"
Aksara sangat senang saat ini, istri cantiknya sedang bersandar didadanya.
"Siapa yang telpon om?"
"Oh om Melki"
"Iya mommy mau berkunjung kemari katanya sayang"
"APA!'
Cinta hampir melompat dari pangkuan Aksara namun dengan segera lelaki itu kembali menarik istrinya.
"Kenapa hem?"
Aksara mencium pipi istrinya.
"Om ihh, kan gawat kalau mommy nya om datang?"
Lirih Cinta kemudian sambil menundukan wajahnya, itu membuat hati Aksara begitu sakit, wanita yang dia cintai ditolak oleh ibunya sendiri.
"Tapi hanya kamu istri ku sayang"
Aksara memegang dagu milik istrinya agar bisa menatap bola mata cantik gadis yang sudah menjadi miliknya itu kemarin malam. Sangat lama mereka bertatap tatapan hingga Aksara kembali ******* bibir mungil istrinya itu, menjilatinya juga memeluk tubuh indah itu dengan erat.
"I love you"
Pada saat yang bersamaan sang mommy masuk hingga adegan ciuman dua insan itu disaksikan oleh ibu kandung si pemeran lelaki. Cinta mendorong Aksara, namun Aksara sendiri yang malah memoerdalam ciumannya, Aksara ingin mommy nya tahu jika dia sangat mencintai istrinya seorang bahkan.
"Ekheem........"
Sang mommy berdehem, namun Aksara masih tidak peduli. Sungguh anak tunggalnya tidak memperdulikannya saat ini.
"Mommy ingin bicara dengan mu Rayz!"
Ucap sang mommy dengan nada yang sedikit ditekan ditiap kata katanya.
Terpaksa Aksara melepaskan bibir istrinya yang sesaat lalu dia hisap hingga terlihat sedikit bengkak.
BERSAMBUNG.