TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.325


Paman segera membereskan berkas yang akan dibawa nya pulang, dia sudah tidak konsentrasi dengan pekerjaan nya meski bibik berkata tidak ada masalah serius namun tetap saja Paman sangat khawatir.


"Kita ke rumah sakit mana tuan?"


"Ke rumah sakit xxx"


"Siap tuan"


Supir segera meluncur membelah jalanan di sore itu sebab jalanan begitu lengang hingga mereka sampai di rumah sakit tak berapa lama.


Paman turun dari mobil dia mencari di sudut rumah sakit, karena semua pemeriksaan berada di lantai bawah. Tak berapa lama paman melihat Anita.


"Dimana dia An?"


"Sedang di periksa dokter tuan, nanti setelah dokter keluar baru bisa masuk"


Benar saja tak berapa lama dokter keluar dan mereka masuk.


"Pasien masih pingsan belum sadar, nanti jika sudah sadar panggil perawat saja"


"Baik dok"


Setelah nya dokter berlalu pergi, paman dan Anita segera masuk ke dalam ruang rawat itu.


"Memang kalian sudah berapa lama disini?"


"Sudah 2 jam tuan"


"Kok masih di periksa saja?"


Paman mengerutkan kening nya karena ada kejanggalan.


"Maaf tuan saya yang menyuruh bibik agar dia tidak panik saat menghubungi tuan"


"Apa yang sebenar nya terjadi?"


Anita makin menunduk.


"Saya sedang istirahat siang begitu pun nona di dekat kolam, saya lanjut makan siang lantas bibik menemukan nona pingsan di pinggir kolam saat bibik mengantarkan makanan yang ingin nona makan tuan"


Paman memejamkan mata nya sejenak.


"Lalu?"


"Lalu aku membawa nya ke rumah sakit, nona di baringkan diranjang untuk di periksa dan di pasang infus setelah nya kata nya nona kelelahan tuan tapi kita sudah ganti dokter"


"Jadi sekarang di periksa dua kali begitu?"


"Benar tuan"


"Ya sudah kita tunggu hasil nya"


Paman berpikir ingin menghubungi suami keponakan nya namun dia tahu jika pemuda anak dari sahabat nya itu juga sedang susah di belahan benua lain.


Paman hanya bisa mendesah karena dia memiliki pikiran susah sendiri. Tak lama Rindi pun sadar.


"Aku dimana?"


"Kamu di rumah sakit, apa yang kamu rasakan?"


Tanya paman sementara Anita memanggil perawat masuk.


"Hanya pusing kepala paman"


"Ya sudah nanti di cek lagi ya"


Rindi mengangguk saja dan tersenyum meski wajah nya sangat pucat.


Perawat masuk ke dalam dan memeriksa semua detail penyakit Rindi.


"Maaf ibu Arindi anda harus ke bagian obgyn"


Ucap perawat itu sambil membawa ranjang ranjang milik Rindi.


"Apa saya tidak bisa berjalan saja sus?"


"Anda terlalu lemah Bu"


Rindi mendesah pelan, dia harus dibawa dengan brankas nya ke ruangan selanjut nya.


Tiba disana dia ke ruangan di tuju, langsung di periksa dengan serangkaian pemeriksaan.


"Apa ada penyakit serius dok?"


"Tidak pak tapi keadaan ibu hamil. Ini sangat rentan, kandungan Bu Arindi sangat lemah mungkin karena usia nya masih 23 ya pak"


"Oh begitu kah?"


"Iya, dikarenakan kondisi ibu hamil nya sangat rentan jadi akan bahaya pada janin"


Sang paman masih berpikir saat ini namun detik kemudian paman baru sadar jika perkataan dokter itu menyinggung kehamilan.


"Tadi maksud dokter, keponakan saya sedang hamil?"


Tanya paman antusias, dia baru ngeh kalau ada perkataan hamil yang di ucapkan dokter wanita itu.


"Ibu Arindi ini mempunya kandungan yang lemah, pak jadi tolong ekstra menjaga nya ya"


"Oh begitu dok, maaf nanti asisten saya akan meminta kejelasan lebih lanjut pada dokter"


"Baik lah pak"


"Lalu bagaimana nasib keponakan saya, apa akan di rawat di rumah sakit atau sudah boleh pulang"


"Nanti kalau infus sudah habis baru bisa pulang"


"Baik lah dok, terimakasih"


Mereka kembali ke kamar rawat sementara sampai infus Rindi habis lantas paman juga menunggui Rindi disana.


"Lapar tidak?"


Tanya paman sambil mengusap pucuk kepala Rindi dengan sayang, karena keponakan nya saat ini tengah berbadan dua.


Rindi hanya bisa menggelengkan kepala nya lantas tersenyum manis pada paman nya itu.


"Ya sudah sebentar lagi kita juga akan pulang"


"Iya paman"


Rindi melihat perut nya yang masih rata, dia tergolong masih pengantin baru bahkan honeymoon pun tak sempat karena keburu Andra pergi menengok mommy nya.


Pada hal baru dua bulan tapi dia sudah hamil, benar-benar rezeky dalam hubungan mereka. Rindi dan Andra tidak menunda atau terburu-buru mereka sangat santai apa lagi sudah 3 Minggu Andra tidak ada disamping nya.


Secara refleks dia mengusap perut rata nya, Rindi tidak menyangka jika di dalam sana sudah tumbuh makhluk kecil yang nanti 8 bulan lagi mereka akan bertemu. Rindi tersenyum bagaimana tanggapan suami nya saat di kabari nanti.


"Infus nya sudah habis ya Bu"


Sontak perkataan perawat itu membuyarkan lamunan Rindi menarik nya dalam dunia nyata.


"Saya lepas ya Bu, ibu boleh pulang"


"Iya terimakasih sus"


Perawat wanita itu tersenyum lantas berlalu dari kamar rawat yang Rindi tempati.


"Ayo kita pulang"


Ajak paman seraya memapah keponakan tersayang nya ini.


"Paman Arin itu tidak sakit hanya hamil saja, kenapa harus di papah malu lah"


"Kamu kenapa sih? Kan kandungan kamu lemah nak"


"Iya tahu kok tapi kan Arin sehat paman"


"Kamu ini suka ngeyel"


Rindi tersenyum melihat paman nya cemberut.


"Kalau anak mu sudah lahir paman tidak akan mau memperdulikan mu lagi, paman akan bermain dengan nya sampai puas"


Rindi menggelengkan kepala nya.


"Itu sudah pasti tentu nya paman"


Anita yang sejak tadi mengekor di belakang kedua nya kini terlihat tersenyum, mungkin setelah anak itu lahir mereka akan sibuk memanjakan anak itu begitu pun diri nya nanti.


"Selamat ya non"


"Makasih Anita"


Anita nampak bahagia mendengar kabar kehamilan nona nya.


"Paman sudah memberitahukan kepada siapa saja tentang berita kehamilan ku ini?"


"Belum ada, biar kamu saja yang memberitahukan kepada siapa berita bahagia ini ingin kamu bagi, dan mulai sekarang mungkin paman akan lebih sibuk lagi di kantor"


"Memang kenapa paman?"


"Ya jelas lah karena kamu akan lebih sibuk mengurus para krucil mu itu"


Rindi terdiam.


"Apa aku tidak boleh bekerja lagi"


"Boleh, tentu boleh tapi hanya dari rumah saja karena jika bolak-balik ke kantor paman takut kamu akan kelelahan nanti nya dan membuat anak mu stress"


"Masa sih paman?"


Rindi tidak percaya dengan omongan paman nya.


"Paman sudah meminta makanan apa yang bagus di konsumsi, susu hamil dan juga pantangan apa yang tidak boleh di lakukan"


Rindi terdiam mengangguk saja.


"Baik paman"


BERSAMBUNG.