
Cinta sudah selesai membersihkan dapur, meski itu tukang cleaning servis.
"Indy"
Cinta menoleh pada gadis 20 tahun itu, tersenyum lantas menggandeng dirinya.
"Nampak nya senang sekali?"
Sofi mengangguk dengan senang dan cepat.
"Ibu dan ayah ku setuju tinggal di kota jadi kami ngekost di kost yang agak besar, 2 kamar"
Ucap Sofi sementara jarinya menunjukan angka 2.
"Oh ya aku juga membawa lontong sayur, nanti kita makan sama-sama ya"
"Tapi aku bawa nasi goreng"
"Tumben bawa bekal"
"Ibu ku sedang tidak di rumah"
"Bagaimana kalau kita tukeran saja?"
"Baik lah"
Cinta memberikan nasi goreng nya lalu menerima lontong sayur itu, begitu pun sebalik nya.
Cinta segera membuang sampah ke depan perkantoran karena tidak ada kerjaan lantas memandang ke lobi. Di sana terlihat Aksa yang sedang berbincang dengan elegant nya, senyum tampannya juga.
"Hei kau sedang apa?"
Sofialy menepuk bahu sahabat nya yang lebih muda dari nya.
Cinta sedikit kaget, Sofi melihat arah pandang sahabat karib nya itu.
"Jangan bermimpi di siang bolong, tuan CEO tidak akan mungkin tertarik pada kasta kita yang begitu rendahan ini"
Ungkap Sofi memang ada benar nya, gadis itu menuntunnya kembali.
"Lihat wanita itu sangat cocok dengan CEO, dia nampak berkelas bukan?"
Cinta mengangguk.
'Apa kau tahu Sofi? jika aku istri nya bahkan kami sudah memiliki 2 orang anak'
Lirih Cinta tentu saja hanya di dalam hatinya.
'Rupa nya jarak diantara kita sangat jah byy', maaf jika Cinta tidak bisa menggapai mu'
Air mata Cinta meleleh, namun segera di usapnya.
"Aku ke toilet dulu, cuci tangan kotor"
"Iya"
Cinta segera berlari ke toilet, bukan mencuci tangan melainkan menangis tanpa suara, menyalakan kran air ke ember. Setelah puas Cinta membasuh muka nya, lantas bergegas berdandan.
"Nyonya tuan memanggil mu?"
"Baik"
Asisten Melki sudah berdiri di pintu masuk toilet ketika Cinta hendak keluar. Cinta berjalan dibelakang Melki menuju ruangan Aksara. Pintu diketuk lantas mereka berdua masuk.
"Tuan"
"Suruh dia bersihkan ruangan ini sebelum selesai jam makan siang"
"Baik tuan"
Melki segera memerintahkan Cinta untuk membersihkan semua ruangan Aksara. Dengan cekatan juga terampil meski Cinta seorang OG.
"Bersihkan dengan bersih dan rapih, jangan sampai ada sedikit pun debu"
"Baik tuan"
Tak...tak ...tak.
Klek.
"Selamat siang"
Aksara hanya diam membisu, Cinta menoleh sebentar. Terlihat Karenina datang dan segera duduk tanpa dipersilahkan.
"Ada apa kemari?"
Tanpa melirik Aksara bertanya pada tamu tak diundang nya.
'Lelaki ini sangat sinis juga dingin!'
Karenina tersenyum licik.
"Apa kau sudah selesai! cepat buatkan kopi dan pesankan seporsi nasi goreng di kantin!"
Suara Aksara menggelegar di ruangannya, Karenina terjengkit kaget dikira memarahi dirinya. Namun sedetik kemudian wajah yang Karen kenal, Karen tersenyum culas dan kegirangan.
'Ternyata wanita ini hanya budak di kaki Rayz, aku tak mengira nya'
Gumam Karen bersorak Sorai.
"Baik tuan"
Cinta bergegas pergi untuk membelikan makan di kantin menu yang tuan CEO ucapkan. Namun entah sial atau kah berkah sesampainya disana kantin tutup. Cinta menghela nafas, sementara restoran nasi goreng yang enak itu sekitar 2 blok bolak balik 15 menit naik motor, belum lagi mengantri untuk memesan pesanan yang diinginkan memerlukan waktu 30 menit sementara waktu tersisa 20 menit. Cinta tiba-tiba sakit kepala dibuat nya, maka ide cemerlang itu datang.
Karen yang diabaikan bangkit dari kursi setelah Cinta berlalu, mendekat menyentuh kepala Aksara.
"Jangan marah-marah terus,nanti tekanan darah mu semakin naik itu tidak baik untuk kesehatan"
"Apa kau sudah bosan hidup?"
Aksara melirik pada iblis wanita berwujud Karenina itu.
"Letakan map itu dan pergilah"
"Baik lah"
Karenina segera pergi meninggalkan ruang kantor Aksara tanpa drama. Aksa mengernyit heran karena itu bukan gaya Karen, tapi Aksa tak ambil pusing.
Cinta segera menuju dapur kantor, benar saja disana terlihat Sofialy membuka bungkusan bekal yang diberikan oleh Cinta.
"Sofi"
Yang merasa terpanggil namanya menoleh, sendok yang hendak dimasukan ke mulut Sofi urung masuk.
"Aku minta bekal ku kembali ya, darurat"
Sofialy terdiam lantas mendorong nasi goreng itu, segera Cinta menghangatkan nasi goreng itu di wajan dengan sedikit margarin. Menata nasi goreng dan secangkir kopi. Cinta membawa nasi goreng itu, memasuki ruang kerja Aksara lantas menatanya di meja.
"Tuan nasi goreng nya?"
"Taruh disitu, nanti saya makan"
"Baik tuan"
Cinta segera bergegas bersiap pulang, menuju pantry.
"Ayo makan lontong sayur nya, sudah ku hangatkan, ayo"
Mereka berdua dengan segera.
"Kau akan bekerja paruh waktu?"
Tanya Cinta.
"Iya"
"Apa kau tidak lelah"
"Mengapa harus lelah"
Sofialy tersenyum dengan hangat.
"Boleh aku ikut?"
"Kau ingin bekerja paruh waktu juga"
"Iya"
"Baik lah, ayo"
Mereka berdua menuju tempat kerja Sofialy kawasan tongkrongan anak muda.
Sementara itu Aksara mulai menyendok nasi goreng begitu menggiurkan.
"Ini enak, tumben sekali, kantin masakannya enak?"
Terus menerus menyuapkan sepiring nasi goreng itu hingga tandas.
"Benar-benar enak"
Setelah makan, Aksara kembali bekerja.
Kedua sahabat sudah berada ditempat kerja.
"Paman aku membawa seorang teman ingin bekerja disini juga?"
Lelaki paruh baya berusia 80 tahun datang lantas tersenyum.
"Kau boleh bekerja disini, tapi aku si kakek tua ini hanya mampu menggaji mu sehari 30.000 rupiah"
Cinta tersenyum, lalu menganggukkan kepala nya.
"Aku mau kakek"
"Dia pintar memasak ke"
Sela Sofialy.
"Tidak terlalu, kek"
Jawab Cinta segera.
"Jadi biar kau saja yang memasak"
Ucap sang kakek.
"Baik lah"
Jawab Cinta, segera mengambil celemek dan membungkus rambutnya, kedai kakek tua ini hanya kedai kopi modern biasa. Terdapat dua pasang meja dan kursi, menu hanya nasi goreng, beberapa roti bakar, camilan, juga beberapa minuman. Tak banyak yang berkunjung hanya sore hari sampai jam 9 malam saja.
4 jam kemudian waktu pulang. Aksara sudah sampai di parkiran mobil nya, ada Melki disana.
"Silahkan tuan"
Aksara masuk ke mobil, namun ketika Melki hendak menjalankan roda empat itu, Aksara menghentikannya.
"Tunggu Melki!"
"Iya tuan"
"Tolong pesankan 2 porsi nasi goreng di kantin"
Melki mengerutkan alis nya.
"Maaf tuan hari ini menu nasi goreng yang berjualan ijin pulang kampung 1 minggu"
Aksara terdiam, ingatan nya melayang ke peristiwa tadi pagi. Bukan kah tampilannya mirip, tapi bukan kah penjual nasi goreng banyak bahkan itu adalah menu umum.
"Ayo lanjutkan pulang ke rumah utama!"
"Baik"
Aksa membuka beberapa cctv di kantor dan melihat rekaman saat makan siang, benar dugaan nya itu.
BERSAMBUNG.