TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.214


Min masih terdiam membisu, sementara Rei masuk ke kamar nya. Min menggelengkan kepala nya, ibarat tidak mengindahkan ucapan lelaki itu.


Pagi ini gerimis datang karena sudah mulai musim penghujan. Min berangkat pagi tepat pukul 6 pagi.


Min pergi ke warung penjual sarapan, dia membeli soto lalu memasukkan nya kedalam wadah yang tahan panas. Min sekarang sedang malas masak, dia ingin menikmati rintik hujan di pagi hari.


Dari parkiran Min nampak berlari kecil, lantai memang agak licin hingga Min menubruk seseorang.


DDUUGHHH....


"Maaf......."


"Oh, tidak apa, hati-hati"


Yang Min tabrak seorang lelaki, dia Andreas yang tersenyum manis sambil memegang lengan Min.


"Oh maaf"


"Tidak apa"


Andreas seolah memapah Min.


"Saya tidak apa-apa pak"


"Saya tahu, tapi ibu hamil harus ekstra hati-hati"


Deg....deg.


Sontak mata Min membola, dari mana lelaki ini mengetahui jika diri nya hamil.


"Dokter kandungan mu adalah Tante ku"


Min tersenyum canggung.


"Terimakasih"


Andreas mengangguk.


"Baik lah kita berpisah disini"


Andreas bergegas ke bagian divisi nya begitu pun Min.


Sebelum jam masuk kerja Min sudah memakan sarapan nya dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang ada di meja kerja nya hingga waktu kerja di mulai.


"Anda di panggil tuan Rei"


Min mendongak ternyata asisten lelaki itu.


"Baik"


Ucap Min perlahan bangun dari kursi meja kerja nya. Min mengekori Aryos berjalan di belakang lelaki itu.


"Silahkan masuk nyonya, tuan sudah menunggu di dalam"


"Iya terimakasih"


Min segera masuk ke dalam ruang kantor milik Rei, lelaki itu sangat serius dengan pekerjaan nya. Kemudian Rei sedikit mendongak untuk melihat jika yang datang adalah Min.


Min masih tidak berkutik dia diam saja berdiri di tempat nya. Setelah saling diam selama tiga puluh menit.


"Ada masalah apa bapak memanggil saya?"


Rei terdiam, wanita belia di hadapan nya bersikap formal juga sopan.


"Bagaimana dengan permintaan ku?"


"Maaf, permintaan yang mana ya?"


Sebenar nya Min ingat namun dia tidak ingin melakukan atau menyebutkan nya.


Rei memandang tubuh istri nya yang berbalut kemeja moccha dan rok dibawah lutut dengan warna hitam pekat itu.


"Gugurkan janin di dalam perut mu!"


Min menatap wajah serius Rei, tidak ada keraguan di mata lelaki dihadapan Min itu.


"Jika saya menolak bagaimana?"


Rei menatap tajam.


"Maka aku akan memaksa, selagi aku bersabar maka lakukan lah"


"Kenapa?"


Rei menatap Min seolah pertanyaan yang Min ajukan kurang jelas.


"Kenapa tidak menginginkan nya?"


"Aku suka pada mu, tapi tidak dengan anak itu"


"Bukan kah menikah memang bertujuan salah satu nya memiliki buah hati?"


"Itu untuk pasangan normal, aku pembisnis jadi lenyapkan dia, lagi pula aku tidak suka ada anak diperut mu selain milik ku"


"Apa maksud mu?"


"Anak itu adalah hasil perbuatan selingkuh bukan?"


Jantung Min hampir melompat karena perkataan yang Rei ucapkan.


Rei mengeluarkan semua foto juga video itu.


"Aku tidak mau bertolensi lagi"


Min rasa nya ingin menangis, hanya karena sebuah foto yang tak beralasan dia dituduh. Pada hal kemaren pun dia mendapatkan foto Rei beradegan ranjang dengan adik angkat nya, Elian.


Lirih Min.


"Jika demikian, jika aku menuruti mu menghilangkan anak ini, aku minta sebuah syarat"


"Katakan, aku akan menuruti nya"


"Berjanji lah, menuruti nya tidak ada bantahan apa pun"


"Iya, aku berjanji"


"Baik lah, aku akan pergi sendiri ke rumah sakit sekarang"


Min tidak lagi menengok kebelakang, dia pergi dari ruang kantor Rei begitu saja. Min segera memesan taksi, dia tidak menggunakan sepeda motor nya lagi.


Di dalam taksi menuju ke rumah sakit Min terdiam, hanya air mata nya yang meleleh dengan deras.


Rei terdiam setelah Min pergi tanpa berbicara apa pun lagi.


'Apa dia baik saja'


Gumam Rei.


'Ini untuk kebaikan nya, nanti akan digantikan dengan anak kami'


Lanjut Rei tersenyum.


Karena Min yang pergi sambil terburu-buru, Andreas mengikuti taksi yang Min tumpangi. Min turun di rumah sakit begitu pun Andreas.


'Kenapa turun ke ruang sakit sambil menangis?'


Andreas bingung dengan tingkah wanita muda itu. Apa ada masalah serius pada diri wanita itu.


Lama Min berada di depan pintu rumah sakit, entah pikiran macam apa yang sedang bergejolak di otak nya.


PUK.....


Karena tak tahan maka nya Andreas menepuk punggung wanita muda yang cantik dengan masih menggunakan seragam nya itu.


Min menoleh, Andreas pun tersenyum.


"Pak"


"Kenapa disini?"


Min menunduk.


"Ayo masuk, mau periksa kandungan kan?"


Dengan lembut Andreas menarik wanita muda yang sedang hamil itu. Andreas menuju ruang praktek Tante nya itu untuk dapat menanyakan kebimbangan itu.


"Eh Tante mana?"


"Dokter sedang meeting dengan dokter lain di lantai tiga"


"Oh begitu, ya sudah kita duduk disini saja, kau keluar jangan ganggu kami ya"


"Hem, sudah punya pacar jadi sok, paling mau cek kesuburan"


Perawat yang membantu praktek Tante dari Andreas ini kelewat cerewet.


"Dasar perawat sableng"


Min hanya tertawa kecil saja.


Klik.


Andreas sudah mengunci ruang praktek sang Tante.


"Nah ceritakan apa masalah mu?"


Min hanya diam hingga beberapa saat, Andreas menghela nafas nya.


"Baik lah tidak usah bercerita"


Min menatap lelaki yang ada di depan nya itu, memang selama ini lelaki itu tidak pernah melakukan apa pun. Tapi di foto itu jelas Min terlihat jelas dengan Andreas.


"Dia menuduh anak ini bukan anak nya"


"Maksud nya?"


Jelas Andreas kaget karena tiba-tiba Min berbicara. Min menjelaskan semua perkara pernikahan nya tanpa dia tutupi bahkan foto Andreas bersama nya.


"Sebenar nya tujuan apa yang di harapkan dari pernikahan?"


"Tentu saja keturunan"


Min bertanya setelah dia selesai berbicara.


"Apa lelaki yang mencintai wanita akan menerima kecacatan nya?"


"Sudah barang pasti, jujur adalah pondasi nya, jika dasar nya cinta maka kejujuran itu akan lebih kuat karena diperkokoh oleh rasa kepercayaan, bagaimana pun seorang anak yang hadir meski tidak murni karena alasan apa pun tetap lah anak dari orang yang kita cinta itu sama berharga nya dengan orang yang kita cintai itu sendiri"


Min mencerna ucapan demi ucapan yang di lontarkan oleh Andreas. Min menerka semua kejadian nya, benar perkataan Andreas jika tidak ada Cinta mungkin tidak akan hadir kepercayaan. Min tidak pernah melihat masalah itu, memang selama menikah dia hanya pemuas nafsu dan stempel suami istri itu juga belum diketahui orang. Sejak awal menikah, Rei memang bukan suami nya tapi tuan nya.


"Terimakasih pak Andreas untuk hari ini sudah membantu ku, bisa kah kau membantu ku sekali lagi"


"Sebutkan saja, maka aku akan berusaha sekuat tenaga"


KLIK.


Mereka berdua menoleh setelah Min berucap demikian.


BERSAMBUNG.