TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.168


Herdan terdiam mendengar cerita sang mamah, adik kecil gadis nya itu menyelamatkan sang mamah dengan meminta bantuan dari adik ipar nya.


"Apa lelaki itu berkata sesuatu mah?"


"Dia ingin menyembunyikan pernikahan itu dari Min, dia bilang itu akan menjadi kejutan bagi Min"


"Benar kah?"


Herdan sudah tidak tahan dengan semua nya, namun jika dia mengungkap masalah 15 tahun lalu mungkin sang mamah akan shock dan kemungkinan terburuk nya akan meninggal di tempat. Herdan tak mau menyia-nyiakan usaha sang adik, yang harus dia lakukan sekarang adalah menyelamatkan adik nya.


"Jangan tegang, adik mu sudah dewasa juga dia meski awal nya tak suka mungkin seiring waktu dia juga bisa bahagia"


"Benar kata mamah"


Ucap Herdan tersenyum canggung.


"Mamah percaya akan takdir"


Herdan mengangguk, lalu segera pamit.


"Mah, iku lah Herdan ke kota"


Mamah Laula tersenyum manis.


"Sejak 15 tahun lalu, mamah sudah sangat suka tinggal disini"


"Mamah tidak ingin ikut Herdan?"


"Mamah akan selalu disini, jika kalian senggang maka berkunjung lah"


"Mamah yakin, disana Herdan bisa menjaga mamah"


"Terimakasih nak, mamah suka disini"


"Baik lah, mamah hati-hati ya, jaga kesehatan, ini untuk mamah pin nya ada di amplop"


"Tidak usah nak"


"Tolong diterima mah, tolong anggap Herdan anak mamah juga"


"Herdan kan memang anak mamah"


"Terimakasih mah, Herdan pamit"


Di mobil Herdan menangis dengan tersedu-sedu karena dia sudah gagal.


Drrtt .....drrtt.


"Cari tahu detail nya seluruh kejadian adik ku berhubungan dengan CEO perusahaan xx"


"Baik bos"


Herdan melajukan mobil nya kearah hotel xx, dia segera menghubungi sang istri.


"Ada apa, ini belum jam istirahat siang"


Namun sedetik kemudian Riana terkejut karena mata suami nya memerah.


"Sayang ada apa?"


"Aku gagal Riana, aku terlambat"


"Gagal, terlambat bagaimana?"


"Adik ku sudah dibawa pergi seseorang, aku terlambat Riana"


Riana terdiam sejenak.


"Siapa yang membawa adik mu?"


"Rei"


Deg.......deg.


"Apa kau bercanda!"


Suara Riana meninggi, namun disambut gelengan oleh Herdan.


"Apa kau sudah menyelidiki nya?"


"Tentu saja, namun orang ku hanya mendapat info yang Rei bocorkan saja selebihnya dia yang atur"


"Bagaimana bisa Rei menemukan adik mu terlebih dahulu?"


"Entah lah, aku bingung Riana"


"Kapan kau akan pulang?"


"Malam ini, mamah tidak mau ku ajak sayang"


"Ya sudah pulang saja dulu, jangn beri tahu siapa pun dulu mengenai kabar ini"


Riana menutup sambungan ponsel nya dengan sang suami. Lantas menghubungi adik lelaki bungsu nya yang kejam dan dingin.


Drrtt .....drrtt.


"Iya kak"


"Kau ada dimana?"


"Di kantor"


"Seminggu ini kakak hubungi tak ada jawaban"


"Aku ada proyek di desa xx"


"Herdan juga ke desa xx 3 hari lalu"


"Benar kah?"


"Kapan kau pulang?"


"Tadi pagi"


"Kau tidak bertemu suami kakak disana?"


"Tidak, mungkin di tempat yang berbeda"


"Benar juga, apa kau lelah? bagaimana kalau makan malam di puncak villa mu itu"


"Baik lah"


"Deal ya"


"Ok"


Tut.


BRAAKKK.........


Rei membanting ponsel nya hingga hancur. Aryos segera datang menghampiri bos nya.


"Ada apa tuan muda?"


"Ganti ponsel"


"Baik tuan"


"Silahkan tuan"


Rei mengambil ponsel nya.


"Pergi ke villa beri tahu paman James dan bibi Arta siapkan makan malam untuk nona Jasmin lebih awal lengkap dan kunci semua pintu kamar dan jendela dari luar, aku ada tamu penting sampai jam 10 malam"


"Baik tuan muda"


Aryos bergegas menyelesaikan tugas nya dengan mengkonfirmasi informasi pada paman James selaku kepala pelayan dan koki rumah wanita bibi Arta.


"Kak, rupa nya kau sangat mencintai suami mu"


Ucap Rei tersenyum devil.


"Kita lihat kau atau aku yang memohon dan berlutut"


Rei menenggak segelas anggur merah nya yang manis namun membakar di tenggorokan.


"Aku baru saja menemukan mainan baru, kau sudah tidak sabar untuk berebut dengan ku"


BRAAKK.....


Semua hiasan meja yang terpajang dengan baik Rei sapu ke lantai sehingga beberapa diantara nya berceceran.


Rave masuk ke ruangan Rei, mata nya membulat sempurna dengan melihat ruangan Rei yang seperti kapal pecah.


"Ada apa?"


"Tidak ada"


Rei sudah setengah botol menenggak anggur merah nya.


"Sudah jangan minum lagi, istirahat lah"


"Jangan menghalangi ku, Rave"


"Ingat untuk jaga kesehatan mu, mengerti lah"


Rei menatap wajah Ravenda.


"Kau benar ha....ha"


Rei tertawa dengan ekspresi yang mengerikan, membuat Rave jadi ngeri sendiri.


Rei teringat dengan kuda liar manis nya, wanita kecil itu sudah berada di tangan nya tidak boleh disia-siakan.


"Suruh orang untuk membersihkan"


"Baik lah"


Rei bergegas ke kamar rahasia nya, untuk mandi dengan bersih dan segar lantas menghilangkan rasa mabuk dan bau alkohol di badan nya.


Meski baru pukul 3 sore Rei sudah pulang ke villa nya. Dia menyaksikan wanita buruan nya sedang menyiram bunga-bunga indah yang sang mamah dan nenek nya sukai.


"Rupa nya suka bunga juga?"


Perkataan Rei jelas mengagetkan seorang gadis, siapa lagi jika bukan Jasmin.


"Tuan sudah pulang, maaf saya hanya memetik beberapa tanpa ijin"


"Ini kebun bunga yang ditanami mamah dan nenek kalau kau suka kau boleh memiliki nya"


"Terimakasih tuan"


"Kemari lah"


Min mengikuti Rei menuju lift menuju ruangan atas, masuk ke sebuah kamar.


'Bukan kah ini kamar ku?'


Tanya Min dalam hati.


"Aku sangat lelah, pijat lah"


"Baik tuan"


Min hendak menyentuh lengan Rei.


"Apa orang memijat dengan pakaian nya juga?"


"Aku akan buka"


Min maju untuk membuka pakaian lelaki itu, jantung nya berdetak kencang. Satu demi satu kancing baju milik Rei, Min buka hingga melepas nya. Terpampang otot yang kuat, atletis, ramping tanpa lemak dan yang pasti menggiurkan.


"Ayo pijit"


"Baik tuan"


Muka Min memerah, bagaimana pun Min seorang gadis yang belum pernah mengenal pria.


"Lebih kuat sedikit lagi"


"Iya"


"Baik ke badan ku, pijat punggung"


"Iya"


"Kau belum pernah menyentuh lelaki kah?"


Min hanya terdiam, memijit hingga puas lelaki yang menjadi dudukan diri nya.


"Berdiri lah aku mau balik badan"


"Baik"


Rei membalik badan nya, hingga terpampang otot sampai ke bagian perut nya.


"Duduk dan pijat lah lagi"


Min hanya mengangguk, sepanjang memijat Min menundukkan wajah nya.


"Pijat bagian dada"


"Baik"


"Yang fokus"


"Iya"


"Kenapa tidak fokus"


"Maaf"


Rei memperhatikan wajah istri rahasia nya, wajah yang sangat cantik, mulus, bibir kecil dan sedikit tebal. Memang gadis ini sangat cantik di tambah lagi dia belum pernah berpacaran sekali pun. Rei tersenyum smirk.


GREEPPP....


Rei menarik tangan Min, hingga gadis itu membentur dada bidang Rei. Dengan segera Rei menundukkan wajah nya dan mendongakkan wajah istri nya secara paksa. Hingga Rei mencium lembut bibir tebal Min, mencecap manis bibir itu beberapa saat. Min memberontak sebisa mungkin namun posisi mereka sudah berbalik, Rei diatas diri nya. Min jelas gemetar dan tak tenang, tangan nya yang digenggam kuat Rei memberontak dengan kuat hingga merah.


BERSAMBUNG.