
Praanng....pranngg.
Teriakan demi teriakan menggema di lantai 3, semua pelayan harap-harap cemas. Pasal nya nona mereka ini 30 menit lalu masih memakan makan siang nya dengan gembira, namun ketika menerima telepon dari nomor asing dia langsung menuju keatas serta menimbulkan huru-hara itu.
"Sedang apa kalian?"
Tuan besar Aryandy datang ke rumah yang saat ini Smith tempati. Salah satu pelayan lelaki berlari kemudian menjelaskan situasi nya.
"Ada apa lagi ini?"
Tuan besar itu naik untuk mengetuk pintu kamar putri semata wayang nya.
Tok.....tok.
Beberapa kali pintu kamar anak nya, dia ketuk.
"Pergi....pergi kalian keparat.....!"
Teriakan itu menggema di kamar putri nya.
"Karen ini papah, buka pintu nya"
Ucap sang papah.
"Papah......"
Klek.
Pintu segera terbuka, memperlihatkan wanita dewasa yang berlari menghambur ke pelukan sang papah. Sang papah begitu terkejut dengan kamar anak nya yang berantakan. Semua benda-benda di banting juga di pecahkan di tempat.
"Ada apa ini?"
Karenina hanya terdiam.
"Bisa bicarakan dengan papah secara baik-baik, tidak seperti ini, papah sudah bilang kendalikan emosi mu"
Sang papah berbicara secara halus dengan sang putri lantas Karen sedikit tenang.
"Bersihkan kamar nona dengan cermat, jangan sampai ada yang melukai kulit nya saat dia ingin tidur"
Aryandy segera memapah putri tunggal nya menuju ruang keluarga, disana sudah ada mamah dari Karenina menunggu.
"Kenapa pah?"
Tuan besar Aryandy hanya diam saja, sedikit menggeleng karena tidak tahu masalah sang putri nya. Keluarga Aryandy sedang di ributkan oleh putri semata wayang nya sementara keluarga Alkatiri sedang bersuka cita karena menantu mereka hamil.
"Rayz kapan Indy akan pulang?"
"Ini sedang ada dokter transit dad"
"Baik lah"
Mereka tidak mengemas apa pun, karena tidak membawa apa pun. Hanya pakaian Aksara yang waktu membopong Cinta itu sudah di buang karena terkena darah.
"Keadaan ibu sudah cukup baik ya Bu, tapi harus tetap di jaga, nanti di ambil vitamin juga penambah darah nya karena ibu mengandung beberapa janin kembar maka nya kekurangan darah"
"Baik, terimakasih dok"
"Sama-sama"
Setelah dokter keluar Melki datang menjemput, membawa kursi roda.
"Silahkan nyonya"
"Aku bisa jalan"
Aksara melihat Melki, Melki segera menunduk dengan cepat lantas meminggirkan kursi roda nya.
"Ayo jalan"
Cinta turun dari ranjang, berjalan perlahan, sedikit demi sedikit, memang agak nyeri di bagian perut bawah nya. Aksara juga memperhatikan masalah itu, namun dia dengan sabar berada di samping istri nya.
"Masih sakit?"
Cinta terdiam, dia sedikit malu karena menolak kursi roda yang Melki sediakan.
Hap.
Tiba-tiba tubuh nya melayang, karena di gendong Aksara, muka Cinta begitu bersemu lalu menunduk menyembunyikan diri. Malu sekali Cinta rasakan karena digendong di depan keramaian meskipun Aksa itu suami nya sendiri. Tak jarang ibu-ibu yang ada di rumah sakit berbisik, ibu hamil juga para perawat yang lewat.
"Sudah sampai lobi rumah sakit tuan"
"Iya kenapa memang"
Dengan ekspresi datar Aksara berbicara, pada hal ingin sekali tersenyum bahkan tertawa juga mencium istri nya dengan mesra, namun Aksa urungkan karena melihat kondisi saat ini.
'Kapan aku harus menahan semua ini'
Gumam Aksa gemas sekali pada si pelaku penculik istri nya ini.
Sementara Melki mengambil mobil, dan begitu pun saat ini foto Aksa menggendong Cinta sudah ada di hadapan orang yang mereka cari.
"Tuan mobil sudah siap"
Aksa mengangguk lalu memasukan istrinya juga diri nya ke dalam mobil. Memakaikan sabuk keselamatan pada Cinta, mobil melaju perlahan tidak terburu-buru.
Cinta tahu ini jalan menuju rumah utama.
"Tuan kita mau kemana?"
"Ke rumah utama sayang"
Mata Cinta melotot, Aksara merasa aneh dengan mulut nya, dan itu mendapat kode dari Melki. Dengan segera Aksa mengubah mimik raut wajah nya menjadi datar.
"Ekhh kita ke rumah utama, Daddy dan mommy yang mau kita tinggal disana, ya karena kau sedang hamil"
"Baik lah"
"Baik"
Melki mengemudi perlahan, ketika sampai taman 3 blok dekat dengan komplek perumahan keluarga Alkatiri.
"Tuan bisakah berhenti sebentar di depan?"
"Ada apa?"
"Aku melihat penjual kembang gula"
Aksara menatap istri nya.
"Aku ingin turun membeli nya"
"Melki di depan taman turun sebentar, kau belikan lah kembang gula itu"
"Baik tuan"
Mobil berhenti, Melki turun menyeberang jalan untuk membelikan kembang gula untuk nyonya muda nya.
"Biar Melki saja yang membeli, kita disini saja, terlalu berbahaya jika kita keluar"
Duuaarr.......
Benar saja yang dikatakan Aksara, setelah kembang gula dibeli Melki. Melki hendak menyebrang jalan kembali, namun dari arah kanan mobil sedan hitam melaju kencang ingin menyabet tubuh Melki. Dengan sigap Melki menghindar meski tangan nya harus menggores aspal.
"Ahhhh......"
Aksa segera menutup mata Cinta, agar tidak melihat kejadian itu. Disana orang-orang sudah berkerumun, tak berapa lama polisi datang.
"Dino datang jemput kami, Melki ditabrak"
"Baik bos"
10 menit kemudian Dino datang, mengurus Melki yang sedang ditanyai polisi.
"Bos, apa ada yang terluka?"
"Tidak ada"
"Baik lah"
"Mana Melki?"
"Saya disini tuan"
"Saya suruh beberapa pengawal untuk antar Melki ke rumah sakit bos?"
"Tidak! kalian semua pulang, cepat"
"Baik"
Dino membawa mobil yang semula dikendarai Melki, sedangkan Melki duduk di kursi sebelah Dino. Sementara para pengawal membawa mobil yang Dino kendarai untuk menyusul mereka.
Tak berapa lama mereka tiba di rumah utama.
"Suruh dokter obati Melki"
"Baik bos"
Sementara Aksara menggendong Cinta untuk masuk kedalam rumah utama. Begitu membuka pintu mereka disambut dengan hangat, ada syukuran kecil-kecilan mengundang ustad juga anak yatim untuk mendoakan.
Aksara menurunkan Cinta di ruang makan untuk segera menikmati hidangan.
"Jangan terlalu banyak bergerak ya"
"Iya"
Aksara segera ke depan untuk bergabung bersama dengan kedua orang tuanya, menyalami tamu, ustad juga anak yatim yang mereka undang.
Cinta mengambil makanan sehat, juga dituangkan jus oleh pelayan yang ada di samping nya.
"Sudah makan?"
"Sudah"
"Ayo kita istirahat"
"Tapi tuan, aku belum menyambut para tamu"
"Tidak usah aku sudah bilang kamu kurang sehat"
"Baik lah"
Cinta mengangguk.
"Ayo sudah malam harus segera istirahat, kamu sedang hamil"
Aksara segera memapah istri nya untuk menuju kamar mereka di lantai dasar. Setelah mereka mandi kemudian segera naik ke ranjang.
"Minum vitamin nya dulu"
"Iya"
"Ini susu nya juga diminum itu sudah hangat kok"
"Ini susu apa?"
"Buat ibu hamil, kenapa?"
Cinta menggeleng, langsung meneguk susu nya meski rasa nya agak mual tapi dia habiskan. Dalam samar Aksa tersenyum tipis.
BERSAMBUNG.