TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.342


CEKIITTT........


Mobil Andra terparkir dengan sempurna di halaman rumah yang nampak kosong, tua, dan kumuh.


"Ayo kita sudah sampai"


Ucap William pada semua orang yang ikut dengan nya itu.


Andra dan semua anak buah nya mengedarkan pandangan nya pada rumah yang reot itu. Mereka mengikuti William yang berjalan masuk ke dalam rumah itu.


Dan ketika William mulai membuka pintu rumah itu dengan menempelkan sidik jari nya maka terbuka lah pintu besi yang sengaja dibuat pintu yang reot.


Di dalam rumah itu sangat luas, megah dan mewah serta banyak sekali bodyguard yang berjasa dan siap siaga.


"Silahkan tuan"


Salah seorang dari bodyguard kepercayaan milik William akan menunjukkan tempat dimana wanita yang sudah berbuat kejahatan itu di sekap.


Mereka semua menaiki lift yang tersedia menuju lantai 3 bawah tanah. Setelah lift terbuka maka mereka melihat lorong gelap yang bau terutama bau darah yang menyengat.


KLAK......


Bodyguard milik William itu menyalakan saklar lampu yang ada di lorong itu, agar mereka bisa berjalan.


"Di blok 3 tuan"


William mengangguk saja lantas menuruti langkah bodyguard nya sebagai penunjuk jalan.


Sesampai nya mereka di hadapan ruangan itu nampak satu karung tergeletak di lantai yang basah itu.


"Buka"


Suara William menggema lantas ada kedua bodyguard yang berjaga itu membuka ikatan karung yang tergeletak itu.


Sekarang terpampang lah dengan nyata bahwasannya di dalam karung itu seorang wanita.


"Dia bukan Carmen"


Semua bodyguard terperanjat kaget, namun nyata nya wajah itu sangat sama persis. Begitu pula dengan Andra, wanita itu nyata nya memang sama persis dengan wanita yang mencelakai istri nya di pesta milik Will dan Lisa yang kini sudah menjadi kakak ipar nya itu.


"Kok bisa kita kecolongan?"


Tanya Andra geram.


"Benar karena setahu ku, Carmen memiliki teknis perias handal dan juga topeng, mereka tidak akan ada yang tahu wajah Carmen sesungguh nya"


Andra mengangguk saja, mungkin pengetahuan Will tentang wanita itu lebih banyak dari pada diri nya.


"Lalu sekarang kita harus bagaimana?"


"Tentu kita akan mengerahkan semua anak buah kita, aku akan mencetak sidik jari Carmen dan mencari nya lewat tanda sidik jari, karena wajah Carmen yang asli kita semua tidak ada yang tahu"


"Baik lah kalau begitu"


"Jadi biarkan tim ku yang akan bergerak dengan mudah dan damai sementara kita fokus dahulu dengan para istri kita"


Ucap William sambil tersenyum, Andra mengerutkan kening nya. Menghela nafas berat, memang begitu keadaan nya.


"Baik lah aku serahkan pada mu saja"


William mengangguk dengan senang nya karena sahabat nya itu masih mau mendengarkan kata-kata nya.


Andra juga berfikir mungkin lebih baik fokus dahulu untuk kesembuhan hati dan mental istri nya.


"Bila perlu kita adakan bulan madu bareng bagaimana?"


"Memang aku dan istri ku baru 4 bulanan menikah dan ya kami sangat sibuk hingga kehadiran bayi kami sempat tak ku ketahui"


Ucap Andra, ada rasa sesak yang menyeruak masuk ke relung hati nya, seakan dada nya sesak menerima hal yang begitu mereka damba lantas kehilangan begitu saja.


"Maaf sobat, kebahagiaan ku merebut kebahagiaan mu"


"Mungkin sudah jalan takdir nya seperti ini"


"Siap bos"


Mereka semua keluar dari markas milik William menuju rumah sakit, karena istri mereka masih berada disana.


1 jam berkendara akhir nya mereka sampai dengan kondisi yang begitu melelahkan.


Andra dan William masuk ke dalam rumah rawat untuk segera bertemu istri mereka. Will melihat Lisa sudah berpakaian rapih dan cantik, dengan hanya menggunakan kaos kebesaran dan jeans saja serta rambut nya yang di kuncir kuda.


Andra sendiri sudah melihat wanita yang memakai seragam pasien dengan selang infus yang tertancap di lengan kiri nya itu.


William sudah duduk di sebelah istri nya sedangkan Andra sudah disamping ranjang istri nya.


"Mas sudah pulang?"


"Iya sayang, maaf ya sudah meninggalkan mu"


Ucap Andra manis dan lembut dengan perkataan nya itu. William sejenak tertegun, kemudian dia pun sadar bahwasannya diri nya harus belajar dari sobat nya ini.


William yang mengenal Andra ini sebagai lelaki cuek, cool, angkuh lagi arogan tapi tidak di hadapan wanita yang dia cintai semua sikap itu hilang tergantikan menjadi lelaki yang sabar, penyayang, lembut bahkan sangat hangat.


Lisa melihat kehangatan yang adik nya terima dari lelaki yang dia cintai, Lisa melirik Will suami nya yang sedang serius memperhatikan lelaki yang menjadi suami adik nya yang tak lain adalah sahabat nya itu.


Will yang merasa di perhatikan oleh tatapan seseorang pun menoleh, dengan jarak sedekat ini dengan istri nya.


"Kenapa?"


Lisa yang ketahuan memperhatikan lelaki yang sudah menjadi suami nya itu sangat malu, wajah nya yang memang sudah putih sedari lahir agak memerah karena malu.


William tersenyum sedikit nya tahu jika wajah wanita bersemu arti nya sedang dalam rasa malu atau rasa tak percaya diri pada lawan jenis yang di sukai nya.


"Tidak apa"


Jawab Lisa sambil menundukkan kepala nya, tingkah mereka itu di lihat sepasang pasangan muda di sebelah nya.


"Kak Will, kak Lisa itu pemalu loh kalau masalah perasaan, dia tidak pernah memaksa meski pun ya sifat nya lebih bar-bar dari aku"


Lisa yang mendengar celotehan wanita yang 8 tahun lebih muda dari nya itu pun langsung mendelik kesal.


"Ih apaan sih dek, tidak begitu juga tau"


Elak nya.


"Orang iya kok lah kemaren pas sama calon tunangan ku itu kak Lisa tidak pernah menyuruh dia bertanggung jawab pada hal sama-sama cinta tapi diem aja nggak berani berkata"


"Ih nggak ya, aku berani kok"


"Berani apa?"


Tantang Rindi, Lisa jadi bingung sendiri mau apa sebenar nya. William tersenyum, jadi Lisa bukan wanita pembangkang meski keras kepala.


Rindi tersenyum geli.


"Suka banget menggoda kakak mu itu"


"Biarin, biar ada hiburan"


Andra langsung memeluk istri tercinta nya melabuhkan beberapa kecupan di pucuk kepala istri nya.


"Aku masih bau loh yang"


"Iya ya, tapi aku cinta kok"


William pun kini membelalakkan mata nya karena gombalan sederhana tapi membuat istri sahabat nya itu luluh mereka sangat mesra dalam berpelukan dan pandangan mereka menyiratkan cinta yang begitu mendalam.


"Mau pulang hem?"


Lisa menggelengkan kepala nya, dia ingin menemani adik satu-satu nya itu.


BERSAMBUNG.