
Pembatalan pertunangan sudah berlalu selama seminggu, Andra juga menelpon gadis itu sudah beratus bahkan beribu kali namun nihil hasil nya.
Andra sudah berkeliling ke seluruh restoran, perkantoran, universitas bahkan itu dia lakukan setelah pulang kerja atau jam makan siang namun semua nya nihil. Rindi seolah hilang bak ditelan bumi.
Sudah sebulan tak ada kabar tentang gadis belia itu, lantas pekerjaan Andra setiap saat sibuk menatapi ponsel nya. Semua itu bukan tanpa alasan melainkan menanti pujaan hati nya agar menyapa nya. Nomer milik gadis itu bahkan Andra hapal di luar kepala.
Bulan berganti, musim demi musim berganti bahkan tahun pun berganti. Hingga 5 tahun kemudian, di universitas ternama di belahan dunia lain tepat nya di negara A.
Gadis cantik yang sedang tersenyum, saat ini dia duduk di bangku kayu di pinggir jalan. Suasana nya musim semi menjelang petang, wangi bunga bak serbuk madu yang bisa menjadi candu.
"Harum nya manis sekali"
Gumam nya, ya dia lah Rindi gadis yang sudah tumbuh dewasa seiring bertambah nya umur. Dia sudah tinggal di negara A selama 5 tahun untuk memperdalam ilmu di negara orang.
"Ternyata kau disini?"
Rindi menoleh tersenyum pada lelaki itu, lelaki itu hanya menggelengkan kepala nya saja. Tiap musim semi gadis ini suka berkeliaran demi mencium harum bunga kata nya.
Percaya lah tidak akan ada orang konyol yang mengatakan hal tersebut. Lucas Admire adalah kakak tingkat nya, pemuda periang yang 5 tahun lebih tua dari Rindi.
"Kenapa kau menyusul ku?"
Oh ya ampun kalau boleh sebal dengan gadis ini, bisakah Lu menggetok kepala nya. Gadis ini seolah berlari sekena nya tanpa peduli bahaya, sehingga Lucas sendiri sangat khawatir.
"Profesor Ben datang?"
"Apa ada tugas penting?"
"Entah lah, ayo cepat pulang!"
"Iya"
Rindi beranjak dari tempat duduk nya, dia menghampiri pemuda tampan si Lucas itu. Lucas yang menyebalkan juga kadang perhatian, dia salah satu teman akrab yang Rindi miliki.
Mereka berjalan beriringan, Lucas sudah menenteng makanan siap saji. Meski kadang Ben pria yang lebih tuan 10 tahun dari Lucas itu membenci makanan siap saji namun dia akan memakan nya juga.
Tak berapa lama akhir nya mereka sampai di apartment yang tak jauh dari kawasan kampus yang elit di negara A. Rindi tidak ingin asrama selain fokus dalam pelajaran, peraturan ketat, juga dia dilarang keluar malam hari.
Rindi membujuk paman nya supaya di perbolehkan untuk menyewa apartment sederhana namun nyaman. Tapi Rindi tidak di lepas oleh paman nya begitu saja karena nyata nya paman nya menitipkan nya pada sahabat nya yang tinggal di negara A.
Di depan apartment nya itu, Rindi melihat lelaki jangkung dengan perawakan sexy dan berotot. Bila mungkin wanita lain pasti akan bertekuk lutut di hadapan Ben. Rindi hanya nyengir kuda seolah tak bersalah, pada hal diri nya membuat lelaki itu berdiri sekitar 2 jam lebih.
"Selamat malam prof"
"Cepat buka pintu nya"
"Sabar dong!"
Ucap Rindi dengan lembut dan terkesan manja. Mereka masuk bertiga ke dalam apartment milik Rindi yang telah dibelikan oleh paman nya.
"Nah ini makan malam kita di tanggal tua!"
Ucap Lucas sambil menaruh makanan di meja, lelaki yang lebih muda dari Ben itu menata makanan di meja.
"Apa ada pekerjaan penting prof?"
Ben Derian menggeleng perlahan, membuat Rindi mengernyit heran.
"Memang kenapa om?"
Ben menghela nafas nya beberapa kali.
"Om punya riwayat penyakit mematikan ya?"
PLETAAKK.......
Jitakan maut mendarat di kepala Lucas, lelaki itu selalu berkata konyol. Ben adalah om dari Lucas yang mengajar di universitas Lucas dan Rindi saat ini.
"Apa benar om?"
"Jangan tanggapi ucapan bocah konyol itu"
Seketika Ben mendelik seram, karena ulah Lucas keponakan nya.
Rindi hanya tersenyum, tindakan kedua lelaki dewasa itu membuat diri nya geli. Rindi pun teringat akan keluarga nya, baik paman nya atau pun keluarga ayah nya.
Flashback on.
Seminggu sebelum acara pertunangan Andra, Rindi berniat tinggal dengan paman nya setelah mengetahui kebenaran jika ibu kandung nya sudah meninggal.
Paman nya selalu membujuk diri nya diawal namun Rindi berat berpisah dari ibu nya karena Rindi mengira istri ayah nya adalah ibu kandung nya.
"Baru pulang juga kamu?"
Ucap Afar, yang melihat putri bungsu nya itu baru turun dari mobil angkutan.
Rindi tersenyum manis, mata Afar nampak membola. Senyum itu tak lain senyum milik wanita tercinta nya.
"Pah kenapa?"
Rindi karena tiba-tiba sang papah menatap nya sambil melamun.
"Ah, oh, papah tidak apa sayang"
Rindi mengerutkan kening nya karena baru di ucapkan oleh papah seumur hidup Rindi.
"Ayo kita masuk sudah sore"
Rindi mengangguk.
Mereka memasuki rumah megah milik Afar itu.
"Pah,"
Afar menengok.
"Aku ingin bicara sesuatu penting dengan papah"
"Oke, papah mandi dulu ya"
Rindi mengangguk, diri nya juga butuh mandi. Setelah satu jam anak dan ayah itu menuju ruang keluarga.
"Katakan"
"Rindi mau tinggal sama paman?"
Rindi berkata dengan hati-hati, dia menunduk takut dengan sang papah. Beruntung sekali di rumah tidak ada orang.
"Kenapa begitu?"
Rindi mendongak melihat ekspresi dingin papah nya.
"Aku papah mu dan kau anak ku kita wajib tinggal satu atap, kenapa harus berpisah"
Rindi menunduk terdiam tak ingin melihat muka sang papah. Dia juga pernah mengutarakan pisah rumah saat akan menginjak ke SMA.
"Papah mengerti kau bosan, kau diasingkan"
Rindi hanya menunduk tak ingin mendengar apa pun lagi. Karena sejujur nya sang papah tidak pernah mau mendengarkan permintaan nya sekali pun.
"Tapi papah ingin selalu kamu ada di hadapan mata papah, papah ingin melihat mu tumbuh di hadapan papah"
Afar menjeda ucapan nya.
"Papah tahu kau lelah tinggal disini, tapi jangan pernah pergi selain bukan menikah dengan seorang lelaki"
Mereka ayah dan anak sama-sama terdiam, suasana terasa hening seperti di pekuburan.
"Pah"
Rindi ingin sekali lagi membujuk papah nya yang keras kepala ini.
"Iya"
"Tolong Arin ingin menjadi berguna ketika tinggal disisi mu, Arin tahu karena Arin tidak bisa melakukan apa pun, jadi biarkan Arin mencoba dunia baru itu"
Entah apa yang di renungkan oleh papah nya hingga kembali hening nampak nya lelaki paruh baya itu sedang mencerna kata demi kata yang Rindi ucapkan.
"Maaf nak, karena menginginkan mu tetap tinggal jika kamu tidak bisa apa pun"
Beruntung duo siluman kutub tidak ada di rumah, mereka sedang bersenang-senang nampak nya.
"Jadi.....!"
"Papah ijinkan kau menggapai cita-cita mu, pergi lah ke paman mu jadi lh wanita berguna"
"Terimakasih pah"
Rindi bersorak gembira, namun lelaki paruh baya itu kemudian masuk ke kamar nya. Rindi tidak harus mengungkapkan tujuan nya sekolah atau belajar keterampilan.
BERSAMBUNG.