
Prang.......
Sepasang suami istri paruh baya keluarga ternama itu menengok kearah pecahan guci kaca yang berhamburan di lantai.
"Mah, pah......."
"Kau sudah pulang Rindi?"
Anak gadi keluarga Mukti itu terlihat tidak ceria karena kata-kata kedua orang tua nya.
"Ayo duduk lah, papah ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan mu?"
Putri kedua Arindi Meysarah Mukti dari pasangan Afar Mukti dan Melina Muktu itu baru saja menyelesaikan ujian nya. Gadis itu berusia 18 tahun, dia ingin melanjutkan ke universitas bergengsi di negara Z.
"Kenapa pah?"
Sang papah menundukkan kepala nya itu, dia berat mengatakan nya padahal itu harus dia lakukan. Sangat di sayangkan Rindi adalah anak yang sangat cerdas lagi pendiam.
"Rindi, maafkan papah, kamu tidak boleh melanjutkan kuliah"
Pernyataan itu jelas membuat Rindi kecewa.
"Baik lah pah tidak apa, Rindi mengerti kok"
"Maafkan mamah nak, mas Bayu sudah mendesak agar bertunangan saja dulu"
"Bukan kah mas Bayu seangkatan dengan kak Lisa mah?"
"Kakak mu sudah janda jadi Bayi tidak mau"
"Jadi harus Rindi yang dinikahkan dengan mas Bayu?"
Mereka sepasang ayah dan ibu itu mengangguk secara bersamaan.
"Kak Lisa cantik, mandiri bahkan punya karir"
"Sudah lah Rin papah pusing ini, kamu tinggal menurut saja"
"Baik lah pah"
Rindi segera ke kamar nya di lantai atas, sejak kecil dia selalu tinggal sendiri seperti anak tiri saja. Rindi segera menghubungi teman-teman yang mau mendaftar di kampus bergengsi itu, dia mengabarkan jika diri nya tidak akan kuliah.
"Kok bisa begitu?"
Kata Serena teman sebangku Rindi.
"Kamu gak fear tahu sayang?"
Lanjut Mila.
"Ya mau bagaimana lagi papah sama mamah yang mutusin buat aku tunangan sama mas Bayu"
"Iu, kamu mau tunangan sama lelaki itu yang dua bulan lalu datang ke sekolah kita?"
Ucap Meli.
"Begitu kira-kira"
"Ngomong dong sama papah mamah mu, tolak lelaki itu"
Lanjut Serena.
Rindi terdiam mendengar celotehan mereka berdua, mereka sibuk berdiskusi sementara Rindi di lupakan.
"Sayang kok kamu diam saja?"
Tiba-tiba Serena sadar jika teman satu nya melamun di balkon rumah lantai dua itu.
"Kan sedang mendengarkan kalian berdiskusi"
"Paling sebel kalau jawab begitu?"
Ujar Meli.
"Jadi beneran kamu tidak bisa kuliah sayang?"
Ucap Serena yang kemudian berubah sendu.
"Oh, gak seru...gak seru"
Meli sudah membalik wajah nya karena takut ketahuan menangis.
"Ih kok kamu melow sih!"
Ucap Serena sebenar nya dia juga mulai menangis.
"Kan impian juga ada yang tidak kesampaian loh"
"Kok si ayang sok sok bijak!"
Meli menjerit.
"Iya sih non, kok kamu ngomong gitu?"
"Kita tetep saudara dong, hanya mungkin impian ku ini akan terlambat"
Ucap Rindi menenangkan kedua BESTie nya.
"Ya udah kita juga tidak usah kuliah lah Mpok"
Ucap Meli pada Serena.
"Kok kamu ngatur Cil?"
Serena tiba-tiba membentak Meli.
"Kok Mpok jadi merah ke aku?"
Mereka jadi bertengkar sendiri.
"Sudah dong kalian kenapa sih?"
Meli sudah menundukkan kepala nya.
"Iya loh non, kita kan sudah janji bareng-bareng sampe nenek-nenek"
Ucap Serena mengingatkan, mereka masih kekeuh buat Rindi bersama mereka.
"Kan kita masih bisa main, video call, juga masih bisa hang out kan?"
Mereka terdiam satu sama lain.
"Kenapa tidak kabur dan cari cowok itu?"
Meli mulai meracau, Serena mendelik kejam.
"Ya jangan mendelik juga Mpok, serem amat kaya nyai Kunti!"
Ucap Meli.
"Kamu Kunti nya, saudara mu semua Kunti"
"Berarti kalian dong"
"Kita nggak ya"
"Kan aku anak tunggal, wehh"
"Oh iya lupa krucil kan anak tunggal"
Akhir nya mereka semua tertawa, tak berapa lama sambung Videocall mereka terputus karena Rindu sudah molor duluan.
Sampai sang mamah mengetuk pintu pun tidak menyahut saking lelap nya.
Flashback on.
Tepat nya 6 tahun yang lalu, Rindi anak kedua sengaja selalu dibawa oleh Afar Mukti sang ayah, dia tidak pernah membawa Lisa sebagai Putri pewaris nya. Perusahan yang Afar pimpin ini sedang meroket baik dari segi keuntungan hingga pemasaran. Perusahaan yang awal nya kecil hingga berkembang pesat ini seorang Afar lah yang mengembangkan.
Hingga ketika menghadiri jamuan pesta di gedung mewah dan megah di tengah kota yang dihadiri seluruh perusahaan bonafit.
"Pah, Indi ngantuk"
"Ayo turun, kita sudah sampai nanti Indi akan bisa makan enak loh"
Dengan malas gadi kecil yang berusia 12 tahun itu bangkit turun dari mobil meski malas.
"Wah megah sekali?"
"Benarkan?"
Rindi mengangguk, dia malam ini menggunakan gaun berwarna biru langit yang indah dengan rambut yang tergerai dan di tata oleh hair stylis yang ternama.
"Indi tunggu di sini ya, papah mau menyapa rekan bisnis dulu"
"Oke pah, Indi boleh makan ya"
"Iya makan saja tapi jangan berkeliaran, panggil papah kalau mau kemana-mana"
"Iya pah"
Sedari kecil Rindi sangat cantik, dia mirip dengan mendiang istri kedua Afar yang sudah tiada. Afar tidak tega meninggalkan putri bungsu nya namun dia harus menyapa kolega dan pembisnis kakap yang turut hadir disana.
"Hai cantik, boleh om duduk disini?"
"Silahkan om"
Rindi melihat lelaki matang itu sekitar berusia tiga puluhan, dia berpakaian rapi dengan rambut disemir mengkilap.
Rindi ingin ke toilet, dia mencari papah nya namun tidak ada di kerumunan itu. Jadi karena tidak tahan dia bertanya pada pelayan yang berlalu lalang.
"Aduh gak betah banget"
Rindi anak cerdas dalam sekejap saja sudah menemukan toilet itu, dia segera membuang hajat disana.
"Semoga papah tidak mencari Indi?"
BBUKKK.......
Terdengar suara, hingga mata Rindi menjadi buram dan gelap. Entah berapa lama Rindu baru sadar dari pingsan nya ketika merasakan tubuh nya berguncang.
'Aku sedang didalam kendaraan, kaki tangan terikat dan dimasukkan ke karung'
Gumam Rindi dalam hati, namun Rindi tetap tenang.
"Bos jalan rusak ini?"
Salah seorang dari penculik berteriak.
"Bahaya, putar balik!"
"Siap bos"
Ketika mobil berputar, entah keberuntungan atau kesialan yang menimpa Rindi. Mobil itu tergelincir, posisi Rindi tepat di pinggir jadi dia terlempar sebelum mobil masuk jurang. Karung yang membungkus badan kurus nya itu terlepas, gelap tak ada cahaya hanya cahaya mobil yang terbakar di dasar jurang itu.
Rindi berbalik tiba-tiba ada beberapa orang disana dengan pakaian hitam dan bertopeng.
"Siapa kalian? aku mau pulang!"
"Bos ini nona Rindi anak tuan Mukti"
"Antar pada orang tua nya"
"Tapi kita tidak ada misi untuk menyelamatkan nya, bos"
Si lelaki yang mereka panggil bos langsung mengangkat Rindi. Rindi secara seksama melihat di leher lelaki itu tergantung kalung putih dengan huruf A.
Flashback off.
BERSAMBUNG.