TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.90


Dokter segera berlarian menuju ruang rawat VVIP untuk memeriksa istri seorang Wicaksara. Semua nya nampak khawatir jika istri dari salah satu anak pemilik rumah sakit dalam keadaan fatal.


"Bagaimana dokter?"


Aksara bertanya dengan raut muka yang begitu cemas, sementara Cinta masih merasakan nyeri meski tidak langsung terjatuh menyentuh tanah karena bantal penyanggah.


"Semua nya baik-baik saja tuan"


Dokter senior yang menangani pasien VVIP itu menjawab sambil menunduk pada Aksara. Yang membuat lelaki itu semakin meradang.


"Katakan yang sejujur nya"


Aksara menarik kerah sang dokter.


"Awwwww............"


Cinta merasakan nyeri yang tak tertahankan. Aksara segera datang setelah melempar dokter tadi.


"Sayang apa yang sakit?"


Aksara datang menghampiri Cinta, ikut mengelus perut buncit itu.


"Sakit sekali, sakit.....!"


Bahkan Cinta sampai menangis. Aksara sungguh tertusuk hati dengan belati melihat wanita tercinta nya menangis kesakitan. Terus dielus dengan perlahan, berharap elusan itu mengurangi rasa sakit yang ditanggung Cinta.


40 menit lama nya kini ibu hamil memasuki bulan ke 4 itu terlelap. Aksara sedikit lega, menyingkirkan helaian rambut panjang yang menutupi istri nya yang cantik.


"Ayo ke ruangan mu"


"Baik tuan"


Aksara pergi ke ruang praktek dokter, mereka disana membicarakan tentang Cinta. Cinta baik saja, namun mereka belum memastikan nya jika Cinta benar ada nya sehat secara menyeluruh. Aksara kembali ke ruang rawat untuk bersama istri nya beristirahat karena hari mulai senja.


Karenina segera pergi dari restoran, awal nya wanita itu ingin menemui Kearo namun siapa sangka tersesat yang membawa nikmat. Dia tersesat namun bertemu istri dari Aksara, sungguh menyebalkan.


"Sebaik nya aku pulang"


Karenina segera pulang ke rumah, namun ponsel nya bergetar dan kakak sepupu sekaligus selingkuhan nya itu yang memanggil.


"Kenapa?"


"Kok belum sampai?"


"Aku lelah, lain kali saja"


"Ayo lah, ini di pinggiran kota"


"Baik lah"


"Kita honeymoon, sayang ku"


"Hem....."


1 jam kemudian taksi Karenina sudah sampai di pinggiran kota terpencil.


"Masuk sayang"


Lelaki itu menarik nya ke sebuah rumah kecil, memeluk tubuh langsing Karenina. Selanjut nya Karenina lagi dan lagi hanya bisa pasrah dibawah kungkungan lelaki itu. Kali ini dengan ritme yang cepat lagi panjang, sepanjang siang sampe sore mereka memadu kasih, lagi pula Karenina juga menikmati permainan sepupu tua nya ini yang sudah mau berkepala empat ini.


"Sudah puas belum? kita sudah 3 jam loh"


"Kan ada jedah nya, setiap 1 jam"


"Cepat lah"


"Menginap saja ya"


"Baik lah"


"Cepat tuntaskan"


"Baik lah"


Mereka segera tertidur, sementara ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi.


"Sial"


"Kenapa?"


Dino menepuk tangan kanan nya yang dia suruh mengawasi rumah dan dua orang yang sedang bercinta itu.


"Aku mengawasi mereka 3 jam hanya melakukan penyatuan saja tanpa henti"


"Apa ada pembicaraan pentin"


"Tidak ada"


Dino datang ke tempat itu karena misi nya telah selesai dilaksanakan. Dino juga mengawasi tugas seluruh pengintai dan pekerja nya.


Sementara didalam rumah Karenina sudah terbangun, di rasakan tubuh nya pegal semua.


"Sudah bangun sayang ku?"


Karen hanya melirik saya, Kearo tersenyum dengan tampan.


"Pakai baju mu sayang!"


"Mau apa?"


"Kita ke kebun teh yuk!"


Dengan segera Kearo memakaikan baju pada wanita nya itu.


"Aku belum setuju"


"Kita akan menemukan pemandangan yang indah"


Kearo menggendong Karenina menuju perbukitan yang rimbun.


"Nah bagaimana?"


"Cukup indah"


Tak menunggu lama Kearo sudah berhasil menyatu dengan wanita nya kembali, meski awal nya Karenina menolak. Para pengawal Aksara masih memperhatikan memfoto juga mengambil video mereka. Mereka masih bugil ditepi hutan itu.


"Turun lah, wajah ku panas sekali"


"Kan semua sudah ku lucuti"


"Wajah ku panas"


"Apa tidak ada orang?"


"Tentu saja aman"


Dengan segera Karenina melakukan nya. Kemudian mereka melanjutkan honeymoon mereka, bergumul hingga puas.


Sementara sekelompok orang tersenyum, bersorak dalam juga segera pergi dari tempat itu tanpa mengganggu mereka.


BERSAMBUNG