TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.287


Rindi berada di kamar nya, dia sudah hampir 4 bulan di rumah paman nya, berdiam diri bukan makan tidur tapi di tutor untuk menguasai keadaan yang perusahaan paman nya miliki.


Tok....tok....tok.


"Masuk"


Rindi sedang membaca buku panduan tentang perusahaan paman nya.


"Belum tidur?"


"Belum paman"


"Kenapa?"


"Sedang membaca"


Sang paman duduk di sisi ranjang, melihat keponakan nya yang sangat rajin.


"Lusa ada jamuan akhir tahunan, paman ingin mengenalkan mu pada beberapa relasi paman"


"Jamuan yang bagaimana?"


"Jamuan yang diadakan untuk para pebisnis agar lebih mengenal lagi dunia perbisnisan begitu lah singkat nya"


"Baik"


.


"Besok ikut paman ke kantor, apa sudah siap?"


Rindi mengangguk lalu tersenyum.


"Selamat istirahat"


Sang paman pergi dari kamar keponakan nya itu.


"Akhir nya aku kerja dan akan punya penghasilan, bukan kesana kemari tanam saham lagi"


Dengan semangat Rindi segera tidur agar besok dia bisa beraktifitas dengan baik. Rindi bangun pagi dengan segar pagi ini diri nya sudah mandi ketika baru pukul 6 pagi.


Rindi turun ke lantai bawah untuk segera sarapan pagi.


"Non mau kopi atau teh?"


"Berikan dia susu"


Sebelum Rindi menjawab, paman nya datang dan menyela.


"Rindi kan sudah 23 tahun paman!"


"Lantas"


Sang paman duduk di sebelah nya menyendok nasi goreng, mengambil telor ceplok, dan sosis.


"Kok cuma ada nasi goreng?"


"Ini pakai minyak zaitun"


Rindi mengangguk, dia juga menyendok nasi goreng itu memang sangat lezat ketika melewati indera pengecap nya.


"Ayo kita berangkat"


Tepat pukul 7 pagi paman dan keponakan itu pergi ke kantor.


"Arin mau pakai mobil sendiri paman"


"Tidak bisa"


"Nanti kalau ada rapat dan keperluan lain nya?"


"Diantar supir"


"Ih paman posesif"


"Demi keselamatan"


Rindi tidak menjawab lagi.


"Ini bukan luar negeri yang mana hukum langsung bertindak, disini banyak preman jika keadaan sepi dan juga banyak para pemodus"


"Iya"


"Kalau kamu ingin seperti itu, paman akan carikan asisten dan bodyguard untuk mu"


"Tidak usah lah paman"


Setelah nya tanpa ada perdebatan lagi.


"Nanti jangan kaget kalau ketemu pembisnis yang kasar asal mereka tidak melecehkan dan tidak mengajak ke tempat tertentu yang melanggar kontrak kerja"


"Iya, Arin ngerti kok"


"Kamu ngambek karena berpisah dengan si merah mu?"


"Itu mobil kok dikasih julukan"


"Mamah mu juga seperti itu"


30 menit kemudian mereka sudah sampai di perusahaan milik paman.


"Perusahaan kita ini lebih besar sedikit dari milik papah mu"


"Iya"


Paman dan Rindi turun dari mobil yang sama, semua pegawai sudah menyambut atasan mereka serta anak perempuan nya, begitu yang di informasikan.


"Besar ya paman kantor nya"


"Nanti ini akan jadi milik mu, jadi kelola lah dengan baik"


"Iya"


"Nah, itu meja mu untuk saat ini sampai 6 bulan kemudian paman akan memantau mu"


"Oke deh"


Rindi tersenyum dengan cepat dia duduk di meja yang di tunjukkan oleh paman nya. Rindi dengan cepat mengerjakan berkas yang ada di meja nya. Sang paman hanya menatap keponakan nya, dia sedang mengawasi keponakan nya itu.


Rindi memang sangat cerdas, semua bisa di selesaikan. Meski masih sang paman yang meeting kesana-kemari tapi tetap Rindi yang sudah menguasai semua nya dalam 2 hari ini. Malam ini ada acara jamuan tahunan, Rindi sudah memakai gaun malam berwarna navy sedangkan sang paman menggunakan jas hitam.


"Sudah siap?"


Rindi mengangguk, dia memoles wajah nya sedikit lebih tebal, menyanggul rambut nya dengan cantik dan modern. Rindi berdandan malam ini sesuai dengan acara nya formal namun tidak terlihat kuno.


Semua tamu di acara itu sudah berdatangan, karena memang acara akn di mulai tepat pukul 9 malam dan berakhir di jam 11 malam. Meski hanya dua jam tapi nyata nya itu sangat menguntungkan untuk pembisnis menengah sampai ke bawah karena bisa jadi mereka mendapatkan kepercayaan dari pembisnis kelas atas.


Ketika memasuki ruang jamuan, semua terlihat mewah beberapa ratus pasang meja dan kursi yang mewah. Beberapa hiasan bunga, set alat makan untuk jamuan semua nya bernilai fantastis. Lagi ada sebuah panggung untuk pembicara, pemberi saran atau berbagi pengalaman.


"Bagaimana?"


"Ya persis jamuan di seluruh dunia"


Sang paman tertawa mendengar nya, gadis kecil nya itu meski dari luar negeri rupa nya dia tidak pernah menghadiri jamuan disana padahal paman nya sudah berpesan Mike untuk mengajak ke beberapa acara. Dasar nya keponakan sahabat nya dan keponakan diri nya yang terlalu ulet.


Di meja paling depan, seorang lelaki paruh baya melambaikan tangan nya kearah mereka.


"Paman punya sahabat, ayo paman kenalkan pada nya"


Rindi mengangguk saja, dan menuruti langkah sang paman.


"Kau sudah datang?"


Tanya seorang lelaki paruh baya dengan remeh.


"Kali ini aku memang harus datang"


Dengan bangga sang paman melirik sisi sebelah nya.


"Pamer"


"Tentu saja, aku sudah punya pewaris ku"


"Hai gadis cantik"


Rindi yang disapa demikian hanya tersenyum imut.


'Pantas si bodoh ku itu tergila-gila, imut begini sih'


Gumam Rei, ya yang menyapa paman nya Rindi yaitu Rei Daddy nya Andra.


"Kenal kan om nama Rei"


Rei mengulurkan tangan nya pada keponakan Adidharma tua ini. Paman hanya menggelengkan kepala nya melihat sahabat nya tidak bisa menggombal.


"Sudah tua tetap saja tidak bisa menggombal"


Mereka berdua tertawa.


"Ayo duduk mau sampai kapan kalian berdiri, ajak gadis mu duduk juga"


Rindi segera mengangguk untuk duduk, namun lelaki di sebelah nya masih melihat ponsel nya. Lampu agak remang jadi penglihatan Rindi juga agak sedikit melemah.


"Kenapa lampu nya redup sekali seperti warung remang-remang saja, aneh"


Seketika lampu di nyalakan dengan terang benderang hingga terlihat semua hiasan indah di ruang jamuan itu.


Seketika lelaki di sebelah Rei itu memasukkan ponsel ke saku celana nya. Sedetik kemudian lelaki itu dan Rindi saling bertatap muka, jantung Rindi seketika ingin melompat keluar dan tenggelam di dasar lautan. Sedangkan lelaki yang tak lain adalah Andra dengan cepat menguasai keadaan.


"Nah kenalkan ini anak lelaki tunggal nya om"


Rei membuka percakapan karena dia melihat kedua muda-mudi itu hanya saling tatap saja. Andra melihat kesini sebelah gadis yang sangat cantik berbalut gaun malam navy itu.


'Pantas tidak bisa ku kacak rupa nya om Adidharma'


Gumam Andra.


"Andra"


Andra mengulurkan tangan nya untuk bersambut dengan gadis di seberang tempat duduk nya padahal meja nya bulat.


"Arindi"


Balas Rindi kemudian menjabat tangan Andra, jelas Daddy dan paman nya Rindi melihat senyum tipis yang Andra kembangkan.


"Jadi nama asli anak tunggal om ini, Arviandra Excel Pratama, sedangkan mommy nya menamai dia Arvino Zakuta Mid, kau bisa memanggil nya Andra tapi keluarga sendiri memanggilnya Arvin"


Rindi mengangguk, sementara Andra terus memandang gadis diseberang nya ini.


BERSAMBUNG.