TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.21


Pagi ini Haris datang ke kantor lebih lambat bahkan Jamie sudah menunggu didepan pintu masuk.


"Selamat pagi Jamie!"


Jamie menatap kedatangan bos nya pagi ini, apakah si bos terantuk batu purbakala hingga kepalanya terbentur dan berubah kepribadian.


Namun itu semua hanya ada dalam benak Jamie tidak dalam ucapannya. Jamie mengikuti bos nya masuk ke ruangan, terlihat senyum sendiri kadang memainkan pulpen diatas meja.


'Sepertinya dia sedikit aneh?'


Ucap Jamie dalam hati karena sudah memperhatikan bos nya dengan seksama bahkan lebih dari 3 jam.


Sementara Rista sudah memasuki ruang kerjanya, lalu duduk di kursinya.


"Auuwwww"


Meringis saat mendaratkan pantat nya.


'Sungguh ini tidak nyaman, sakit juga ngilu'


Ucap Rista dalam benaknya.


Namun dengan sigap Rista segera mengerjakan tugas juga pekerjaannya.


"Ris, ke kantin yuk?"


Rista mendongak ternyata teman satu department nya mengajak untuk makan siang bersama.


Rista menggelengkan kepala, tanda dia tidak ingin makan siang bersama.


"Baik lah aku duluan ya"


Rista mengangguk, lalu meraih air putih nya didalam botol sedang meneguk hingga setengah tersisa.


"Rasanya tidak nyaman sekali"


Rista sebenarnya ingin ke kantin kantor untuk makan buah segar juga minum minuman dingin tapi langkah nya sedikit sakit dan itu akan memakan waktu lama.


Klek.


Pintu ruangan Rista terbuka, Rista menoleh lalu terlihatlah lelaki tampan dengan senyum yang mempesona, siapa lagi lelaki itu kalau bukan suaminya tercinta, Haris Dimitri.


"Selamat siang ayy"


Rista hanya melihat lelaki itu membawa beberapa paper bag, lalu meletakkan nya di meja dibelakang kursi milik Rista.


"Ayo kita makan siang"


Terlihat Haris menyusun menu makan siang, jus buah dalam botol yang disimpan dikulkas mini milik Rista, buah buahan segar juga camilan.


Haris menarik tangan mungil itu, lalu mendudukkannya di kursi Rista, sedangkan lelaki itu duduk di kursi kecil yang baru ditarik nya. Dengan telaten Haris menyuapi istri cantik nya.


"Aku sudah kenyang mas?"


"Baik lah"


Haris lanjut menyuapkan makanan itu ke mulutnya, sambil membuka minuman dingin dan menuangkan nya untuk Rista.


"Di lemari es mini mu sudah diisikan jus buah segar"


"Terimakasih"


Rista bergegas bangkit untuk merapikan bekas makan mereka, lalu tanpa di duga Haris memeluknya dari belakang.


"Mas ini kantor"


"Aku tahu jika bukan dikantor kau pasti akan menolak ku"


Rista terdiam memang benar demikian adanya, Rista selalu berusaha menjauh meski pun Haris selalu mendekatinya.


"Aku banyak pekerjaan mas!"


"Ini juga pekerjaan mu menyenangkan suami mu, juga kewajiban mu dan itu menjadi hak ku"


Rista hanya terdiam, setelah 10 menit Haris melepaskan pelukannya itu.


"Aku mencintai mu, aku hanya ingin menepati janji yang sudah ku buat setidaknya sampai anak itu lahir ayy"


Haris telah keluar dari ruangan Rista, tanpa terasa air mata Rista mengalir.


'Dia suami ku, anggap saja semalam adalah hadiah untuk nya, dan memang itu hak nya juga kewajiban ku'


Gumam Rista seolah menyemangati diri nya sendiri.


Terlihat Haris bergegas keluar dari ruang kerjanya dengan sangat terburu, Rista melihat itu semua lantas kembali mengerjakan tugas kantornya yang mulai menumpuk.


Hari mulai senja, Rista sengaja pulang sesuai jam kantor. Menghentikan taksi, melirik tempat dimana mobil Haris terparkir. Ada yang hampa dalam relung hati Rista karena biasanya lelaki si suami nya itu menunggui nya, meski tak bisa mengajaknya pulang bersama. Tak terasa taksi mulai berhenti, Rista hendak turun namun pemandangan disebelah kanan rumahnya membuat mata indah Rista berembun. Ya Rista kembali meneteskan air matanya, dikala lelaki yang tinggal seatap dengannya selama 4 bulan ini membimbing wanita lain, mengelus perut buncitnya, serta tersenyum begitu hangat. Istri yang Rista sandang seolah hanya status namun dia tak lebih dari orang ketiga di pandangan orang lain.


'Mungkin, kita tak harus bersama, mas. Aku sudah memutuskan detik ini, bahwasannya takdir kita berbeda'


Klek.


Rista membuka taksi setelah 10 menit memperhatikan pasangan itu, kini mereka sudah masuk kedalam rumah. Rista bergegas menuju dapur, langsung memulai acara masaknya. 1jam Rista berhasil membuat ayam rica, sayur asam, tahu, tempe, nasi putih, ikan asin goreng, sambal trasi juga lalapan.


Terdengar pintu depan terbuka, Rista bergegas naik ke lantai atas lalu mandi.


"Sudah pulang?"


Rista mengangguk, sambil duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


Haris segera mandi, lalu menyusul sang istri yang nampak sedang memakan nasinya.


"Sini aku suapi"


Haris tersenyum, Rista menoleh. Haris mengambil piring yang dihadapan Rista.


"Ayo buka mulut nya?"


Menyodorkan sendok kedepan mulut Rista, namun dengan segera Rista beranjak bangkit.


"Aku masih punya tangan mas"


Haris terdiam meletakkan sendok nya.


Rista dengan cepat mengisi piring lain dengan nasi dan lauk yang sama. Dengan cepat Rista melangkah menuju kamar atas.


"Mau kemana?"


"Makan diatas aku ingat tugas ku sangat banyak"


"Makan di meja makan, temani aku makan"


"Tapi aku harus menyelesaikan laporannya"


Namun tangan Rista sudah di cekal Haris.


"Apakah laporan laporan mu itu lebih penting!"


Suara Haris terdengar meninggi satu oktaf.


"Atau kah aku ini tidak penting lagi bagi mu, begitu"


Muka Haris mulai memerah, karena marah lalu dengan satu gerakan membanting piring yang ada ditangan Rista, sontak makanan juga piring nya berhamburan di lantai. Haris segera menyeret lengan Rista dengan paksa menuju kamar mereka, menaiki tangga satu demi satu.


"Kau suka makan dikamar bukan?"


Rista terdiam, Haris semakin menatap nya dengan tajam.


"Maka aku mengabulkan keinginan mu untuk makan di kamar ini"


Dengan segera Haris melucuti semua pakaian Rista, secepat kilat Rista bangkit hendak berlari menuju keluar kamar namun dengan cepat Haris menangkap tubuh nya.


"Mau lari, mimpi"


Bugh...


Tubuh Rista dibanting diatas ranjang besar itu lalu Haris menindihnya, menjilati dan mencium paksa bibir Rista. Menggigit leher juga memegang kedua pergelangan tangan Rista. Haris mengunci semua pergerakan Rista, lalu dengan cepat menyatukan dirinya dengan Rista.


'Kenapa terulang lagi!'


Rista bergumam didalam hatinya, dada nya sesak karena saat ini suaminya sedang menggaulinya kembali. Tidak seperti pasangan lainnya melakukan percintaan dengan segala keindahan didalam nya, tapi tidak dengan Rista. Selama 2 jam Haris melakukan tugasnya, lalu menyelimuti tubuh polos istrinya yang bergerak tidur menyamping. Haris tersenyum, menerima atau tidak semoga impiannya terwujud memiliki anak dari Rista, memeluk tubuh yang baru saja berada dibawahnya, mengecup lembut pundak polos juga rambut yang baru dibuat acak acakan olehnya.


BERSAMBUNG.