
Saat ini Andra sedang bersama istri nya itu, seolah mereka sedang liburan di negara A.
"mas aku ke dalam dulu ya mau buat jus"
"Iya sayang, mas sekalian ya"
Rindi pun mengangguk, dia pergi ke dapur, nampak Lisa kakak nya sedang sarapan di meja makan.
"Kakak makan sendirian saja?"
Tanya Rindi, Kakak nya itu tersenyum.
"Kak William kemana kak?"
"Lagi sibuk"
"Semalam dia tidak pulang kan?"
Lisa terdiam.
"Dia biasa seperti itu kalau sibuk"
Lirih Lisa dengan tenang sambil menyuapkan nasi goreng kedalam mulut nya.
"Kakak ada masalah?
Ucap Rindi yang sudah duduk di sebelah kakak nya, Lisa menggeleng dengan tersenyum.
"Bicaralah kak"
Lisa terdiam, dia meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang.
"Sebenar nya kakak menikah dengan William karena ketidak sengajaan, dia adalah pacar non Carmen kakak tidak pantas untuk nya, kakak selalu menolak nya Rin, tapi kemaren malam saat kami sedang berhubungan intim dia meminta ku menjadi milik nya seutuh nya tapi aku menolak dan meminta cerai, dia dengan kasar menghempas tubuh ku lantas dia pergi tidur di sofa sampai pagi hari sarapan bersama dan dia pamit"
Cerita Lisa.
"Kok bisa begini kak, bukan nya kalian pasangan yang romantis?"
Lisa menggelengkan kepala nya.
"Kakak tidak pantas untuk nya, dia pemuda yang tampan, baik juga setia bukan dengan wanita seperti ku yang harus menemani nya Rin, kakak tidak pantas"
Lisa mulai menangis, Rindi memeluk tubuh kakak nya yang bergetar.
"Apa kakak mencintai nya"
"Siap pun pasti jatuh cinta pada lelaki seperti Will"
"Lalu apa masalah nya kak?"
"Carmen wanita yang nekad, kakak tidak ingin keluarga kita terluka, kakak memilih mu dan papah kalian berdua adalah orang yang sangat kakak sayangi kakak lebih rela kehilangan William biar lah dia membenci kakak Rin"
"Kak, kakak salah, kakak jangan berpikir seperti itu, tentu kak Will marah kalau kakak berpikir demikian, coba lah lihat dari jendela cinta kak, lupakan semua yang menimpa ku itu semua sudah takdir"
"Tidak, tidak...tidak, kau tidak tahu seperti apa Carme dia licin dan sangat licik kita sudah menjadi incaran nya tidak mungkin akan lolos"
"Kak tenang ya"
"Aku tidak akan mau kehilangan kalian, lebih baik aku melepaskan William Rin"
"Itu pemikiran yang bagus Lisa, membela keluarga mu adalah yang utama"
Bukan suara Rindi tapi itu suara Andra yang datang, dia di halaman samping karena lama menunggu Rindi membuatkan jus untuk nya jadi dia menyusul istri nya ke dapur.
Setelah di dapur tidak ada siapa pun Andra melihat-lihat kedalam rumah, ternyata dua wanita itu saling berpelukan di ruang keluarga.
"Mas..........!"
"Apa, memang pemikiran Lisa bener loh sayang, tapi Lisa kita juga harus memikirkan perasaan pasangan kita loh, William ingin berumah tangga dengan serius dan sejauh yang aku lihat William akan memulai sesuatu dengan serius dan berkomitmen loh"
Lisa melepas pelukan Rindi, lantas mengusap bekas air mata yang mengalir di pipi nya.
"Iya aku tahu William sangat setia dan lagi dia selalu memperlakukan ku sebagai istri, dia menyayangi ku dia marah ketika aku membatasi diri ku ini dengan nya"
"Dengar kami sudah dewasa, aku tahu kau sangat menyayangi adik dan papah mu yang tak lain mereka adalah mertua ku, aku akan menjaga papah jika kau khawatir dia celaka, dan Arin adalah istri ku aku tentu akan selalu menjaga nya, jadi raih lah cinta mu itu Lis"
"Aku percaya kau bisa melindungi mereka tapi ...."
Rindi mengelus tangan sang kakak.
"Cinta itu datang pada mu, cinta itu untuk mu yang sudah sabar menanti nya kejar lah dia milik mu, hanya milik mu kak"
Lisa mengangguk.
"Tapi aku akan selalu menjaga mu juga, ijinkan kakak juga melindungi mu"
"Tentu saja, karena kau kakak ku, sekarang hubungi suami mu"
"Bagaimana?"
"Tidak diangkat"
Setelah menghubungi William ratusan kali lelaki itu tidak mengangkat panggilan yang ada di ponsel nya.
"Tidak apa mungkin sangat sibuk, jadi dia tidak angkat nanti malam saja"
Lisa berdiri dan masuk ke dalam kamar nya.
"Anita!"
"Saya tuan"
"Dimana Roy?"
"Belum pulang tuan"
Andra langsung menghubungi asisten utama nya Roy itu.
Sementara di apartment mewah milik Roy, lelaki matang itu sedang menaiki pacar nya yang sexy entah sudah berapa kali siang ini Roy meledakkan bom dari rudal nya itu.
Rose pun tidak pernah menolak atau protes pada Roy jika lelaki itu menaiki tubuh nya. Bahkan saat ini rudal besar nan panjang milik Roy itu sedang menggoyang nya dengan kasar, Rose mencengkram seprei dengan kuat karena memang beberapa saat lagi akan meledak.
Drrtt......drrtttt.
Namun tiba-tiba saja ponsel milik Roy berdering dengan kencang, karena ponsel Roy ada disamping tempat tidur mereka. Jadi Roy langsung meraih ponsel nya itu tanpa melepaskan penyatuan mereka bahkan Roy tidak memelankan laju rudal nya itu.
"Iya ha...halo"
Andra yang berada diseberang sana mengernyit heran.
"Kau dimana?"
"Di....di apartment ku tuan"
Nafas Roy yang sedikit memburu itu terdengar oleh Andra, lantas tuan nya itu sedikit menyunggingkan senyum nya.
"Aku ada perlu yang harus kau urus"
Titah nya.
Roy segera membawa tubuh sexy pacar nya dari ranjang menuju sofa agar bisa duduk, Roy sedikit menjauhkan ponsel nya.
"Goyang beib"
Lirih Roy.
"Hah, kenapa kau?"
"Tidak tuan Hem....apa tugas ku"
"Dengarkan cari posisi William suruh lelaki pengecut itu pulang, istri nya merindukan nya"
"Siap tuan"
"Kau sendirian di apartment mu"
Andra berencana berkunjung jika memang asisten utama nya itu tinggal sendiri.
"Dengan pacar saya tuan"
"Oh ya, laku juga kau"
"Ya sudah tuan, saya akan cari tuan William"
"Ya dan tuntaskan hasrat mu"
Nampak Andra tertawa namun segera Roy tutup panggilan nya. Roy mengambil laptop nya, niat nya ingin menyelesaikan pergulatan mereka namun karena tugas nya dari sang bos maka Roy pun searching sambil menggoyangkan pinggul nya untuk berenang di dalam tubuh pacar nya itu.
"Nah ketemu"
Ucap Roy sambil memangku pacar dan laptop nya di depan meja.
"Maaf sayang kita harus seperti ini"
Roy berucap sambil memeluk pacar nya dengan erat karena saat ini dia sedang meledak di dalam tubuh pacar nya, gila memang orang yang sedang kasmaran.
"Iya sayang, tidak apa"
"Jangan pakai alat kontrasepsi ya, biar kita cepat punya anak"
Rose pun mengangguk dengan dipeluk erat sang pacar dari belakang.
BERSAMBUNG.