
Rei memasuki villa, ada paman James yang menunggui diri nya pulang.
"Tuan baru pulang?"
"Iya James, lelah"
"Nyonya juga baru datang sejam yang lalu, tuan. Nyonya juga pulang dengan taksi"
Rei melirik kepala pelayan nya.
"Iya soal nya kak Riana terjatuh dari toilet"
Paman James mengangguk, memperhatikan punggung tuan nya yang menaiki tangga perlahan. Rei segera mandi, lantas berganti piyama dan naik ke ranjang bersama wanita yang sudah terlelap.
Di keranjang baju nampak pakaian kotor, entah mengapa dia begitu penasaran. Rei kembali turun, di lihat nya kancing baju milik Min ini hilang satu lagi di celana hitam nya ada bekas noda darah yang mengering. Noda darah itu di bagian depan celana, dibawah resleting.
Pikiran Rei kacau, dia tidak tenang lantas bergegas menghampiri sang istri lalu membelai wajah istri nya yang tertidur. Min merasakan hawa dingin menerpa wajah nya, dia menggeliat.
"Om"
"Iya sayang"
Min merasa sangat lelah, dia membiarkan suami nya berbuat semau nya.
"Om, pelan-pelan"
Lirih Min.
"Masih lemes ya?"
Min mengangguk, lantas Rei melakukan tugas malam nya dengan lembut tanpa tenaga besar namun berhasil tersalurkan. Min kembali terlelap setelah beberapa kali bercinta dengan suami nya.
'Rasa nya masih sama, tapi aku tidak tenang'
Gumam Rei dalam hati sambil mengecup istri nya begitu pun dia langsung tertidur di sepertiga nya malam.
"Eunghh....."
Rei menggeliat, disisi kiri nya sudah nampak kosong lagi dingin. Rei turun dari ranjang, membuka balkon dia melihat istri cantik nya sedang memetik bunga mawar merah nya yang baru saja mekar di taman samping. Rei tersenyum bahkan bunga saja kalah dari cantik nya istri nya.
"James, mana sarapan ku?"
Ucap Rei ketika turun dari kamar setelah mandi dan berpakaian rumahan.
"Sudah siap tuan"
James menghidangkan sarapan kesukaan Rei, tak lama Min datang untuk merangkai bunga.
"Sudah sarapan sayang?"
"Sudah tadi pagi"
"Jangan sampe sakit lagi"
"Iya om bawel"
Rei tersenyum hangat melihat bibir istri nya cemberut.
"Aku mau mandi dulu, gerah"
"Iya"
Min segera naik keatas untuk segera mandi, rencana nya Rei akan mengajak Min ke pulau buatan milik nya yang sudah rampung kemaren lusa itu.
Rei masih menikmati sarapan nya, scurity datang untuk membawa paket eksklusif untuk diri nya.
"Tuan"
"Katakan"
"Ada paket eksklusif untuk anda"
James menyodorkan paket itu, Rei melihat paket kilat berlogo hitam itu.
'Paket mahal, sampai menggunakan logo itu'
Gumam Rei dalam hati.
Rei dengan cepat menyelesaikan sarapan nya.
"Aku ke ruang kerja dulu, James"
"Baik tuan"
Rei membawa paket tadi, dia akan membuka nya nanti. Ada pekerjaan mendadak yang harus Rei selesaikan sebelum siang.
BBRRAAKKK.........
Kotak paket tadi terjatuh, hingga isi nya berhamburan di lantai. Rei bermaksud untuk memungut nya, namun alangkah terkejut nya apa yang Rei dapati. Rei memungut nya dengan gemetaran, terdapat foto-foto tak senonoh dengan berbagai macam gaya liar.
Bahkan pasangan itu terlihat menikmati, itu membuat jantung Rei serasa di hujan ribuan pedang. Sakit namun tak berdarah, ya foto itu terdapat istri nya dan pegawai yang tak lain keponakan dari pak Wirasta. Siapa lagi jika bukan Andreas Wirasta yang dua Minggu lalu melaporkan penculikan di lokasi proyek.
Rei meremat foto-foto itu, hati nya terbakar cemburu. Semua rencana romantis dan manis yang Rei rencanakan musnah. Rei segera mengeluarkan salah satu koleksi minuman terfavorit nya, menenggak nya sedikit bukan masalah. Menyalakan sebatang rokok agar asap nya mampu mengurangi emosi nya.
"Bahkan ada tanda-tanda perselingkuhan nya begitu kentara, tapi aku tetap mencoba nya semalam"
Lirih Rei.
"Bodoh nya aku, kembali merasakan sakit karena kecewa"
Lanjut nya.
Rei melanjutkan aksi minum nya hingga dia teler dan tertidur di lantai. Sedangkan Min turun ke lantai dasar untuk mencari sang suami nya karena tak kunjung naik ke kamar.
"Paman James lihat tuan tidak?"
"Tuan di ruang kerja nyonya"
"Oh"
Min tidak ingin mengganggu pekerjaan suami nya, jadi Min segera naik ke kamar atas saja. Hingga Min tertidur, makan siang juga terlewati karena sudah pukul tiga sore.
"Si om sibuk amat ya"
Lirih Min, jujur dia rindu Rei ingin memeluk lelaki itu.
"Kok aku mesum, pada hal semalem kan sudah kenyang"
Lanjut nya.
Entah mengapa sejak pulang dari rumah sakit, Min selalu ingin dekat dengan Rei. Rindu pelukan nya, wangi tubuh nya bahkan selalu ingin Rei sentuh.
"Sudah sore, aku masak makan malam buat si om genit aja ah"
Min menuruni tangga dengan riang karena suasana hati nya sangat bahagia.
"Paman James masak apa?"
"Masak kesukaan tuan, nyonya"
"Aku bantu ya"
"Boleh nyonya"
Min memasak dengan semangat selama 2 jam itu. Rei sudah keluar dari ruang kerja nya menuju kamar, terlihat lelaki itu lesu, mungkin karena banyak pekerjaan pikir Min.
Min sudah selesai dengan acara memasak nya, Rei juga sudah berada di ruang keluarga menonton acara kesukaan nya. Sementara Min segera naik keatas untuk mandi. Min mandi dengan secepat kilat karena ingin bersama suami nya.
"Om"
Min duduk di sebelah Rei, namun lelaki yang dia panggil tidak menyahut sama sekali.
"Om aku sudah masak loh, ayo makan malam dulu"
Kebetulan acara talk show yang Rei gandrungi juga sudah selesai. Min menarik lengan Rei, lelaki itu juga mengikuti nya. Dengan senang Min mengambilkan makanan kesukaan Rei tanpa melihat ekspresi lelaki itu.
BYUUR.....
Rei menyemburkan sup yang yang dia minum.
"Ini sup apa?"
Suara Rei menggema di ruang makan, membuat semua pelayan yang ada di villa kaget.
"Apa terlalu asin om? aku sudah menyuruh koki mencicipi nya kok, kata nya pas"
Raut wajah bingung bercampur lugu itu terpampang nyata di hadapan Rei.
"Kalau tidak bisa memasak, jangan memasak biar koki saja, jangan menyajikan hal-hal aneh pada masakan atau pun bereksperimen"
Ucap Rei membanting semua peralatan makan itu.
"Juga aku tidak suka pedas ingat itu"
Min dengar gemetar mencicipi sup yang ada di mangkuk nya, enak juga tidak pedas.
"Om!"
Min mengejar suami nya namun Rei sudah tancap gas keluar ke jalan entah kemana. Min mematung dibuat nya, entah ada salah apa sehingga suami nya mengamuk.
Air mata Min meleleh dengan deras, Min tidak melakukan kesalahan atau pun membatah perkataan suami nya hari ini.
Min segera bangkit menuju kedalam villa. Sementara Rei memacu mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju pantai.
"Sial ....sial.....sial"
Rei memaki diri nya sendiri sepanjang perjalanan menuju pantai. Dia sangat emosi namun hati nya sangat sakit ketika melihat raut wajah istri nya tadi. Apa lagi Min mengejar nya sambil menangis, bersalah, iba entah perasaan apa lagi semua campur aduk.
BERSAMBUNG