
Kini di mansion megah keluarga Mid sedang ada makan malam seluruh keluarga meski pun hanya dihadiri oleh 9 orang.
Mereka makan dengan khidmat hidangan yang lezat dan istimewa di meja makan itu.
"Ayo semua nya ke ruang keluarga"
Ajak Daddy Rei lantas mengajak semua orang orang untuk segera duduk di ruang keluarga.
Mereka duduk, sementara Andra dan William menemani ibu Amelia. German sedikit canggung berkata tentang prahara rumah tangga nya kepada semua yang hadir.
"Ger, ucapkan apa yang ingin kau ucapkan saat ini"
German mengangguk, lelaki itu memandang wanita yang sangat cantik itu meski tertutup usia.
German tersenyum, sorot mata yang garang kini berubah lembut dihadapan Amelia sang wanita tercinta.
"Amelia, maaf sekian tahun kita berpisah"
German mengeluarkan sertifikat pernikahan baik di negara Z maupun negara A.
"Saat kamu datang dan masuk ke apartment ku pertama kali, aku sudah mendaftarkan mu ke catatan sipil untuk pernikahan kita, jangan pernah mengira jika anak kita anak hasil hubungan bejad, bukan Amelia"
Terang German kepada ibu Amelia yang masih datar saja.
Andra mengelus tangan yang mulai ada keriput itu.
"Aku rencana nya ingin memberikan ini saat anak kita lahir, namun baru saja 2 bulan anak kita di kandungan mu, kita sudah berpisah"
German menatap ekspresi datar Amelia, German menunduk seolah tidak kuat lagi bercerita. German menarik nafas dalam dan berat.
"5 tahun aku dikurung oleh Daddy ku, saat aku keluar aku frustasi, kedua orang tua ku tidak pernah mengungkapkan kejadian sebenar nya, aku mencari mu, meski aku setuju menikahi Caroline bibi nya Carmen tapi aku mengubah wajah nya seperti diri mu"
Ungkap German terdiam sesaat.
"Maaf Amelia aku begitu mencintai mu, rasa kecewa ku bertambah ketika aku melihat mu dengan mata kepala ku sendiri kau sudah bahagia dengan anak mu dan suami mu, harapan ku pupus, dan saat itu lah aku merasa lelah ku amat terasa mendera di badan"
Lirih German menundukkan kepala nya.
Daddy Rei mengusap punggung kekar milik German disebelah nya juga ada ayah Andreas dan papah Afar.
"Aku mencurahkan semua kecewa ku pada perusahaan, aku bekerja gila-gilaan, aku tak pernah menyentuh Caroline bahkan anak yang dia kandung pun adalah hasil bayi tabung yang terdapat gen mu"
Ucap German tidak peduli jika ada William disana, William hanya menunduk saja.
"Meski Caroline melahirkan William namun hak sebagai ibu William hanya kau, dia dan Aditya sama anak mu"
Ucap nya.
Ibu Amelia mendesah lega karena German sudah menyelesaikan ucapan nya.
"Sudah?"
German mendongak dan mengangguk.
"Sekarang dengarkan cerita ku, aku dibawa kedua orang tua mu, di penjara oleh mereka, hanya diberi makanan yang cukup dan nutrisi yang cukup tapi tidak pernah bisa keluar sampai aku stres dan melahirkan saat usia kandungan ku baru 8 bulan"
Ibu Amelia menjeda nya.
"Aku melahirkan Cesar, karena prematur mereka yang tak lain kedua orang tua mu itu mengatakan kalau bayi ku meninggal, kau tahu bagaimana perasaan ku?"
Air mata ibu Amelia sudah tak bisa dibendung lagi dan menetes mengaliri pipi nya dengan deras nya.
"Aku gila di rumah sakit jiwa, mereka membawa dan menyeret ku seperti binatang ke rumah sakit jiwa kau tahu, tapi aku tak pernah menduga atau pun berprasangka buruk pada mu"
"Aku berjuang keras di rumah sakit jiwa sampai 8 bulan aku keluar, aku memohon agar tidak ada yang membocorkan jika aku sudah keluar dari rumah sakit jiwa itu, tapi kedua orang tua mu tetap tahu"
Ibu Amelia menghela nafas berat lalu menghembuskan nya.
"Mereka tahu, aku diseret dan dibius kembali ke negara Z dan di buang di hutan"
Ibu Amelia kembali menitikkan air mata nya.
"Aku mencari makan dan kembali seperti orang gila, beruntung nya ada seorang lelaki miskin yang membawa putri nya yang masih bayi kedalam hutan, dia menolong ku dan menjaga ku"
Ucap ibu Amelia mengakhiri cerita nya German segera bergegas bersimpuh di kaki ibu Amelia.
"Maafkan aku Amelia, maaf"
Ucap German lirih.
"Aku tidak pernah membenci mu namun untuk memberi mu posisi seperti dulu itu agak sulit"
German mengangguk.
Ibu Amelia mengangguk tanpa menjawab apa pun.
"Berdiri kah tidak pantas seperti ini"
"Aku tahu, sudah mendapat maaf dari mu saja aku sudah bahagia"
"Kita tidak salah, tidak perlu memaafkan, aku tahu kau juga pasti menderita"
German memegang kedua tangan Amelia, mencium nya dengan mesra.
"Dad, malu lah sudah tua juga masa masih cium-cium mommy"
Ucap Will.
"Benar kau harus meminta ijin dulu pada kami"
Ucap Andra.
"Avin....."
"Iya mom"
Andra kesal mommy Jasmin memanggil nya demikian.
German hanya menggelengkan kepala nya bagaimana bisa menghadapi dua pemuda, satu saja sudah boyok.
"Dia kan masih suami nya ibu juga, satu satu dia sudah bonyok apa lagi kalian berdua, nanti Daddy kalian langsung ketemu tuhan"
William dan Andra tertawa terbahak-bahak.
"Itu karena aku tidak melawan"
Sangkal German.
"Alah, pak tua, akui saja kau ini sudah loyo"
Ucap Andra, William mendelik.
"Bro jangan buat Daddy ku tersinggung, dia latihan karate nya masih jalan"
Ucap Will sembari berbisik.
"Tak peduli"
"Maaf tuan, di luar ada yang mencari tuan German"
Ucap kepala pelayan"
"Suruh masuk bik"
Jawab Daddy Rei.
Tak lama kemudian semua menoleh pada intonasi langkah berat itu.
"Mel, kenalkan ini putra pertama kita, Aditya, dia tidak meninggal tapi di buang di panti asuhan oleh pelayan utama mansion Daddy ku"
Ibu Amelia meneliti wajah nya,.memang agak mirip dengan German.
"Apa benar? kau tidak salah menjemput orang kan?"
German menggelengkan kepala nya lantas segera memeluk putra sulung nya itu.
"Dia anak kita yang sudah Rei asuh sejak kecil dan putra tunggal Rei kau asuh jadi kita impas kan"
Mereka berpikir akan ucapan German, benar saja demikian ada nya.
"Kau benar sobat, kita bertukar asuh putra kita"
Ucap Daddy Rei.
Menepuk bahu German yang tertawa karena kelucuan takdir mempermainkan mereka.
Ibu Amelia memandang pemuda yang menunduk itu, dia juga menerima anak sulung nya yang sudah menderita karena ulah kedua orang tua German tentu nya.
"Kemari lah nak, ini mommy mu"
Lelaki jangkung itu mendekat pada ibu Amelia. Dia mendongakkan wajah nya memandang ibu Amelia dengan perlahan
"Ka.....Kamu......"
BERSAMBUNG.