
Lisa dengan senang hati kembali touch up make up nya, dia segera turun ke lantai dasar. Meski rumah sudah sepi, selain malam, penghuni rumah sudah beristirahat.
Lisa segera menuju club' malam tempat duri nya dan seorang lelaki janjian. Lisa memilih mobil mini untuk tempat duduk sepasang. Hanya butuh waktu 40 menit saja, dia sudah sampai di tempat tujuan.
Lisa memasuki ruangan VVIP yang ada di bar itu. Dia melihat sudah banyak pasang manusia di lantai dansa.
"Baby......!"
Seorang lelaki memanggil nya, dia tersenyum lebar dengan segeng nya.
"Kau sudah sampai?"
"Iya, mereka mengajak ku duluan"
Siapa lagi lelaki teman Lisa itu selain Bayu Braja dan ketiga satu geng nya. Sudah ada empat wanita yang mendampingi mereka, Lisa sedikit terkejut.
"Kau sudah puas bermain dari sore?"
"Tidak baby"
"Lalu dia?"
Tunjuk nya pada wanita di sebelah Bayu.
"Pergi lah"
Lisa nampak cemberut karena Bayu sudah memiliki pasangan di bar itu. Bayu segera mengusir wanita yang melayani nya dari sore itu karena Lisa benar-benar sudah datang.
"Nah, dia sudah pergi, kemari lah"
Bayu menepuk paha nya, lantas Lisa dengan tenang duduk diatas paha milik Bayu.
"Kenapa lama sekali Hem?"
Bayu bertanya pada Lisa sambil mengendus leher Lisa.
"Biasa ada masalah dengan Arin?"
"Dia kapan pulang?"
"Baru tadi sore"
"Apa dia......?"
"Tidak, dia tidak akn berani melawan pada papah"
"Bagus lah, aku tidak menyangka gadis itu bisa lari dari cengkraman ku!"
"Kenapa kau bodoh sekali sampai dia lepas!"
"Aku sudah mengejar nya, tapi algojo takut pada orang yang menyelamatkan nya"
"Memang siapa orang itu?"
"Entah lah"
Mereka asyik berbicara dengan suasana remang di bar itu.
"Apa mau mencoba ini?"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku tidak suka barang bekas"
"Hah!"
Bayu masih belum paham akan arah pembicaraan Lisa malam ini.
"Ini baru diambil loh"
"Obat nya iya, tapi kamu sudah jadi bekas pelacur yang tadi itu"
"Ha....ha... kau berani sekali menolak ku!"
"Aku hanya tidak suka menampung penyakit wanita lain"
"Sok suci"
"Memang"
"Ya sudah kita turun ke lantai dansa yuk"
"Boleh"
Mereka akhir nya berjoget dengan lagu kesukaan mereka, hingga malam.
Setelah satu jam berkendara akhir nya mereka tiba juga kediaman Arei Rafiensah Aryandy. Benar saja sudah ada pesta yang megah, meriah lagi seperti pesta para bangsawan. Nuansa elegan bertema gold, hidangan mewah, serta peralatan yang sangat mahal senilai ratusan juta.
Roy mengeluarkan kursi roda dari mobil, lantas setelah Andra duduk, Roy segera mendorong nya masuk. Tamu yang hadir pada pesta ulang tahun malam itu, sudah cukup banyak.
Rei nampak menggandeng Roselian Cantika yang tak lain istri kedua dari Rei atau ibu tiri dari Andra. Mereka nampak bahagia dengan sepasang anak asuh yang mereka adopsi, yang tak lain adalah Aditya Marco yang terpaut usia 7 tahun dengan Andra dan Camelia Renata yang terpaut 5 tahun dengan Andra.
Begitu melihat anak kandung suami nya Roselian yang tak lain selaku mamah tiri menghampiri Andra.
"Arvin sudah datang ya, ayo nak masuk"
Roselian atau yang kerap disapa Elian itu sangat menyambut Andra meski anak tiri namun kasih sayang nya seperti ibu kandung. Tapi selama ini Andra tidak pernah menghiraukan atau banyak terlihat dengan keluarga ayah kandung nya.
"Maaf ya, mamah tadi sibuk foto dengan kolega"
Elian tersenyum manis, rupa nya bocah kecil itu tidak pernah menaruh nama nya sebagai seorang ibu atau pun pengganti ibu kandung nya. Tapi bagaimana pun memang Andra sejak kecil jarang bicara karena sempat bisu dan lagi kaki nya lumpuh.
"Roy nanti jangan lupa makan hidangan nya ya"
"Baik nyonya"
Rei masih berjabat tangan dan menyambut kolega nya. Dia melihat putra kandung nya yang duduk di kursi roda.
"Kau sudah datang boy?"
Sang Daddy menyapa anak kandung semata wayang nya itu.
"Apa kabar dad?"
"Apa harus mengadakan pesta meriah dulu baru kamu mau datang ke rumah Daddy begitu?"
Andra hanya diam saja tanpa menjawab.
"Arvino Zakuta Mid begitu kah Daddy harus memanggil mu atau Arviandra Excel Pratama bocah licik"
Andra juga diam sementara sang Daddy sudah duduk di hadapan nya dengan muka garang.
"Aku sudah tidak muda lagi Ar, kau selalu menolak Daddy, kau satu-satu nya cucu kakek mu lalu siapa lagi yang harus meneruskan perusahaan milik kakek mu?"
"Bukan kah ada Aditya, Camelia"
"Mereka anak adopsi mamah Elian bukan keturunan dari Aryandy atau pun Alkatiri, papah masih ada om Raksa lah kau cucu lelaki kakek hanya kamu semua sepupu mu itu wanita"
"Andra mungkin belum sanggup dad"
"Sampai kapan?"
"Entah lah"
"Omong kosong saja, apa kau mengira perusahaan mu yang maju pesat itu tidak Daddy pikir kan?"
"Maaf dad, Andra tidak ingin bersaing"
"Siapa yang akan menyaingi mu, kalau selalu sulit untuk ditemui Daddy mengerti kekayaan mu sudah cukup untuk menghidupi diri mu sendiri bukan?"
"Bukan begitu dad?"
Dari kejauhan anak adopsi Aditya Marco datang menghampiri mereka ayah dan anak.
"Pah, adik selamat malam"
"Malam"
"Bagaimana keadaan mu? sehat. apakah kaki mu masih sakit?"
"Sudah tidak terasa lagi berbeda ketika seseorang baru mematahkan nya"
Andra menatap Aditya begitu pun sebalik nya.
"Oh, lihat lah bocah ini menjadi pria perkasa sekarang"
"Apa tidak ada pekerjaan lain!"
Rei berkat dengan tegas pada anak adopsi istri kedua nya itu. Camelia segera datang menarik Aditya ke tempat lain.
"Kenapa kau menarik ku?"
"Kau sudah gila ya, kau ingin papah marah lagi"
"Lagi pula anak itu memang tak berkaki bukan?"
"Apa kalian ingin mengacaukan pesta ulang tahun ku?"
Tiba-tiba Elian sudah berada diantara kedua nya.
"Maaf mah"
"Apa tidak bisa pesta ulang tahun ku diadakan secara tenang!"
Elian berbicara kepada kedua anak adopsi nya meski tidak terlalu kentara namun emosi nya meledak. Dia tidak ingin memihak siapa pun, karena Arvino adalah anak kandung tunggal dari suami nya yang tak lain juga anak nya.
"Maaf mah"
Elian meninggalkan kedua anak nya untuk pergi ke geng sosialita nya.
Rei duduk semeja dengan anak lelaki tunggal nya untuk menyantap makan malam sambil diiringi lagu kesukaan Elian.
"Maaf sayang, mamah baru datang"
Ucap Elian pada Andra.
"Iya Tante, kita juga baru akan makan malam"
"Loh mas sudah ambil makan malam sendiri"
"Iya tadi antri dengan Arvin"
"Roy, kau makan lah dulu, tuan muda bersama kami"
"Baik nyonya"
Roy segera bergegas setelah diijinkan oleh Andra, untuk makan malam di pesta meriah ulang tahun ibu tiri Andra itu.
BERSAMBUNG.