
Lisa berangkat kerja, namun di jalan dia membelokkan mobil nya menuju ke club' malam. Nampak sepi karena masih jam 8 pagi.
"VVIP"
"Baik nona"
Pelayan club' yang berjaga itu segera membuka satu ruangan.
"Tumben si Bayu tidak ada?"
Lisa segera menghubungi Bayu Braja teman ranjang nya di kala galau.
"Apa?"
"Kau dimana?"
"Di rumah"
"Aku di club biasa"
Namun ada suara aneh seiring suara serak Bayu, suara apa lagi selain lawan dari suara Bayu. Lisa menghela nafas karena lelaki ini sedang mau menuntaskan hasrat.
"Jangan mendesah di telinga ku brengsek!"
"Huh, kau ini selalu membuat ku tidak fokus, aku sudah mencopot nya"
"Kesini aku ingin bicara"
"Baik lah 1 jam"
"Lambat sekali"
"Baik lah 20 menit"
Panggilan itu berakhir begitu saja, lantas diseberang sana Bayu segera berpakaian setelah mengguyur tubuh nya.
BRAAK......
"Kau datang?"
"Ada apa?"
"Di kantor aku menjadi tersangka yang membawa lari uang perusahaan ku sendiri"
"Jangan ngaco loh"
"Apa aku terlihat seperti orang gila?"
Bayu menggelengkan kepala nya.
"Maaf"
"Aku pusing lantas bagaimana ini?"
"Kau tidak pinjam ke bank?"
"Itu juga duit bank untuk satu proyek"
"Lalu?"
"Apa kau punya simpanan uang, sayang?"
Bayu menggelengkan kepala nya. Dia terdiam, sebenar nya iba bagaimana pun wanita ini selalu berada di dekat nya tanpa meminta apa pun.
"Ya sudah kalau tidak punya, aku hanya bertanya, kita senang-senang saja"
Bayu tersenyum lantas mengangkat tubuh ramping milik Lisa ke kamar. 2 jam kemudian mereka selesai dengan adegan panas nya, Lisa sudah terlelap waktu pun hampir jam makan siang.
"Pesankan aku makan siang spesial"
Ucap Bayu pada seseorang di luar sana.
"Maaf Lisa, sebenar nya aku tak tega tapi aku tidak boleh mencampurkan perasaan ini, Aku akan pergi ke negara M siang ini juga mungkin ini kali kita bersama"
Namun tentu saja ucapan Bayu tak Lisa dengar karena hany berupa bisikan. Bayu meninggalkan ATM nya yang berisi 100juta. Lantas menaruh makan siang istimewa, liontin juga sepucuk surat.
Bayu kemudian bergegas untuk mandi lantas memakai pakaian nya, sebelum dia pergi sekali lagi Bayu melihat Lisa yang masih terlelap dengan cantik nya. Jujur Bayu sudah menganggap wanita itu seperti istri nya.
'Rumah sepi banget, aku nginep saja malam ini, besok baru tengokin papah"
Ucap Rindi masuk ke dalam kamar, dia ingin melihat apakah ada perbedaan selama 5 tahun. Malam semakin pekat entah sudah pukul berapa.
"Bi masak makan malam tidak?"
"Iya nyonya sudah ada dimeja makan"
"Apa Lisa sudah pulang"
"Belum nyonya"
"Ini sudah mau malam, gadis itu kemana?"
Karena sejak makan asisten dari suami nya itu menelpon diri nya menanyakan Lisa.
"Ya sudah saya makan sendiri saja"
Sementara Lisa baru bangun setelah menjelang sore, makan siang yang Bayu siapkan masih ada disana belum terlalu dingin.
"Kemana pria itu?"
Lisa segera mandi, dan keluar dengan pakaian nya utuh. Dia melihat makan siang itu lantas segera menyantap nya.
"Ini apa?"
Ada ATM, hadiah dan surat. Sambil makan Lisa membaca nya. Untung makanan sudah habis kalau tidak pasti mengotori kamar itu.
"Sial, dia bilang pergi mengurus perusahaan di luar negeri kata nya"
Lisa geram sendiri melihat itu. Lisa langsung membawa semua hadiah dan ATM itu meski jumlah nya tak seberapa namun tetap Lisa simpan.
Lisa segera bergegas pulang karena dia makan sambil membaca surat dari Bayu.
"Brengsek kau Bayu"
Lisa keluar dari club' itu, lantas segera menuju rumah nya. Dia tidak ngebut karena malam ini udara begitu dingin.
Lisa membuka pintu utama rumah kedua orang tua nya. Di ruang tamu sudah duduk sang mamah.
"Kau baru pulang?"
"Iya"
"Kemana saja kau?"
"Kerja lah mah!"
"Ck, kerja, kalau kerja kenapa asisten ayah mu menelpon dari jam makan siang hingga sore"
Lisa nampak kaget namun segera memasang ekspresi biasa lagi.
"Perusahaan kehilangan dana bukan nya mencari investor kau malah menghabiskan pagi panas dengan Bayu mu itu"
"Mamah!"
"Apa kau mau mengelak?"
Jeritan Melin itu membuat seisi rumah kaget, terutama Rindi yang sedang berada di kamar nya.
"Mamah sedang marah ya?"
Rindi kembali tiduran, kamar nya gelap hanya lampu tidur yang tersisa. Dengan iseng Rindi merekam pembicaraan mereka dengan laptop nya. Sementara dia kembali tertidur malas meladeni mereka.
"Bagaimana cara mu mengatasi nya hah?"
Mereka bertengkar tepat di bawah kamar Rindi.
"Mamah apaan sih?"
"Kamu yang apaan!"
"Suruh aja papah menyelesaikan nya, bukan nya papah ada rekening nya mamah kandung Arin"
"Apa kau bodoh hah?"
"Apa sih mah"
"Tentu saja itu tidak bisa meskipun papah mu yang meminta nya pada bank, kecuali......"
"Kecuali apa?"
"Papah mu meninggal dan menyerahkan wasiat bank itu pada anak kandung wanita itu dan anak nya lah yang mengambil nya"
"Kalau begitu kenapa kita tidak membunuh papah dulu saja, setelah itu kita jebak gadis cupu itu"
"Apa kau kira itu gampang, itu papah mu"
"Tapi perusahaan itu milik ku mah!"
"Kau ini, belum tentu papah mu memberikan nya pada mu"
"Aku anak nya mah"
"Sudah lah"
"Mah"
"Apa lagi?"
"Bukan kah mamah yang menyingkirkan dan membuat fitnah untuk wanita itu, jadi kenapa ke papah tidak bisa?"
"Dia papah mu dan juga suami ku Lisa, kau menginginkan ku menjadi janda begitu?"
Lisa menggelengkan kepala nya.
"Bukan mah, tapi perusahaan membutuhkan suntikan dana"
"Minta tolong sama Bayu sana!"
"Bayu kan sudah belajar di luar negeri"
"Apa kau tidak curiga pada kekasih gelap mu itu?"
"Curiga apa?"
Sang mamah hanya melihat anak gadis nya dengan remeh.
"Lihat, jika kau kena masalah lelaki itu kabur"
"Dia tidak kabur mah"
"Kau menyukai lelaki gelap mu, kau sudah terlanjur nyaman dengan nya bukan?"
"Tidak"
"Mamah sudah memperhatikan mu dan Bayu selama ini, kau hanya teman ranjang nya bukan wanita spesial nya"
Lisa tersentak, dia tidak mengira dikatakan demikian oleh sang mamah.
BAAAMMMM......
Lisa membanting pintu kamar nya sekuat tenaga.
"Apa kau kira Bayu jatuh cinta pada mu tidak Lisa....."
Sang mamah mengatakan itu agar Lisa mendengar nya.
"Gadis bodoh kau sudah diperdaya oleh kampret itu"
Melina masuk ke kamar nya, tanpa ada yang tahu di kamar atas semua nya terekam bahkan Rindi mendengar sendiri percakapan mereka. Dia sampai menutup mulut nya bahkan air mata nya mengalir dengan deras.
Selama ini semua orang menyembunyikan status nya di rumah ini, bahkan menyingkirkan ibu kandung nya secara perlahan-lahan. Lantas apakah sang papah tertipu dengan kedok istri pertama nya.
"SIAL!"
Umpat Rindi setelah masuk ke kamar nya.
BERSAMBUNG.