TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.49


Haris terdiam di ruang rawatnya, sepi bak hanya dia yang berdiri di dunia ini. Sungguh hampa terasa, bak jingga di puncak gunung meninggalkan dan datang tanpa tanda apa pun.


RONA CINTA


Dan apakah aku


Yang terdiam membisu


Bak sepinya kalbu


Tanpa kamu


Bahkan hanya sepenggal senyum mu


Bak bias gemintang yang terpahat indah


Selaksa guratan tanda cinta


Yang tak lekang sudah


Kau mimpi indah ku


Seperti memori rindu


Kau pemilik jiwa


Yang seakan lara


Ku torehkan sebaris syair


Di tiap gulita malam


Yang ku titipkan pada bayu


Semoga sampai ke relung hati mu


Agar rindu ku bersemayam


Bak melodi cinta


Yang berwarna jingga


Memetik ayu mu dalam diam


Di senja ini


Semoga kau tau


Akan rindu yang kian menggebu


Sejanak Haris mengusap kristal bening yang baru saja mengaliri pipinya, hangat juga basah. Haris tersenyum miris, karena air mata itu begitu berani hinggap di pipinya berkali kali.


"Kau dengan beraninya tanpa ijin dari ku keluar"


Monolog Haris seorang diri.


Haris turun dari ranjang menuju balkon tanpa alas kaki, berdiri tertiup angin sore. Sudah 3 hari sejak ia berbicara pada sang istri di ponsel milik istri kakak sepupunya.


"Sayang kau ada dimana? mas kangen sekali"


Haris menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan besar nya, harusnya bukan dia yang menangis tapi saat ini dia begitu rapuh.


Klek.


Pintu ruang kamar rawat terbuka, Dengan segera Haris menyusut air matanya dengan lengan baju perawat yang dia kenakan saat ini. Haris segera berbalik menuju ranjang nya kembali, dia sudah berjanji tidak akan putus asa tapi akan berjuang. Haris sudah terduduk di ranjang bersiap menerima makanan itu dari si perawat yang datang.


Deg............


Mata Haris bersirobok dengan mata wanita itu, sebentar Haris terlihat tegang namun sedetik kemudian tatapan matanya menunduk.


"Letakan saja makanan itu dipangkuan ku sus, tidak usah ditunggui"


Si perawat hanya terdiam.


"Heh lucu ya, bahkan perawat pun sudah terbayang wajah istri ku, sungguh aku sudah gila"


Setelah bergumam demikian, Haris lantas kembali memandang si perawat itu.


"Lama sekali"


Haris berkata demikian karena wajah istrinya berdiri tepat di samping nya, seperti suster yang bergilir berjaga ke ruang rawat yang Haris huni saat ini.


"Pergi lah, aku akan memanggil mu jika sudah selesai makan, aku tidak akan melompat balkon, lari dari sini atau membuang obat ku, percayalah"


Si perawat yang mirip mukanya dengan Rista itu mengangguk.


"Aku akan sembuh, aku mau mencari istri ku, kau jangan khawatir"


Dengan segera Haris menggapai piring makan itu, melahap nya. Si perawat langsung bergegas, nampak bahu nya bergetar, sedangkan langkahnya melambat. Haris memperhatikan itu, bau nya sangat harum, dan gelang ditangannya bergoyang.


Deg.......


Mata Haris terbelalak, dia langsung bangkit membuang semua makanan itu ke lantai berserakan. Haris berlari sekencang tenaga nya, air mata nya meleleh tak karuan.


"Tidak mungkin, itu dia, itu dia, kenapa bodoh sekali, bodoh"


Haris celingukan di lorong rumah sakit, mencari kesana kemari lantas terhenti tatkala tak ada siapa pun ditemukannya.


"Tidak! jangan tinggalkan aku"


Sejenak Haris terdiam, dia terduduk lemas matanya memandang lurus. Tanpa di duga dari lorong yang lain, ada langkah yang mendekat. Haris melihat kearah seseorang yang datang itu. Dengan segera Haris berlari ke hadapan orang itu yang tak lain wanita yang selalu dia rindukan, istrinya Rista.


"Aku menekan mu!"


Haris menciumi kedua tangan Rista, menempelkan ke pipinya lantas sembari tersenyum namun air mata lelaki itu mengalir.


"Aku cape kalau harus berdiri terus"


"Jangan tubuh mu masih sakit, mas"


Haris ingat jika istrinya sedang hamil karena dia menemukan wadah dari susu hamil itu. Haris hanya menuntun tubuh sang istri untuk masuk ke ruang perawatan di rumah sakit itu yang ia tempati lebih dari 2 Minggu.


"Duduk lah"


Seingat Haris dia menjatuhkan nampan makanannya, namun saat ini ruangan itu sudah bersih. Lagi makanan itu masih utuh terhidang di sofa tunggal kamar itu. Ada buah juga minuman segar, nampaknya sudah disiapkan oleh seseorang.


"Ayo ayy duduk"


menempatkan bantal di belakang punggung Rista.


"Aku sehat mas!"


"Memang kalian harus selalu sehat"


"Kalian"


Harus mengangguk tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus perut milik Rista yang sedikit menonjol.


"Mas sangat kurus, mas tidak menjaga diri mas?"


Lirih Rista.


"Kau membawa milik mas yang berharga sayang"


Rista terdiam.


"Bagaimana mas menjaga diri mas, apa yang harus mas jaga, yang mas jaga pergi meninggalkan mas"


Haris mendekap tubuh istrinya dari samping, kepalanya disandarkan pada bahu istrinya. Terlihat basah karena air mata mengalir dari mata lelaki milik Rista itu.


"Mas sudah ya"


Rista mengelus kepala suaminya, terlihat rambut nya sudah tidak serapih dulu ketika dia tinggalkan di pagi buta. Lelaki yang selalu tampil tampan dengan senyum cerah nya kini menangis tak berdaya. Entah senang dengan kesedihan Haris atau merasa menyiksa lelaki itu terlalu berat.


Cup..cup..cup.


Haris berkali kali mengecup pipi Rista yang semakin berisi itu.


"Ayy mas kangen"


"Iya"


"Jangan tinggalin mas lagi, janji"


Rista terdiam, sementara jari kelingking Haris menggantung di hadapan Rista. Haris mendongak, tersenyum masam karena sang istri terlihat meragu.


"Maaf"


Haris menunduk lantas menggeser duduk nya sedikit menjauh. Rista menoleh sedikit, terasa canggung lantas sedikit tersenyum manis.


"Mas akan berusaha menjadi lelaki idaman mu ayy"


"Mas sudah menjadi lelaki idaman buat Rista"


Haris kembali menunduk, lantas terdiam membisu kembali.


"Cintai lah aku, jujur lah pada ku"


Haris menatap mata sang istri dengan intens, mengangguk pasti akan permintaan wanita tercinta nya.


"Janji jangan tinggalkan mas lagi"


Rista mengangguk.


"Kalau itu terjadi mas akan mati dihadapan mu"


Dengan cepat Rista menutup mulut lelaki itu dengan tangannya.


"Mas jangan berkata sembarangan, serem ihh"


"Mas sungguh-sungguh akan melakukannya ayy"


"Mas, auwww"


"Kenapa sayang?"


Rista menggeleng seraya mengelus perutnya. Haris tersenyum ikut mengelus perut istrinya itu.


'Kamu ada di dalam mamah loh nak, mamah bersuara agak keras sama papah mu saja, kamu marah, dasar anak papah'


Gumam Rista.


Tampak ada sedikit gerakan, Haris merasa ada yg aneh dengan perut istrinya.


"Kenapa mas?"


"Kok perut sayang agak benjol"


"Bukan mas, tapi si dedek bergerak"


Haris memandang istrinya nampak lelaki itu tak percaya. Rista mengangguk untuk membenarkan perkataannya.


"Mas bahagia memiliki kalian"


"Terimakasih mas"


"Mas yang harus nya berterimakasih sayang, kamu sudah mau pulang lagi kepelukan mas"


"Iya"


Mereka terus bercerita hingga mereka lupa waktu dan tidur kembali bersama dalam satu ranjang yang sama setelah hampir 3 Minggu berpisah. Haris harus tersiksa karena ditinggalkan dan Rista juga harus menanggung rindu karena jauh dari lelaki tercintanya.


BERSAMBUNG.