
Sang paman tak bisa mencegah keponakan nya yang akan bertemu suami nya di benua nun jauh sana.
Sore hari nya paman pulang dari bekerja.
"Arin dimana bik?"
"Di taman belakang tuan besar"
"Oh, baik lah saya kesana dahulu"
Bibik yang mengurus rumah besar paman pun hanya menganggukkan kepala nya saja.
Terlihat keponakan nya yang didiagnosa hamil itu, sore ini nampak ceria mirip adik nya ketika seumuran nya.
Rindi sedang berbincang dengan Anita, entah apa yang mereka bicarakan karena sangat jenaka, Rindi tak bisa berhenti tertawa karena kelucuan yang Anita buat.
"Rin"
Rindi menoleh kearah belakang dimana ada pintu belakang yang langsung ke arah dapur.
"Paman sudah pulang?"
"Iya"
"Tumben cepet?"
"Iya tadi suami mu meminta ijin ke paman agar mengijinkan mu menyusul nya ke negara A"
"Terus?"
"Paman ijinkan, tapi harus periksa ke dokter dahulu"
Ucap paman lembut, karena ibu hamil itu cenderung sensitif sekali.
"Aku sudah melakukan nya tadi, paman"
Rindi mengeluarkan surat kesehatan dari dokter kandungan langganan mereka.
"Apa suami mu sudah tahu?"
"belum paman, ini akan jadi kejutan nanti saat aku sampai disana"
"Baik lah malam ini kita berangkat saja"
"Kita?"
"Iya paman juga akan ikut dan tentu dengan mengajak Anita, Novan, bibik dan kamu serta bayi kecil mu itu"
Rindi terdiam menundukkan wajah nya, dia sangat bahagia akan menyusul si suami nya itu.
"Bik"
Paman memanggil bibik yang biasa membantu Rindi dalam hal apa pun.
"Cepat bereskan pakaian non, Lalau pakaian bibik, Anita dan Novan ikut juga jadi cepat berberes ya"
"Siap tuan besar"
"Paman mau bebersih dan mengepak pakaian dahulu ya"
"Iya paman"
Rindi terlihat sangat senang sekali karena diijinkan oleh sang paman untuk menyusul suami nya yang tampan itu.
Rindi juga dengan semangat mengepak camilan kesukaan nya.
"Hai baby, kita jumpa sama Daddy ya, jangan rewel Daddy ganteng banget, nanti disana kita akan manja-manja sama Daddy ya"
Rindi mengelus perut rata nya disana ada sebesar biji jengkol anak nya itu, belum berbentuk hanya bulatan saja.
"Mommy beberes dahulu ya"
Setelah nya Rindi hendak bangkit menuju bibik yang sedari tadi sibuk.
"Sudah non, sudah selesai bibik pack baju nya di koper"
"He....he, aku tadi nya mau bantu, udah selesai aja ya bik"
"Bibik kan kuat non"
"Terimakasih bibik sayang"
Bibik sangat senang jika nona nya itu sangat manja dan mau merepotkan nya karena biasa nya nona kecil nya mengurus semua nya sendiri.
Paman masuk ke dalam kamar nya, lantas segera menghubungi suami dari keponakan nya itu.
Satu kali panggilan saja Andra langsung menjawab nya.
"Iya paman"
"Sore ini kita akan terbang ke negara A, termasuk Anita dan Novan"
Betapa senang nya Andra di benua belahan sana karena sang paman mengabulkan permintaan nya itu.
"Iya paman, bawa jet milik Daddy saja, aku sudah suruh Daddy buat mempersiapkan jet nya"
"Baik lah, kami ke bandara dahulu"
Sambungan telepon itu paman matikan, dia lantas bergegas untuk mandi.
Setelah mandi, paman segera bergegas membawa koper nya turun sementara koper Rindi sudah di keluarkan.
"Itu koper nya Rindi kah bik?"
"Iya tuan, ini semua koper nya nona"
"Isi nya apa bik?"
"Oh"
Paman hanya memandang koper itu sejenak, kalau tidak pakai jet pasti susah untung saja ada jet yang Andra kirimkan untuk istri nya jika tidak repot akan bobot bagasi.
"Paman"
Rindi muncul dari kamar nya, sudah dengan pakaian yang bagus.
"Jangan banyak bawa celana, bawa yang longgar dan nyaman supaya baby bisa nafas"
"Iya paman"
"Kita tunggu Anita dan Novan sampai dahulu"
"Baik lah"
Tak berapa lama, sebuah mobil sport keluaran terbaru memasuki halaman rumah paman yang luas penuh dengan bunga dan asri.
"Itu mereka paman"
Novan dan Anita berjalan beriringan masuk kedalam rumah paman.
"Kalian sudah datang ya?"
"Iya nona"
Anita dan Novan menjawab dengan serempak sekali.
"Ya sudah ayo semua kita berangkat"
Ujar paman.
Mereka menaiki 5 mobil, mobil paman dikemudikan supir ada paman, Rindi dan bibik. Sedangkan mobil Novan di kendarai sendiri dengan penumpang hanya Anita saja.
"Bosan nya"
Gerutu Anita.
"Kau bisa rebahan dahulu, senderkan kepala mu di pundak ku, aku tidak akan keberatan"
Anita melirik sengit lelaki yang memaksa untuk masuk ke mobil nya.
"Jangan nglirik terus aku udah ganteng kok, An"
Anita malas meladeni bos play boy cap jarum itu.
"Ih An An mah begitu suka cuekin aku loh"
Makin malas saja jika Novan bersikap manja pada nya, kesal rasa nya.
Tanpa di duga, Novan menoel pipi dari Anita, sontak gadis kaku itu melototkan mata nya.
"Berani kamu!"
"Nyolek doang kok, tak kira kulit nya kasar eh ma nyos empuk nya"
Anita berdecak kesal di buat Novan.
"Jangan bertingkah ya, aku turun nih"
"Iya.....iya maaf lah An"
"Bikin kesel aja ih"
Novan tersenyum cuek nya Anita, dingin nya Anita membuat dia sangat tertarik dengan wanita kaku itu.
'Apa kabar Roy kalau aku jadian sama Anita'
Gumam Novan dalam hati ingin melihat lelaki kutub itu cemburu.
"Dih situ waras?"
Tanya Anita karena Novan tampak senyum-senyum sendiri pada hal tidak ada yang lucu selain pemandangan di depan mereka yang hanya sawah gersang.
"Waras lah of course, kalau pun gila ya karena mikirin kamu lah cantik"
Novan hendak mencolek lagi pipi Anita, namun gadis dewasa itu segera menepis tangan Novan.
"Nov fokus dong ah, ntar kena tabrak mobil lain loh, aku tidak mau mati muda"
Novan tertawa terbahak-bahak.
"Yang mati muda juga banyak kali"
"Ya nggak mati konyol kaya gini segala"
"Kata gini gimana?"
"Ya gak lucu lah mati karena sedang bersama sama kamu"
Novan kembali tertawa, karena mobil mereka juga berjalan dengan kecepatan sedang karena berangkat dengan santai nya.
Anita kembali terdiam karena dia tidak ingin berbicara dengan lelaki konyol yang hari ini menjadi supir dadakan nya.
"Kita sudah sampai"
Karena mobil depan berhenti dan berjejer dengan yang lain nya. Sontak Anita kaget dan tentu saja gelagapan.
"Usap itu iler mu dahulu setelah nya kita turun"
"Gila, ini kan macet bukan sudah sampai bandara, kamu ngeganggu aja mimpi indah ku itu"
"Dih siapa yang ganggu lah, cuma bangunin kamu dari rasa bosan ini"
Anita tak menjawab lagi, mereka terjebak macet setelah 1 jam baru bisa sampai bandara.