TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.380


Lisa yang terus menangis didalam kamar nya, sementara William mengurung Carmen.


"Aku yang bersalah Arin, Andra, maaf"


Lirih nya seperti racauan, dia mengunci pintu kamar dan tinggal di kamar yang gelap sendirian.


William sudah selesai mengurus Carmen, Roy, Anita dan Novan sudah menyemprot mansion megah keluarga Mid dengan desinfektan.


"Menjijikan sekali wanita itu"


Ucap Novan kesal.


"Benar, harus nya kita waspada, ini sangat memalukan sudah mencoreng aib pada tuan kita"


Ucap Anita, sementara Roy hanya terdiam saja tanpa ingin membahas apa pun.


"Baik lah, aku ke kamar istri ku dulu ya"


William mandi di kamar tamu lalu langsung keluar lewat jendela, dia memanjat balkon karena lebih steril.


"Kenapa gelap sekali"


William pun segera menyalakan saklar lampu kamar mereka.


"Sayang"


William mendekati tubuh gemetar milik Lisa, Lisa masih menangis dengan deraian air mata yang deras.


"Ada apa? kenapa yang?"


"Mas aku yang salah mas, aku"


Lisa berbicara sambil menangis sungguh itu membuat hati William sangat sedih.


"Jangan sedih sayang, itu bukan lah salah mu bukan, itu adalah kejahatan yang dilakukan Carmen"


"Aku tahu, tapi aku lah penyebab nya"


Ucap Lisa, William hendak memeluk tubuh langsing Lisa namun Lisa malah menghindar.


"Dengarkan mas yang, tolong berhenti menangis nanti mata kamu bengkak loh, kasihan mata cantik nya sudah memerah tuh"


"Tidak"


"Lisa kemari jangan bertindak gegabah atau sembarangan"


William mengejar Lisa, Lisa pun lari. Lisa hendak lompat dari balkon entah apa tujuan nya namun William segera menangkap nya.


"Ahh....sakit"


Lisa memegangi kepala dan perut nya.


"Lisa.....!"


William mengguncang tubuh Lisa namun nihil, William menggendong tubuh istri nya segera menuju mobil dan berangkat ke rumah sakit.


William memperhatikan wajah pucat Lisa yang ada di jok belakang.


"Semoga kau baik-baik saja Lisa"


Hanya 45 menit William berkendara menuju rumah sakit lantas segera turun dari mobil nya.


"Dokter....dokter tolong istri ku pingsan"


Semua petugas medis keluar, lalu tubuh Lisa dibaringkan di brankar menuju me ICU untuk mendapat pertolongan sesegera mungkin.


Andra terus memejamkan mata nya serasa menghembuskan nafas nya dengan teratur.


Meski selang infus menancap di tangan nya, tubuh nya telanjang, bahkan alat vital nya sedang dirawat.


Andra divonis mengkonsumsi obat perangsang untuk hewan, untung nya di campurkan ke buah jadi hanya 80% saja bereaksi nya.


Seandainya di campur ke alkohol pasti Andra sudah koma, untung pemberi obat tak membaca nya terlebih dahulu atau mempelajari nya karena mungkin buru-buru menggunakan nya saat ini hingga masih ada cela bagi ilmu kedokteran untuk menghilangkan efek nya.


"Bagaimana profesor?"


"Biarkan Andra menenangkan pikiran nya terlebih dahulu, kita semua tahu jika Andra pikiran nya sedang kacau"


Daddy Rei dan ayah Andreas mengangguk, ibu Amelia, Rindi dan Daddy German hanya bisa duduk di bangku tunggu.


"Nak yang sabar ya"


Ucap ibu Amelia mengusap punggung istri dari anak angkat nya.


Tak berapa lama datang lah brankar yang membawa satu pasien yang Rindi kenal.


"Kak Lisa, ibu itu kak Lisa"


Tunjuk Rindi, dimana disamping brankar juga ada William yang ikut mendorong. Mereka bertiga segera berlari menghampiri William yang nampak sedih karena Lisa frustasi.


"Nak ada apa?"


Ucap ibu Amelia mendekat ketika anak kandung kedua nya itu datang membawa istri nya.


"Mommy Lisa pingsan, sejak Andra dibawa ke rumah sakit dia terus menangis histeris mom"


Ucap William sedih.


"Kak Lisa...hu....hu"


Rindi menangis sesegukan, ibu Amelia memeluk Rindi.


"Kau harus menenangkan Lisa nak, mungkin dia merasa bersalah pada adik dan ipar nya ini"


William mengangguk.


Ucap Daddy German menepuk punggung kekar anak kedua nya.


"Pasti dad"


Lisa ditangani oleh dokter ahli karena dia juga pucat ditambah banyak menangis.


Setelah 1 jam dokter membuka pintu ruang unit gawat darurat itu.


"Keluarga pasien atas nam Lisa"


Ucap sang dokter.


"Saya suami nya dok"


Ucap William lantang.


"Istri saya sakit apa dok?"


Ucap Will dengan khawatir.


"Selamat pak istri anda sedang mengandung 5 Minggu"


Degh......


William seketika menangis, dokter pun heran dibuat nya.


"Maklum dok anak kami sangat mencintai istri nya jadi terharu"


Ucap German pada dokter karena malu anak kedua nya itu menangis.


"Kau ini buat malu saja, jangan menangis di depan dokter dong setidak nya"


"Aku sangat bahagia dad"


Ibu Amelia dan Rindi berpelukan dengan kencang nya lantas menangis terharu.


"Selamat ya kak, sudah diberi kesempatan buat punya buah hati"


"Terimakasih ya Arin"


Ucap William tulus lantas segera bergegas mengikuti brankar menuju ruang rawat yang dokter siapkan.


Ruangan itu hanya bersebrangan dengan ruangan Andra saja.


"Lisa kenapa Rin?"


Ucap Daddy Rei pada menantu nya.


"Kak Lisa pingsan karena menangis setelah mas Andra dibawa ke rumah sakit dad, tapi setelah dibawa ke rumah sakit kak Lisa dinyatakan hamil dad"


Ucap Rindi menerangkan pada mertua nya.


"Oh syukurlah kalau begitu Rin"


Rindi mengangguk.


"Andra sudah lebih tenang, namun dokter menyarankan agar jangan ditengok lebih dulu"


"Iya dad"


"Daddy mau kembali ke mansion melihat mommy"


"Iya"


"Sudah ada 30 bodyguard menjaga ruangan pasien, termasuk nanti Daddy akan mengirim Anita kemari"


Rindi mengangguk lantas mertua nya bergegas pergi pulang.


"Nak"


Rindi mendongak, ibu Amelia menyodorkan kotak makan malam pada Rindi.


"Terimakasih Bu, ibu belum pulang?"


"Sama-sama sayang, belum masih mau nunggui Andra ibu khawatir sekali"


Ibu Amelia membuka kotak makan itu memakan nya sedikit demi sedikit.


"Dimakan nak, kamu menjaga suami dan saudari mu, kamu harus kuat tidak boleh tumbang"


Rindi mengangguk saja, dia membuka kotak makan itu.


Daddy German sudah pamit pulang, tapi ibu Amelia memaksa untuk menemani Rindi dia ingin setidak nya menghibur menantu angkat nya itu.


"Andra anak yang sangat baik, sejak ibu menemukan diri nya ibu sangat bahagia meski bukan anak kandung ibu, dia bisa menjadi apa pun dan berkorban apa pun untuk ibu dan kakak nya"


Rindi mengangguk, Bu Amelia memegang tangan menantu angkat nya.


"Tolong jangan tinggalkan anak ibu, tolong jangan pergi kemana pun, dia sekarang sangat membutuhkan mu nak, berfikir lah tentang masa depan kalian"


Ucap ibu Amelia lembut.


Rindi hanya tersenyum samar saja, bahkan baru beberapa jam lalu suami nya menggoyang tubuh wanita lain meski pun secara tidak sadar.


"Arin akan berusaha Bu"


Ibu Amelia tersenyum mengelus rambut panjang menantu nya.


"Ibu percaya kamu adalah wanita yang bijak, kamu tahu kan sifat dan sikap yang dimiliki Andra, ibu sangat memohon pada mu nak"


Rindi mengangguk, mereka langsung berpelukan dengan erat.


BERSAMBUNG.