
"Eh ada tamu"
Rupa nya Tante dari Andreas sudah kembali dari meeting nya. Min tersenyum manis, sedangkan Andreas menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Tumben kau berkunjung, kau sangat senggang rupa nya"
"Ah tidak juga Tante"
Min merasa malu sendiri dengan keadaan yang canggung antara Tante dan keponakan nakal nya.
"Ada Jasmin juga, loh bukan nya masih Minggu depan"
"Ada hal yang mau Min bahas Tante"
Bukan nya Min yang berkata tapi ini malah Andreas.
"Kenapa kau yang ngomong, memang nya kau sedang hamil juga?"
"Bukan"
"Lantas?"
"Min ini sudah menikah, tapi belum ada acara resepsi jadi semua orang tidak tahu, masalah nya Min sudah hamil tapi suami nya menginginkan dia untuk mengugurkan kandungan nya"
"Hah! apa!"
"Jangan kaget lah Tante, ekspresi nya kaya Tante antagonis dalam sinetron saja"
"Bisa-bisa kau menyamakan Tante mu ini dengan pemain sinetron"
PLAAKK......
Timpukan buku melayang kearah Andreas.
"Bukan begitu Tante, suami nya orang berpengaruh"
"Meski pun orang berpengaruh tapi lelaki itu sungguh bejad, mau membuang janin ini"
"Masalah tidak sesepele demikian, suami nya ragu itu bukan bayi milik nya karena ada foto tidak senonoh antara Min dan Andreas"
Andreas menunjuk pada diri nya sendiri.
"Loh kok kamu?"
"Maka dari itu Tante, suami nya ragu, tapi kan tentu saja Min tidak ingin membuang janin nya karena di yakin tidak berhubungan siapa pun selain suami nya"
"Lantas bagaimana dengan foto itu?"
"Entah lah, Andreas juga tidak ingat hari itu ada dimana?"
"Tapi kan bisa editan"
"Itu masalah nya ahli edit mengedit bilang itu asli"
"lah kok jadi gamang"
"Jadi inti nya Min tidak ingin mengugurkan kandungan nya, tapi ingin memperlihatkan hasil nya kepada suami nya jika sudah aborsi"
"Terus kalau perut mu buncit bagaimana?"
Dokter bertanya pada Min yang sedari tadi hanya diam saja.
"Min akan pergi"
Tante dokter dan Andreas saling pandang, jujur mereka bingung.
"Tapi peran suami sangat penting bagi seorang buah hati nak"
Min tetap menunduk, sambil meraba perut nya.
"Suami ku bisa tanpa aku, tapi ank ku tidak bisa tanpa diri ku dokter"
Tante dokter tersenyum.
"Kau akan menjadi orang tua tunggal?"
Min mengangguk.
"Baik lah, Tante akan mempertaruhkan pekerjaan Tante untuk anak ini, jika kau ketahuan tidak aborsi maka pasti suami mu akan marah dan Tante akan dipecat dari rumah sakit karena kuasa nya"
Min mendongak.
"Jadi kita perlu bersandiwara"
Andreas memandang heran.
"Nanti aku akan panggil perawat, kau pura-pura pingsan setelah aku oleskan darah palsu di kaki mu ya"
"Baik dokter"
"Andre kau harus pakai pakaian paman dokter untuk menjadi dokter lelaki yang akan menangani pengkuretan, aku akan menjerit ada wanita yang salah minum vitamin dan keguguran"
"Baik lah"
Rencana yang sudah diatur itu segera mereka laksanakan. Benar saja banyak perawat yang datang juga ada beberapa dokter, namun Tante dari Andreas sudah bilang jika ada dua dokter yang menangani nya.
Saat ini Min dilarikan ke UGD, untuk di kuret karena keguguran.
"Akhir nya sudah tidak ada orang, cepat ganti pakaian mu di sana"
Dokter menunjuk pada kamar sebelah untuk Min ganti pakaian. Setelah nya dokter mengoles darah Min palsu ke alat kuret agar bisa Disteril, kebetulan Min belum makan siang jadi agak pucat. Meski agak beresiko tapi ini pilihan terbaik.
Dua jam sudah akhir nya dokter keluar dan mencatat, serta perawat mendorong brankar menuju ruang perawatan. Benar saja dugaan dokter ada mata yang mengawasi mereka.
'Untung lah melakukan sandiwara ini'
Ucap Tante dokter.
"Iya"
"Nyonya di rumah sakit xxx, dua jam lalu masuk UGD melakukan pengkuretan tuan"
"Bukan nya aborsi"
"Benar setelah aborsi, makan rahim harus dibersihkan dari sisa darah kotor yang ada"
"Oh begitu"
"Dokter juga bilang ini salah minum vitamin jadi nyonya mengalami keguguran"
"Kok bisa?"
"Mungkin itu alibi rumah sakit, supaya kelak tidak ada kericuhan tuan"
"Oh baik lah, lanjutkan penyelidikan kalian"
"Baik tuan"
Para pengawal kembali mengawasi nyonya mereka, sedangkan Tante dokter sudah menyadap pembicaraan mereka.
"Ada yang mengawasi kita sejak Jasmin datang"
"Benarkah?"
Baik Min atau pun Andreas merasa kaget.
"Kalian tidak usah kaget mereka sudah percaya, ini rekaman telepon mereka dengan tuan nya"
Min menerima rekaman itu dan menyimpan nya.
"Aku mau meminta stempel rumah sakit dan melaporkan dari bagian ku ada yang keguguran karena aku salah memberikan obat vitamin pada pasien"
"Lalu bagaimana pekerjaan Tante?"
"Paling di skorsing 2 Minggu, biasa lah om mu sok keren"
Andreas mengerutkan alis nya, Min hanya tersenyum.
"Terimakasih Tante"
"Eh kau juga memanggil ku Tante seperti anak nakal itu ya"
Andreas tertawa senang.
"Maka kau akan menjadi keponakan ku gadis cantik"
Min mengangguk.
"Sudah lah sekarang aku bekerja dulu, 4 jam lagi kau sudah bisa pulang"
"Baik Tante, terimakasih ya"
Min segera beristirahat setelah meminum vitamin.
Rei di kantor sangat senang, karena lagi dan lagi istri nya tidak membantah perkataan nya. Lelaki itu segera memesan gedung dan semua nya untuk acara resepsi pernikahan antara diri nya dan Min dengan megah dan secara besar-besaran.
"Mah, datang lah ke kantor besok Rei ingin membicarakan buat acara resepsi tiga hari lagi"
"Baik lah, bagaimana dengan persiapan nya?"
"Rei sudah pesan semua nya tenang saja"
"Kau berinisiatif sekali ya"
"Tentu, semua nya harus sempurna bukan?"
"Iya, kau sedang senang bukan?"
"Iya mah, senang banget"
"Baik lah, jangan lupa jaga kesehatan mu"
"Terimakasih mah"
Rei dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang tersisa menjadwal ulang semua meeting yang tersisa. Dia ingin segera pulang untuk melihat istri nya, wanita yang sudah lam bertahta di hati nya. Malam ini Rei berencana melakukan sedikit adegan romantis sejenis makan malam atau sekedar kencan romantis di villa milik nya.
"James apa nyonya sudah pulang?"
"Belum tuan, tadi nyonya menelpon memberi kabar kata nya akan pulang larut"
"Baik lah, siapkan makan malam mewah ya, jika nyonya pulang suruh makan lebih dulu"
"Baik tuan"
Rei mengakhiri panggilan nya, tak bisa di pungkiri dia sudah jatuh cinta pada wanita belia itu. Seperti perasaan bahagia tak terkira, jantung nya berdetak kembali setelah sekian lama tidak pernah merasakan perasaan yang meluap seperti ini saat ini.
"Yos kemari lah"
"Iya tuan"
"Belikan bunga tulip putih"
"Berapa tangkai?"
"Seribu tangkai saja, taruh dikamar utama bawah, suruh James letakkan disana"
"Baik tuan"
Rei tahu jika Min begitu menyukai tulip putih, karena itu menyuruh nya beberapa Minggu setelah Min menyatakan diri nya hamil, Rei langsung menyuruh wanita itu untuk menempati kamar utama bawah. Selain memudahkan ibu hamil juga berdampingan dengan taman bunga, sayang nya sang mamah tidak menyukai tulip jadi hanya beberapa tangkai saja yang ditanam.
BERSAMBUNG.