
Aksara sudah membuka mata namun istri cantik nya masih terpulas dalam buai mimpi. Aksa tersenyum mencium perut buncit wanita muda itu, lalu bergegas untuk menikmati wajah halus itu. Mengelus lembut pipi cubby itu, dulu begitu kurus sekarang tambah berisi.
"Kau bukan lagi gadis belia, kau istri ku ibu dari semu anak-anak ku, tunggu lah sebentar semua nya akan baik saja"
Tak berapa lama Cinta membuka mata nya, istirahat total memang bisa mengurangi sakit di bagian perut bawah Cinta.
"Sudah bangun?"
Cinta mengangguk lantas segera duduk bersandar di kepala ranjang.
"Masih ada yang sakit?"
Cinta yang ditanya malah bengong karena tangan Aksara mengelus pipi nya.
"Kenapa?"
Cinta menggeleng, memperhatikan wajah tampan suami nya yang begitu dia rindukan sebagai Cinta. Sontak saja air mata Cinta mengalir di kedua pipi mulus nya. Tak khayal itu membuat Aksara panik, Aksara mengusap lembut cairan basah itu.
"Apa ada yang sakit? atau ingin makan sesuatu?"
"Tidak, aku .....aku tidak apa"
Cinta menundukkan kepala nya, sedang Aksa sudah menebak dengan pasti.
"Makan buah ya, biar perut nya seger"
"Iya"
"Mau makan nasi setelah nya?"
"Aku tidak lapar"
"Mau keluar lagi?"
"Apa masih boleh?"
"Tentu saja, kenapa tidak!"
"Baik lah"
"Kalau begitu kita siap-siap untuk untuk ke ruangan dokter untuk cek ulang"
"Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak, ini hanya cek biasa saja, lagi pula kan kemaren sudah ditangani"
"Baik lah, aku mandi sebentar"
"Apa mau di bantu?"
"Tidak usah, apa aku boleh memakai baju rumahan"
"Pakai saja"
Dengan perlahan Cinta pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
1 jam Cinta mandi dengan bersih, kini Aksara mendorong kursi roda seorang wanita dengan perut buncit itu. Cinta nampak cantik dengan dress longgar selutut berwarna Salem, kulit nya putih semakin bercahaya dengan make up tipis. Mereka memasuki ruangan cek up dokter, semua nya adalah dokter kandungan yang handal di bidang nya. Aksara menemani Cinta melakukan pengecekan kandungan, Cinta sedikit gemetar karena menjalani serangkaian check up itu.
"Bagaimana dokter?"
"Maaf tuan muda dan nyonya Alkatiri, ini sangat sulit sekali, kandungan nyonya terlalu lemah, saya harap bisa memprioritaskan nya"
"Apa tidak ada cara lain dokter?"
"Menurut pengamatan saya nyonya baru saja melahirkan anak kembar sepasang bukan?"
Aksara melirik Cinta yang langsung menunduk.
"Rentan waktu nya tidak cukup"
"Tapi saya lahiran normal"
"Betul, tapi saat kehamilan pertama nyonya kekurangan gizi, itu yang memicu kelahiran selanjutnya bermasalah"
"Lantas"
"Apa solusi nya?"
Lanjut Aksara.
"Gugurkan anak itu, jika tidak nyawa kedua nya terancam"
"Bukan kah ada obat-obatan tradisional juga modern?"
"Itu tidak menjamin, janin anda sebelum nya 8 janin, saat ini masih tersisa 3, semua janin lelaki sangat rentan mereka sudah mati saat nyonya jatuh"
"Apa!"
Aksara sangat kaget karena 5 janin nya sudah hilang, dia langsung lemas.
" Bagaimana bisa dokter?"
"Bisa, karena dalam janin itu ada sisa-sisa obat keras terlarang"
"Tolong lah dokter"
Cinta menangis.
"Tolong bekerjasama lah, ini termasuk hal yang sangat sulit"
Cinta tanpa pamit keluar ruang cek up tersebut, dia menjalankan kursi roda nya sendiri. Aksara segera mengejar wanita kesayangan nya itu, lantas menahan kursi roda nya.
"Ayo kita makan di luar?"
"Aku tidak lapar"
Suara Cinta parau, Aksara tahu jika istri nya ini sedang menangis.
"Bagaimana kalau makan ice cream?"
"Tida, tidak mu"
"Baik lah"
Sampai di ruang rawat selanjut nya Cinta perlahan berdiri.
"Aku ingin tidur, aku lelah"
"Sayang Jangan sedih ya"
Aksara sudah merangkul pundak istri nya, lantas mendekap nya dari belakang.
"Kalau mamah nya sedih, baby nya juga sedih loh, nanti bisa kurus loh"
"Aku ingin mereka, aku ingin mereka tumbuh"
"Sayang, maaf itu tidak mungkin"
Cinta langsung berjinjit untuk mencium bibir tebal suami nya. ******* nya pelan, hangat juga lembut. Dengan cepat Aksara melakukan pemisahan bibir mereka.
Aksara segera menuju balkon, dia tidak sanggup jika seperti ini.
"Mereka anak ku, aku yang membawa mereka, kenapa aku harus kehilangan mereka!"
"Jangan seperti ini, sayang"
"Aku yang merasakan anak ku, bukan kamu atau mereka"
Aksara hanya terdiam, menghembuskan nafas nya pelan.
"Mereka bisa membahayakan diri mu, bahkan belum tentu selamat ketika di lahirkan"
"Aku bisa merawat nya, aku merasakan aku"
"Baik lah, kita bicara lagi nanti dengan dokter"
BERSAMBUNG.