
Malam kian larut namun Rei masih sibuk berkutat dengan pekerjaan nya.
"Tuan sudah akan larut malam"
Rei melihat Aryos lalu melihat jam dinding di ruangan kantor nya.
"Kau benar"
Rei kemudian berkemas, dia melihat ruangan Ravenda yang masih menyala.
"Apa ada pekerjaan penting?"
"Tidak ada"
Rei tak menghiraukan lagi, dia segera bergegas untuk pulang ke villa karena sangat lelah.
"Tuan, lihat?"
Rei mendongak, lampu masih menyala di balkon kamar nya, seorang gadis cantik dengan piyama tidur meski tidak tipis atau pun sexy tetap saja sangat cantik.
"Seperti gadis yang putus cinta"
Rei melirik asisten atau tangan kiri nya itu.
"Sudah malam tuan, selamat beristirahat ya"
Rei menggelengkan kepala nya, karena Aryos langsung tancap gas.
Rei melangkah masuk dan langsung menuju kamar nya.
"Apa sedang patah hati?"
"Tidak"
"Oh ya"
Rei mendekat pada Min, gadis itu memalingkan wajah nya. Rei tahu mata gadis itu begitu sembab.
"Apa kau ingin mengejar nya?"
"Tidak om"
"Benar kah?"
"Perpisahan yang sulit"
"Mana ada?"
"Kalau ingin mengejar nya, maka kau harus bekerja nona"
Min diam dia segera naik ke ranjang untuk tidur.
"Malam ini juga dia masih di kantor, apa mau menyuruh dia pulang atau mau meminjam ponsel, biaya nya murah loh"
"Tidak, terimakasih"
"Sok jual mahal, ntar nangis lagi"
"Gak ya om"
"Dari kapan kita om dan keponakan"
"Hanya satu ciuman kau dapat mendengar suara nya bahkan berbicara dengan lelaki tersayang mu"
"Aku ngantuk, mau tidur"
"Tapi aku lapar"
"Oh ya maka kau yang akan ku makan"
"Iya aku masak tapi yang sederhana saja mau?"
"Baik lah"
Min turun membuatkan sayur terong yang digoreng lalu dilumuri kecap saja, ayam goreng instan yang hanya langsung digoreng saja, segelas jus jambu merah sudah terhidang.
"Cepat sekali?"
Setelah 30 menit Rei melakukan ritual mandi nya itu, dia segera turun kebawah kalau-kalau gadis itu belum menyiapkan apa pun.
"Iya dong, kan makanan sederhana"
"Lumayan"
Min mengambilkan nasi di piring Rei, lauk juga sayur nya.
"Terimakasih"
Rei makan dengan lahap dan menghabiskan 2 porsi.
"Om"
"Hem"
"Apa aku bisa bekerja di kantor?"
Rei mendongak lalu bangkit dari kursi yang dia duduki itu tanpa mengucapkan perkataan apa pun juga.
Min mengejar nya hingga ke kamar mereka, Min terdiam ketika lelaki itu pergi ke balkon kamar.
"Kenapa harus bekerja?"
"Bukan kah tujuan om merekrut Min kemari untuk bekerja?"
Rei melihat gadis itu dengan seksama.
"Oh ya, aku sudah tidak ingat"
"Hah!"
Min sangat dongkol di hati nya.
"Lantas Min ikut om kesini untuk apa?"
"Bagaimana jika kau istri ku, bukan kah istri itu harus ikut suami?"
Min mundur, tiba-tiba saja tubuh nya bergetar. Jawaban yang tidak masuk akal, keadaan yang tidak masuk akal juga dia dapatkan.
"Om jangan bercanda, om bisa punya istri siapa pun, Min hanya ingin menghidupi mamah saja"
"Jika yang ku inginkan diri mu bagaimana?"
"Min hanya gadis biasa, gadis tidak punya apa pun, Min hanya ingin hidup dengan mamah"
"Benar kah?"
Rei mendekati gadis itu, dia tahu jika gadis di samping nya sedang terkejut atas jawaban nya.
"Om, Min tahu Min berhutang banyak sama om, Min akan lakuin apa saja yang om ucapkan, percaya lah"
"Baik, maka diam lah di villa ini dan jangan menuntut apa pun"
BERSAMBUNG.