
Haris segera menyusul istri nya masuk kedalam kamar, disambut suasana temaram, Haris tak ingin hubungannya semakin renggang dengan istrinya, dia langsung masuk kedalam selimut lalu tertidur.
"Eenggg"
Haris menggeliat sudah pukul 6.30 pagi, di raba nya tempat sebelahnya sudah dingin. Tak ada suara dilantai bawah, Haris bergegas mandi lalu menuju meja makan. Disana Haris membuka tudung saji, secangkir kopi hitam, sepiring nasi goreng dengan toping telur ceplok, mentimun, tomat, suwiran ayam juga sosis. Haris duduk dan segera melahap sarapan nya hingga tandas, meminum kopi milik nya hingga habis, dengan segera menuju ke kantor untyk bekerja.
Sementara Rista, masih di taman kota, saat hendak menuju kantor tiba tiba dibelokan ada penjual sarapan, terlihat lezat akhirnya Rista pun turun membeli aneka jenis roti. Sudah beberapa waktu kepalanya pusing hampir semingguan tapi saat ini pusing nya sudah sedikit berkurang tapi porsi makannya melonjak naik. Rista tak pernah ambil pusing dengan semua itu.
"Ah kenyang sekali"
Mengusap perutnya, meski makannya banyak tubuh Rista belum melar karena rok kerjanya masih muat muat saja.
"Ris"
Yang dipanggil menoleh, lantas mengamatinya.
"Ini aku Dikta"
Lelaki itu menjawab kebingungan Rista.
"Dikta, kok kamu disini?"
"Ya mau dimana lagi, kan usaha katering ku sudah membuka cabang di kota ini"
"Oh ya"
Dikta mengangguk, lalu tersenyum. Sementara Rista mulai berjalan menuju kantor nya.
"Mampir ya ke resto ku"
"Baik lah aku akan mampir sesekali"
"Eh ya Ris, Cinta mana?"
Deg.........
Rista menghentikan langkahnya, lantas berbalik.
"Cinta kuliah disini ya?"
"Jadi kau tidak tahu kondisi keluarga mu didesa?"
Rista menggeleng.
"Menurut kabar yang ku dengar Cinta sidah dinikahi Arhan, itu kata pak kepdes tapi ada berita lain bahwa Cinta dikejar segerombolan preman dan dia melarikan diri dari desa ke kota ini"
Tutur Dikta panjang lebar.
Rista nampak terdiam, masih mencerna ucapan sahabatnya.
"Kita masuk ke resto ku saja yuk?"
Rista mengangguk lalu mengikuti Dikta menuju resto nya.
"Pesan makan atau minum dulu, sepuas mu gratis"
"Aku ga minta"
"Tapi aku yang memberi"
Dikta adalah pemuda yang disandingkan oleh ayah Rista, namun karena Rista bekerja di kota jadi dia bertemu Haris. Dikta bukan dari keluarga berada, namun Dikta pekerja keras. Ayah Rista menjodohkan nya dengan Dikta karena Dikta mampu dan cakap untuk kriteria yang Rista inginkan, tidak ada embel embel harta karena Dikta lelaki penyayang. Dikta mulai berpacaran dengan Lusira karena mendengar Rista sudah memiliki pasangan.
"Ceritakan semuanya"
"Sambil makan ya"
Rista mengangguk.
"Aku dengar dari pak kepdes bahwa Cinta dinikahi Arhan Daseno, mereka tinggal di kota. Sudah 2 bulan setiap Arhan berkunjung ke rumah pak Arkam Sinudi selalu membawa berbagai macam buah tangan"
Ucap Dikta sembari menyuapkan puding ke mulutnya.
"Tapi menurut Ilham Liam, Cinta kabur ke kota karena dikejar segerombolan preman yang ingin menangkapnya, entah apa masalahnya aku tidak tahu pasti"
"Lalu"
"Lalu aku dengar Ilham Liam pergi mencari jejak Cinta di kota ini tapi tidak ditemukan dimana gadis itu"
Rista terdiam membisu.
"Habiskan ayam geprek mu"
Rista mengangguk.
"Ayo kalau sidah selesai aku antarkan kamu kerja"
Rista mengangguk, menaiki jok belakang motor milik Dikta, Dikta hanya menggunakan motor matic yang tidak terlalu tinggi meski Rista sudah memakai sepatu kets bukan hills nya.
"Ris, ini ambil untuk makan siang"
"Aku tidak pelit pada mantan jodoh ku"
"Jangan sampai Lusira melihat!"
Rista berkata sambil cekikikan.
"Dia istri simpanan tuan Daseno yang kaya raya, Ris"
Dikta berucap sambil berlalu dari area lobi kantor.
Semua yang dilakukan itu tak luput dari sepasang mata yang memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Apa kau ingin pergi dari ku, dengan lelaki katering itu, awas kau"
Lelaki itu siapa lagi jika bukan suami Rista, Haris. Haris kira sang istri telah sampai dikantor lebih dulu dari dirinya, namun ketika memasuki ruangan itu kosong mlompong. Haris sejak tadi duduk, berdiri lalu mondar mandir.
Rista memasuki ruangannya, dia menenteng kotak pemberian Dikta. Dikta temannya jelas dia menghargainya, apa lagi harus dibuang mending dimakan bermanfaat menambah tenaga.
"Sarapan yuk?"
Rista mendongak, lalu membuka laptop di mejanya.
"Memang sarapan dirumah belum kenyang?"
"Kau belum sarapan kan?"
Ucap Haris, meskipun dia tahu Rista baru diantar lelaki berseragam katering.
"Aku sudah sarapan"
Jawab Rista acuh.
"Tapi aku ingin sarapan lagi"
"Tinggal pesan saja"
"Aku sarapan dengan mu"
"Aku kan sudah bilang, aku sudah sarapan"
Haris semakin geram dengan jawaban Rista yang tak peduli pada keberadaannya. Dengan cepat Haris meraih kepala Rista, lalu mencium bibir istrinya secapa paksa. Rista yang mendapat serangan tak terduga hanya gelagapan karena bibir nya sudah dikuasai suaminya. Haris menekan kursi Rista kedinding dan terus memberikan ciuman panas nya pada istrinya. Toh itu istrinya, mau dia apakan juga sah sah saja. Rista berusaha mendorong Hadis bukan karena kehabisan nafas tapi perutnya tiba mual sangat sangat mual. Rista segera meraih plastik ketika bibir nya dilepaskan Haris.
Hoekk....hoeekk.
Rista memuntahkan semua makanan yang dia makan setengah dari plastik itu hasil muntahannya. Lidah nya terasa pahit, perut nya mual juga lemas. Haris kebingungan lantas mendekat memijat bahu Rista, mengambil minyak aroma terapi milik nya dan mengusapkannya di tengkuk istrinya.
"Apa sudah lebih baik?"
Rista mengangguk meski pun dia masih memejamkan matanya, perutnya kembali mual dan dia berusaha memuntahkan nya lagi tapi pusing itu sangat menderanya.
"Kepala ku pusing sekali"
Rista berucap dengan lirih, wajah nya pucat, keringat mengucur dengan deras.
"Kita ke dokter ya?"
Rista menggelengkan kepalanya.
"Aku mau istirahat saja sebentar"
"Tapi wajah mu sudah pucat ayy"
"Aku lelah mau tidur, aku tidak mau ke dokter, jangan paksa aku"
"Ya sudah, ke ruangan ku ya"
Haris membopong tubuh lemah istrinya, membawa ke ruangannya untuk tidur.
"Tidur disini ya, kalau kurang nyaman telpon aja, aku letakan ponsel disamping bantal"
Rista mengangguk, Haris segera menyelimuti tubuh istrinya setelah mengganti baju Rista dengan piyama kebesaran milik nya.
Menghidupkan AC di dinding dengan volum nyaman, juga menghidupkan aroma terapi yang merelaks kan pikiran.
"Bos"
"Belikan bubur, buah, susu campuran buah juga jus mangga yang segar"
"Baik bos"
"Apa yang sudah ku lakukan dasar bodoh, kenapa juga terlintas pikiran menginginkannya saat di kantor"
"Kenapa pikiran ku jadi kacau begini"
Haris terus saja berbicara sendiri seolah ada lawan bicara nya, Haris menyesali perbuatannya yang berujung menyakiti istrinya.
BERSAMBUNG.