TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.249


Rindi berlari kencang setelah memberikan kalung itu, Andra terdiam. Dia tersenyum, gadis itu tanpa berkata apa pun pergi begitu saja.


"Tuan"


"Diman baju kerja ku?"


"Ini saya letakkan di meja"


Rindi sudah berada di kamar pasien dia segera membawa baju untuk pergi ke kamar mandi. Dada nya seolah berdebar kencang, dia tahu dengan jelas bahwa lelaki yang dia idamkan itu ada dihadapan nya tadi.


Setelah 20 menit di selesai mandi dan mengikat rambut nya.


"Nona"


"Iya"


"Tuan menunggu di lobi rumah sakit"


"Baik, terimakasih"


Beberapa kali Rindi melihat diri nya di cermin.


"Bagaimana ini, kenapa kesan ku sangat burik saat pertama kali bertemu dia?"


Rindi sudah pasrah dengan keadaan nya, dia segera turun menuju lobi rumah rumah sakit di lantai dasar.


Disana Rindi melihat Andra duduk di kursi roda dengan asisten lelaki nya di samping nya.


"Selamat pagi nona!"


Roy menyapa Rindi.


"Pagi"


Andra dan Rindi saling bertatap mata, Rindi nampak gugup dia mengalihkan pandangan mata nya.


"Roy bawa mobil nya"


"Baik tuan"


Tak berapa lama Roy membawa mobil nya, Roy membantu Andra naik mobil. Rindi ingin membantu tapi Roy mencegah nya karena berat.


"Kita mau kemana?"


"Ke perusahaan ku"


Rindi seketika menjadi canggung, Andra menerima telpon dari beberapa klien untuk acara jamuan. Dengan demikian Rindi bisa melihat wajah tampan lelaki yang sudah diidamkan nya selama 6 tahun ini.


Ternyata lelaki yang menyelamatkan nya 6 tahun lalu setampan ini, berkharisma lagi baik hati.


"Apa tidak ada pemandangan lain selain memandang ku?"


Rindi kaget seketika, dan gelagapan sendiri.


"Aku....aku....!"


Tiba-tiba ada suara samar tertawa, kalau ada dua orang yang jatuh cinta maka ketiga nya adalah setan. Namun disini yang tertawa bukan setan tapi Roy.


BBUKKK......


"Tertawa terus, tertawa!"


Roy sampai kaget karena ditimpuk koran.


"Sakit lah bos"


"Sakit kepala mu"


Rindi segera memandang kearah jendela, jantung nya hampir melompat keluar karena teguran yang Andra berikan.


"Apa orang tua mu tidak mencari mu?"


"Hah"


Rindi kembali memandang wajah Andra.


"Biasa nya papah tidak akan peduli"


Rindi menundukkan wajah nya dia sangat malu jika harus mengumbar kisah keluarga nya.


"Bukan kah kakak mu seorang janda?"


"Kenapa kau tidak bekerja di perusahaan papah mu?"


"Perusahaan papah sedang sepi job kata nya, kalau aku bekerja di perusahaan hanya akan menambah beban tapi jika aku menikahi Bayu Braja maka akan mendapat suntikan dana buat perusahaan"


Andra terdiam, dia melihat kembali gadis kecil yang ada disisi nya itu. Kalau tidak salah ingat seharus nya gadis itu berusia 18 tahun tahun ini.


"Berapa umur mu?"


"18 tahun tuan tahun ini, aku sudah berulang tahun awal tahun tadi"


"Apa tidak ingin melanjutkan kuliah?"


Gadis cantik itu menggelengkan kepala nya.


'Papah hanya menganggap ku barang yang bisa di tukar untuk sedikit keuntungan, tidak mungkin mau membiayai ku kuliah'


Rindi memandang jalanan yang rindang, sejuk terasa udara segar di pagi hari.


"Ayo kita sarapan dulu di cafe seberang"


"Baik lah"


Rindi tersenyum manis, Andra segera memalingkan muka nya.


'Kenapa imut sekali, ah jangan jadi pedofil, dia masih anak-anak'


Gumam Andra dalam hati nya.


Roy tersenyum, sejak muda hingga usia matang Andra tidak pernah dekat dengan seorang pun wanita yang spesial di hati nya. Dulu ketika kecil om Andreas pernah bercerita pada Roy jika lelaki yang menjadi tuan nya itu sangat ceria dan cerdas.


Flashback on.


Roy bukan lah anak yang berada atau pun anak yang cerdas, seorang Roy hanya anak idiot yang di buang keluarga nya sejak kecil di pembuangan anak terlantar.


Dari bayi hingga berusia 10 tahun Roy hidup di panti pembuangan, panti pembuangan anak di negara Z bukan panti asuhan itu berbeda.


Panti pembuangan lebih bebas, anak yang mampu atau menemukan orang tua asuh tidak perlu mengadopsi. Tidak ada syarat atau pratinjau hak asuh atau pratinjau anak asuh dan orang tua asuh. Jika seorang anak dewasa dan ingin mandiri maka akan di perbolehkan mengurus data diri sendiri.


Roy memiliki seorang ibu tunggal tanpa tahu siapa ayah nya, dahulu sang ibu punya harta yang cukup dan karir yang bagus untuk bisa menghidupi Roy ketika dia sedang mengandung. Namun entah bagaimana hingga rumah megah dari ibu Roy terbakar habis, lalu sampai ke pembuangan anak.


Saat Roy berusia 5 tahun sang ibu yang menjadi pemulung barang bekas meninggal karena dikira pencuri. Roy yang ingin menjemput ibu nya kala itu juga ikut di pukuli warga untung nya sang ibu melindungi nya hingga akhir nya meninggal.


Roy yang berusia 5 tahun menunggui tubuh sang ibu yang sudah tidak bernafas hingga 3 hari lama nya. Dia sendiri yang menggali lubang dan memakamkan nya di pinggir hutan. Roy yang menangis dan tanpa perlindungan orang dewasa hanya bisa mengemis di pinggir jalan sambil ingin kembali ke panti pembuangan.


Tubuh Roy penuh luka, lebam, pakaian nya robek-robek juga kurus. Sudah lima hari Roy tidak makan, dia minum air hujan ketika hujan. Minum air sungai ketika panas, memakan buah liar yang tumbuh di sekitar hutan.


Ada mobil sayur di jalan yang mogok hingga Roy menyelinap menumpang pada mobil itu untuk kembali ke panti pembuangan. Bagaimana pun hidup di pinggir hutan lebih tidak bagus untuk bocah yang berusia 5 tahun seperti diri nya.


Setelah sampai di panti pembuangan, Roy menjadi pengamen sampai usia nya lebih dari 10 tahun, tidak ada orang tua asuh yang menginginkan nya karena tubuh nya penuh bekas luka. Roy tidak tahu jika sedang marak musim penculikan ank untuk di jual tidak ada yang memberitahukan diri nya.


Kejadian naas pun menimpa Roy, dia di culik. Namun di tengah jalan, Roy berhasil kabur, dia masuk ke mobil seseorang. Waktu itu lah, Roy ditemukan oleh Andra yang masuk ke bagasi mobil nya.


Roy ada di depan Andra seorang bocah kaya yang berusia 8 tahun dan dua tahun lebih muda dari nya.


"Maaf saya sudah lancang menumpang mobil anda tuan muda"


"Saya Roy"


"Dari mana asal mu?"


"Panti pembuangan tuan muda"


"Lalu apa kau berencana untuk kembali ke panti pembuangan itu?"


Roy terdiam, dia bingung karena dalam hal apa pun Roy tak memiliki nya.


"Putuskan dalam 5 menit, kau mau mengabdi pada ku atau kau ingin kembali ke panti pembuangan itu"


Roy menatap anak kecil yang lebih muda dari nya, namun anak itu seolah menjelma menjadi sebuah kekuatan kepercayaan untuk Roy.


"Saya adalah pengabdi anda tuan muda mulai sekarang hingga mati, ucapan mu adalah perintah bagi ku"


"Baik lah, ikut lah dengan mereka, sebelum kau mempelajari semua keterampilan kau jangan kembali ke sisi ku"


Mulai saat itu Roy belajar banyak keterampilan, sekolah dengan percepatan hingga menuntaskan beberapa gelar di berbagai bidang. Tidak ada lagi Roy bocah idiot, Roy yang kotor, Roy pengamen atau Roy dari panti pembuangan.


BERSAMBUNG.