
Andra sangat sibuk di perusahaan nya karena penjualan produk kosmetik, parfum sedang melonjak. Dia sedang menghitung target penjualan untuk toko dan untuk produsen besar.
"Tuan anda mau makan malam apa?"
Ucap Roy asisten Andra.
"Apa saja, jangan terlalu berat, beli beberapa menu juga camilan, dan permen"
"Baik tuan"
Roy segera pergi memerintahkan anak buah nya untuk membeli beberapa menu yang tuan nya inginkan.
Andra makan sambil membaca beberapa dokumen nya. Dia terus mengerjakan dokumen itu, namun tiada habis nya.
"Tuan sudah jam sepuluh malam"
"Hem"
Roy masih menunggu, dia juga mengerjakan pekerjaan sekaligus membantu pekerjaan tuan nya juga.
"Jam berapa sekarang Roy?"
"Jam sebelas malam, tuan"
"Baik lah, kita pulang sekarang"
"Baik"
Semua lampu di padamkan oleh scurity yang berjaga bergilir selama 24 jam.
Mereka berdua lelaki gagah, tampan dan penuh kharisma itu turun ke tempat parkir. Roy duduk di bangku supir, perjalanan mereka kurang lebih satu jam.
"Tuan mau istirahat?"
"Tidak, pelan saja mengemudi nya, ini malam"
"Baik"
Mereka nampak santai mengendarai mobil, Andra juga sambil memeriksa berbagai email yang masuk.
Crriittt.........
DDUKKK.......
"Ada apa?"
"Seperti nya ada wanita berlari di depan mobil kita tuan"
Andra segera keluar, melihat kondisi korban.
"To....tolong!"
Masih sempat Andra dengar itu dari mulut wanita yang ada di depan ban mobil nya. Andra mengangkat nya dengan sigap, lalu memasukkan ke dalam mobil nya. Dengan cepat Roy menutup kaca mobil, dari kejauhan nampak tiga orang algojo berbadan besar.
"Jalan"
"Baik"
"Siapa mereka?"
"Algojo sewaan di bar yang kita naungi"
"Selidiki tentang wanita ini"
"Bersih tuan"
"Ya, besok pagi harus ada berita nya"
"Siap"
Mereka segera menuju rumah sakit , untuk mengurus visum dan pemeriksaan luka secara menyeluruh.
Andra menatap gadis yang ada dipangkuan nya itu, gadis itu pingsan tak ada darah yang keluar namun ada beberapa luka lecet.
Dengan gesit perawat mengganti pakaian wanita itu, memasang selang infus dan merawat luka nya. Andra memesan layanan VVIP khusus di rumah sakit milik keluarga besar nya Alkatiri.
"Kapan dia akan siuman?"
"Kami tidak bisa memprediksi tuan, nona ini hanya kaget dan lelah lalu dia pingsan tidak ada luka serius"
"Baik lah, berjaga lah secara bergilir, jangn pernah tinggalkan dia, laporkan situasi ketika dia sadar"
"Baik tuan"
Andra segera bergegas menuju ruang istirahat yang ada di rumah sakit itu, dia lelah jika harus ke apartment nya.
Ketiga algojo milik Bayu Braja itu kembali ke bar megah itu.
"Bagaimana, mana kunci kamar nya?"
Mereka masih terdiam tak menjawab, ketiga teman Bayu mengerutkan kening nya.
"Ada apa?"
Suara Bayu meninggi, menambah kesan seram bagi anak buah nya.
"Anu tuan"
"Anu apa? anu kalian panuan?"
"Bukan tuan, kami gagal"
"Apa! gagal, hanya mengejar wanita berdress saja gagal, kalian banci?"
"Bukan tuan, setelah kami mengejar wanita itu, dia menyebrang jalan lalu menabrak sebuah mobil......."
Sebelum melanjutkan perkataan mereka, Bayu sudah menyela nya.
"Kalian bisa kan menghentikan orang tua dan mengakui dia sebagai nyonya kalian, apa kalian bodoh"
"Maaf bos kami tidak bisa menyinggung orang yang ada dalam mobil itu"
"Hah! alasan saja"
Bayu kesal malam ini karena dia tidak mendapatkan mainan nya.
"Sudah lah bro, aku bilang juga apa? kita main dengan yang lain saja"
Mereka menikmati kesenangan mereka dengan santai malam itu.
Rindi membuka mata nya lantas memandang sekeliling nya yang berwarna putih, dia belum sadar apa pun. Kepala nya pusing, terang saja lelah karena perut nya tidak terisi makanan tapi sudah berlarian di jalanan sekuat tenaga.
"Dimana ini?"
"Anda ada di rumah sakit Alkatiri nona"
Rindi menengok kesamping ternyata seorang perawat sedang mengupaskan buah.
"Siapa yang membawa ku kemari sus?"
"Tuan muda kami nona"
"Siapa nama nya?"
"Tuan Andra, nona"
"Lalu dimana tuan kalian?"
"Dia dilantai 9 rumah sakit ini, beliau berpesan kami menjaga nona secara bergantian"
"Aku ingin bertemu dengan nya"
"Anda sarapan dulu nona, lalu mandi dan jika badan anda sudah sembuh boleh menemui tuan muda"
"Apa tuan muda kalian dokter?"
"Bukan nona, beliau pengusaha"
Rindi semakin bingung, dia segera berlari keluar menuju tangga dan pergi ke lantai yang di tunjukkan oleh perawat tadi.
Tok.....tok....tok.
Hanya selang beberapa jam saja, pintu kamar istirahat Andra diketuk dari luar. Pada hal Andra baru saja jam 5 pagi ini terlelap. Andra segera bangkit lalu duduk di kursi roda nya dan menuju pintu.
"Kenapa berisik sekali?"
Klek.
Pintu kamar istirahat Andra terbuka, terlihat wanita dengan pakaian pasien rumah sakit.
"Siapa kau?"
"Aku.....aku.....aku adalah wanita yang semalam"
Andra mengerutkan kening nya, omongan gadis muda di hadapan nya itu sedikit rancu.
"Aku gadis yang semalam, apa tuan tidak ingat?"
"Lalu?"
"Kenapa kau membawa ku ke rumah sakit?"
"Lantas aku harus membawa mu kemana, kau lihat keadaan ku?"
Rindi melihat lelaki ini duduk di kursi roda, dia menutup mulut nya.
"Maaf, aku hanya bertanya"
"Kau pingsan dan aku tidak tahu di mana rumah mu?"
Andra membuka pintu lebar untuk Rindi bisa masuk.
"Kau pergi lah?"
Perawat itu mengangguk dan segera undur diri.
"Baik tuan, jika ada apa pun hubungi kami"
"Iya"
Rindi segera duduk, setelah perawat itu pergi.
"Dimana kau menemukan ku?"
"Tentu kau yang lewat depan mobil ku, jika kami tidak lelah mungkin tulang mu akan patah beberapa bagian"
Gaya bicara Andra menusuk, berkharisma dan elegan.
"Maaf tuan"
"Aku ambilkan minum"
Andra menjalankan kursi roda nya kearah lemari pendingin mengambil dua botol air mineral dingin. Menyuguhkan nya pada Rindi, ada pesan masuk dari emak nya. Dia mendapatkan semua data diri tentang gadis ini dan semua kegiatan nya selama tiga bulan terakhir.
"Terimakasih"
"Setengah jam lagi aku akan mengantar mu pulang, baju mu sudah ada di kamar pasien mu?"
"Aku tidak ingin pulang"
"Lalu?"
Rindi terdiam, dia tidak punya apa pun. Jika dia pulang maka papah nya akan menyuruh dia kembali ke Bayi Braja.
"Kau tunangan dari Bayu Braja, kalau kau tidak pulang maka tunangan mu akan menuntut ku"
"Dia bukan tunangan ku, kami belum bertunangan, Bayu Braja lelaki bejad yang hanya menginginkan tubuh ku lantas setelah nya membuang ku"
"Kan ada ayah mu, kalau ayah mu tidak setuju maka pasti itu tidak akan terjadi"
"Ayah ku menjual ku, demi kesuksesan perusahaan dan karir kakak perempuan ku"
Andra terdiam dia terbelit masalah dan terhubung secara tidak langsung dengan gadis ini.
"Tapi aku tidak bisa membantu mu"
"Kau harus membantu ku"
Rindi mendekat mencengkram kaos rumahan oblong milik Andra. Dia melihat lelaki itu terdiam, entah dorongan dari mana hingga Rindi menarik kalung yang menggantung di leher Andra.
Mata Rindi terbelalak, dia melihat kalung yang dia rampas dari lelaki itu.
BERSAMBUNG.