TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.340


"Pasien akan keluar dari ruang darurat 1 jam lagi tua, ada perawat di dalam yang menunggui istri anda"


"Baik dok"


Kaki Andra bagai jeli, lemas sekali rasa nya, sedih shock dan khawatir bercampur menjadi satu karena malam ini.


William sendiri tidak bisa berkata apa pun, kesalahan ini juga karena istri nya yang tangan nya menyenggol tubuh istri dari Andra itu.


Terlebih lagi karena mantan pacar nya Carmen, William tida menyangka pesta resepsi nya membawa malapetaka untuk orang lain.


Benar saja setelah 1 jam kemudian lantas dari ruangan darurat itu Rindi yang tergeletak di atas brankar dengan selang infus yang tertancap di lengan nya itu di dorong keluar.


Semua keluarga mengikuti perawat yang mendorong Rindi menuju ruang rawat. Setelah perawat keluar, Andra mendekat pada istri nya itu.


Seluruh keluarga yang hadir masih berada di kursi tunggu di luar mereka tidak ingin mengganggu Andra yang akan menenangkan istri nya itu.


"Sayang"


Rindi hanya terdiam saja, dia melihat tangan nya tertancap infus.


Andra mengelus lengan Rindi satu nya yang tak diinfus, membelai rambut istri nya dengan sayang dan pelan.


"Bagian mana yang masih sakit yang?"


Rindi hanya menggelengkan kepala nya lantas terdiam sambil memandangi suami nya yang tersenyum manis pada nya namun mata suami nya menyiratkan kesedihan dan luka yang mendalam.


"Apa mas kecewa pada ku?"


Tanya Rindi seraya menatap mata suami nya itu.


"Istirahat lah, jangan berbicara atau bertanya ketika suasana dalam keadaan seperti ini, mas akan jawab pertanyaan mu apa pun tapi tidak sekarang"


Lirih Andra, Rindi langsung saja memegang tangan suami nya itu.


"Maaf"


Ucap nya seraya bangkit dari tempat tidur nya memeluk tubuh kekar suami nya.


"Jangan tinggalkan aku mas"


Ucap Rindi sambil berurai air mata.


"Mas selalu mencintai mu, kau tahu itu"


Rindi mengangguk, lantas Andra merebahkan tubuh mungil istri nya. Rindi pun tak menanyakan perihal kehamilan nya itu.


Andra mengelus perut istri nya, mendekap nya menenangkan pikiran Rindi. Bagaimana pun istri Andra itu pasti lebih sedih dan kehilangan.


"Tuhan lebih mencintai nya dari pada cinta kita berdua, kau tahu dia seorang gadis cantik"


Rindi mendongak memandang suami nya yang sedang berbicara, mereka berbaring bersama untuk saling mendukung dan menguatkan serta menjaga kewarasan pikiran masing-masing.


"Kenapa berkata seperti itu?"


"Karena sebelum dia kamu ketahui, dia sudah menemui ku dahulu, dia seorang gadis kecil yang cantik sekali, dia ada di tempat yang indah saat aku bertemu dengan nya"


Sontak saja tangis Rindi pecah di dalam pelukan Andra.


"Dia lebih menyayangi papah nya"


"Karena papah nya tidak tahu jika diri nya sudah bersemayam disini, yang kau tahu aku sangat mencintai kalian"


Rindi menganggukkan kepala nya.


"Anggap lah dia sedang bertumbuh di perut mu, meski berkhayal tapi aku suka"


Andra memeluk Rindi, Rindi pun merasakan bukan hanya dia seorang yang kehilangan namun suami nya lebih kehilangan.


Tak berapa lama mereka berpelukan, Rindi sudah tertidur dengan nyenyak nya. Andra bangkit, dia segera menuju kamar mandi rumah sakit dan mengganti pakaian nya.


KLEAK.....


Andra keluar dari kamar mandi dengan tampilan segar dan mempesona.


"Nak bagaimana?"


Tanya mommy Jasmin.


"Arin sedang istirahat mom"


"Syukur lah kalau begitu"


"Jangan membahas apa pun, dia sedang labil, jika ingin menemani maka temani lah seolah dia sedang sakit jangan membahas anak, pernikahan, atau pesta apa pun"


Mereka semua mengangguk.


"Kalian semua jaga nona di sini, laporkan perkembangan nya pada ku"


Titah nya pada semua bodyguard.


"Will bisa kita bicara, Roy, Novan kalian ikut"


Will mengangguk lalu mendekat pada Lisa sebentar.


"Aku pergi dulu, kalau ingin pulang hubungi aku"


"Baik nanti asisten ku akan mengirimkan makanan dan baju mu"


"Iya, hati-hati"


Will mengangguk lantas menuju kearah Andra.


Keempat lelaki itu segera bergegas pergi, sementara Daddy German dan Aditya sudah pergi sedari tadi.


"Andreas, pulang lah kalian pasti cape"


"Baik nanti malam kami akan kembali"


Daddy Rei mengangguk setelah nya masuk bersama mommy Jasmin, ibu Amelia, papah Afar, paman, dan Lisa.


Di dalam ruangan ada satu brankar lagi, sofa dan televisi juga. Ruangan pasien ini lebih mirip kamar hotel mewah.


"Mommy, ibu dan Lisa istirahat lah, kami akan berjaga"


Ucap Daddy Rei pada kedua wanita baya dan satu wanita dewasa itu.


Ketiga lelaki itu nampak hanya berbincang ringan, disana ada dispenser sekedar menyeduh teh, kopi atau lain nya.


Tersedia air minum dingin di lemari es, camilan dan buah juga lengkap.


Mereka bertiga tidak pernah membicarakan apa pun tentang kecelakaan yang menimpa Rindi namun mereka berbincang mengenai pasar bisnis mereka dan memperluas jangkauan nya itu.


"Papah, Daddy, paman kalian disini?"


Ketiga nya menoleh dan tersenyum lantas papah Afar segera bergegas mendekat.


"Masih ada yang sakit? mau makan? minum? atau apa?"


Papah Afar mengelus tangan anak gadis bungsu nya itu dengan senyum lembut.


"Apa Arin boleh makan buah?"


"Tentu saja boleh, dokter tidak melarang nya"


Benar kata papah Afar karena tadi saat Rindi tertidur ada visit dokter khusus ruang VVIP.


"Mau buah apa?"


"Semangka"


"Sebentar papah ambilkan ya"


Papah Afar segera menuju ke lemari es dimana disana disimpan buah-buah segar yang komplit. Buah nya sudah di kupas tinggal dimakan saja.


"Nah, ini buah nya untuk si cantik"


Ucap papah Afar dengan ceria nya, pria paruh baya itu memegang buah seolah akn menyuapi bocah beberapa tahun.


"Papah aku kan bukan anak kecil"


Rindi cemberut, papah Afar pun terkikik geli melihat nya.


"Memang Arin kan putri papah, meski sudah dewasa tetap saja papah ini jauh lebih tua"


Rindi tersenyum, benar juga perkataan papah nya.


"Buka mulut nya cantik nya papah"


Rindi membuka mulut seiris semangka masuk kedalam mulut nya, Rindi mengunyah nya dan menelan nya perlahan.


"Manis dan seger pah"


"Manis seperti kamu ya, anak papah"


Rindi terus memakan semangka nya, dia menolehkan kepala nya. Rindi melihat kakak perempuan nya sedang mengusap air mata nya, rupa nya Lisa sudah terbangun sedari tadi.


"Kakak masih disini?"


Papah Afar melotot karena Lisa mengusap air mata nya itu.


"Kakak masih kangen sama kamu dan papah, maaf melihat kamu disuapi buah semangka jadi pengen"


Papah Afar menggelengkan kepala nya.


"Pengan kok sampe nangis"


"Kakak kan sudah lama tidak makan bareng kalian"


"Oh begitu"


Ucap Rindi.


"Ini makan lah"


Menyuapkan satu suapan semangka pada putri sulung nya.


BERSAMBUNG.