
Masih dengan suasana pengantin baru diranjang namun kadaluarsa dipenghulu. Sepasang insan itu sedang nikmat nikmatnya memulai hari mereka. Dengan jahil Aksara kembali menjahili istrinya, mengelus punggung polos itu yang selimutnya turun hampir ke dada. Cinta sedikit membuka mata karena elusan tangan besar milik Aksara, suami nya. Cinta menggeliat entah sejak kapan dirinya sudah terbiasa dengan sentuhan Aksa, bahkan dalam otak Cinta sudah hapal semua yang melekat pada lelaki itu.
"Om"
Aksa kembali mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Om ihh.....jahil"
Cinta merubah posisinya telentang, selimutnya agak melorot sedikit hingga terpampang menyembul keluar dadanya. Dengan cepat Aksara menelan ludahnya dengan susah payah. Betapa nikmatnya dua benda itu ketika semalam dan pagi hari tadi dia mereguknya, manis, enak bahkan lebih lezat dari apa pun.
"Om Cinta mau mandi"
Lirih Cinta.
"Ayo om antar sayang ku"
Tawar Aksara.
"Sakit om jalan nya"
"Om gendong"
Lalu Aksara menggendong Cinta memasuki kamar mandi, meletakkan Cinta sementara duduk di toilet duduk.
"Om siapin air mandinya ya"
Sudah selasai dengan bak mandi, namun Cinta enggan berdiri, hingga Aksara kembali membopong nya lalu memandikan istrinya dengan bersih. Cinta hanya menunduk, merasa malu dengan kejadian hari ini. Bahkan dengan telaten hari ini si om suaminya itu mengurusnya.
"Masih sakit?"
Cinta menggelengkan kepala, lantas mengeringkan rambut istrinya.
"Bisa jalan tidak?"
"Bisa kok"
Cinta berdiri berjalan melangkah.
'Auhhhh, linu, gak nyaman banget'
"Bagaimana?"
"Agak mendingan om"
"Ya sudah dirumah dulu aja"
Cinta hanya mengangguk pelan, tak ada daya upaya untuk ke kampus siang nanti. Aksara juga membolos kerja, dia berdiam di apartment nya.
Ddrrttt.....ddrrtttt.
"Ya"
"Kak kau dimana?"
"Di apartment"
"Kenapa tidak bekerja?"
"Aku habis kerja sehari semalam ini"
"Hah"
Haris di telepon seperti orang bodoh, lalu dia terdiam. Haris menepuk jidatnya, dia baru sadar ucapan kakak tuanya yang baru melepaskan kakak tua nya.
"Dasar, bagitu tuh kalau sudah tua istrinya daun muda"
"Dasar fedofil, dasar om om tua"
Haris mengomel sendiri lalu dia mendatangi ruangan sang istri, namun kosong.
"Istri ku kemana?"
"Nona belum datang"
"Kok kamu tahu?"
"Itu kan ruangannya kosong"
"Oh"
Sementara Rista menaiki taksi, dia berhenti di rumah sakit. Menuju bagian yang di maksud lalu melakukan tes nya. Rista terpaksa menunggu di rumah sakit pada hal banyak sekali pekerjaannya.
"Saudara Rista Hiamini"
Rista berdiri dari duduk nya di bangku tunggu, memasuki ruangan untuk segera mengambil hasilnya setelah 3 jam. Terlihat dokter tersenyum sembari memberikan lembaran tes padanya, lantas mengucapkan kata petuah buat Rista. Beberapa botol vitamin juga penambah darah. Rista segera keluar ruangan setelah mengucapkan terimakasih juga undur diri. Rista menghela nafas nya, senang bahkan bahagia.
Rista terngiang akan ucapan sang dokter yang 1 jam lalu ditemuinya, saat ini Rista sedang didalam taksi.
'Nyata nya bukan aku yang memberi mu hadiah, tapi kau memberikan dia didalam tubuh ku'
Ucap Rista dalam hati seraya mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Rista begitu bahagia, semua yang ada dalam beban pikirannya itu menghilang sirna karena keberadaan janin imut yang sedang terpulas didalam rahimnya. Namun kebahagiaan itu tak bertahan 1 jam pun karena tak sengaja Rista melihat suaminya keluar dari lobi kantor membimbing Amira dengan bayinya dalam gendongan wanita itu.
Mereka ibarat keluarga bahagia, begitu sayang nya sang suami pada wanita itu. Sesuatu yang kebahagiaan tak terkira yang hendak Rista bagi kembali disimpannya rapat rapat biar lah semua nya tetap tersimpan. Karena pemiliknya mungkin tidak akan pernah mendambanya apa lagi menginginkannya.
Flashback on.
2 bulan lalu, ketika Haris sedang mereguk malam indah bersama Rista. Lelaki itu sudah tidak pernah lagi berkunjung ke rumah sebelah mereka. Jam 2 pagi dini hari Haris bersama Rista baru saja selesai melakukan hubungan badan mereka, ketika hendak terlelap.
Ddrrttt...ddrrttt.
Suara ponsel milik Haris berdering nyaring, Rista berharap jika suaminya tidak mengangkat ponselnya. Namun itu semua angan belaka, nyata dengan secepat kilat menjawab lalu menyibak selimut sambil berlarian Haris turun ke lantai bawah.
Bammm......
Pintu kamar yang Rista dan Haris tempati tertutup dengan sangat kencang hingga Rista tersentak kaget. Air mata Rista luruh membelah pipi cantiknya, dia bak wanita malam yang dipanggil untuk memuaskan hasrat Haris.
'Kau keterlaluan mas!'
Pekik Rista dalam hati.
Harus segera turun berlari ke rumah sebelah, langsung membantu Amira yang akan melahirkan dini hari itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Ucap Haris pada sang supir.
Dengan kecepatan penuh si supir melajukan kendaraannya tepat pukul 3.30 pagi Amira sudah dimasukkan dalam rumah sakit untuk melakukan persalinan pada bayi nya. Selang 3 jam bayi sudah dilahirkan dengan selamat berjenis kelamin lelaki itu. Semuanya terlihat senang dan juga bahagia.
Haris senang anak pertama Amira lahir, namun dia lupa bahwasannya dia sudah meninggalkan sang istri tercinta sesaat setelah mereka menggapai puncak terindah.
'Nanti akan aku jelaskan padanya, dia pasti mengerti'
Ucap Haris dalam hati, karena istri nya adalah wanita yang lembut lagi perhatian.
Tepat jam 8 pagi Haris pulang dari rumah sakit ke rumahnya. Terlihat sarapan sudah tersedia dengan lezat dimeja makan, baunya sangat harum. Haris melangkahkan kakinya memasuki kamar, teelihat Rista sudah mandi dan berpakaian rapih.
"Sudah mau berangkat ayy?"
"Iya"
Haris tersenyum mendekat ketika hendak mencapai sang istri dalam beberapa langkah wanitanya itu berdiri dan melangkah ke lain arah.
"Pakaian kerja sudah aku siapkan, sarapan, juga kopi mu mas"
Rista segera mencapai handle pintu.
"Jika lelah aku juga sudah menyiapkan pakaian rumah mu, maaf aku tidak bisa bantu mengemas baju Amira atau pun menjenguknya ke rumah sakit"
Deg........
Ternyata istrinya tahu jika semalam dia pergi mengantar Amira, kini penjelasan mungkin tidak akan beguna lagi. Sedangkan Rista sudah bergegas kebawah, dia mengambil kotak untuk membawa makan pagi nya ke kantor karena jujur saja perutnya sudah bergolak hebat.
"Hoek...hoek"
Sudah tak tahan juga Rista segera menumpahkan seluruh isi perutnya diwastafel bawah, mencuci mulutnya lalu bergegas segera pergi. Bukan Haris terdiam saja, dia juga tahu Rista munta muntah, Haris menyesali semua itu, namun dia takut kehadirannya ditolak oleh istrinya untuk membantu.
Flashback off.
Rista menitikkan kembali air matanya, mengusapnya segera. Bahagianya harus tetap bertahta dihatinya, membuang semua pemandangan itu seolah tak pernah terjadi. Kembali Rista tersenyum, sambil menunggu mobil didepannya melaju pergi. Dalam mobil itu terlihat satu keluarga kecil yang bahagia dan Rista ibarat perusaknya.
'Kau memang tidak pantas mendapatkannya, mungkin ini lah yang terbaik'
Sambil menunduk Rista berkata.
'Kita juga akan bahagia sayang, kita juga akan selalu bersama, kau tahu kau lah semangat ibu, cinta ibu, juga satu satu nya malikat ibu'
Ucap Rista sembari mengelus perutnya kembali.
Rista segera turun dari dalam taksinya, tak sengaja itu dilihat Jamie. Jamie segera menyelinap kembali kedalam lift karyawan tidak jadi untuk turun.
'Bos, kau sudah melukai nona kembali, taksi dibelakang mu sedari tadi adalah taksi yang nona tumpangi'
Ucap Jamie didalam hati.
BERSAMBUNG.