
Rindi sudah mengendarai mobil menuju rumah papah kandung nya. Jalanan agak lengang karena mau istirahat siang.
"Nampak sepi nih?"
Tak berapa lama, Rindi sudah berada di depan rumah sang papah.
"Kok rame ada apa ini?"
Rindi melihat sang papah dengan di dampingi asisten nya sedang bertikai dengan mamah tiri nya di depan rumah.
Ya 2 jam lalu Afar menelpon asisten nya untuk menjemput nya di rumah sakit. Afar tidak memberitahukan soal kepulangan nya pada orang rumah. Tak lama setelah sampai di rumah megah nya Afar berniat untuk langsung istirahat karena jam masih pukul 10 pagi.
Namun dia melihat beberapa koper sudah dikemas dan lagi semua isi rumah megah nya hilang begitu saja. Koleksi guci, hiasan, lemari hias sampai pernak pernik pun di raibkan oleh anak dan istri nya. Afar yang melihat itu langsung meradang.
"Ada apa ini?"
Suara Afar menggelegar di ruang tamu. Sementara mata Melina dan Lisa terbelalak karena mereka tidak menyangka kepala keluarga mereka akan pulang hari ini. Sungguh keadaan yang sangat sial.
"Kita mau pindah, pihak bank sudah beberapa kali kemari"
"Hah, apa maksud mu? bukan nya proyek mau rampung, pihak bank apa?"
Melina tak menghiraukan ucapan suami nya lantas masih merapihkan koper yang tinggal berisi baju itu. Karena perhiasan dan barang mahal sudah di kemas jauh hari.
"Kita itu sudah bangkrut, perusahaan akan dilelang Minggu depan dan pihak bank akan menyita nya besok, cepat lah papah dan Arin berkemas"
"Kalian sudah gila"
Afar berteriak ketika ibu dan anak itu melangkah ke halaman rumah.
"Kita sudah turun kasta papah jadi terima saja itu"
"Apa masalah nya dengan perusahaan?"
"Jangan ganggu kami, kami sedang menunggu travel. Aku dan Lisa akan ke luar kota, terserah kau mau apa!"
Ucap Melina sarkasme akan kasar nya ucapan nya itu.
Afar mencegat tangan istri pertama nya itu namun dengan kencang Melina menghempaskan nya untung ada asisten nya hingga tubuh kurus Afar ditopang lelaki muda itu.
"Uang 5 miliar itu dibawa kabur, orang itu menunjukkan bukti pengambilan uang dengan prosedur yang ditandatangani nona Lisa"
"Hah!"
Afar kaget mendengar pernyataan dari asisten nya itu.
"Itu cuma tuduhan HRD pah, tidak ada bukti"
Elak Lisa.
"Bukti sudah terlihat, dan saksi sudah ada tapi kau mangkir dan nona menjabat sebagai CEO saat itu jadi perusahaan keluarga Mukti yang menanggung kebangkrutan nya"
Tutur asisten Afar.
"Lisa........!"
Lisa dan Melina acuh saja, nampak dari gerbang terbuka sebuah mobil mini keluar wanita yang tak lain gadis bungsu nya Afar.
"Papah ada apa?"
Afar menggelengkan kepala nya.
"Mamah sama kakak mau pergi ya?"
"Biarkan saja mereka pergi, pagi pula papah sudah tidak ingin melihat mereka"
"Pria pesakitan dan bangkrut saja pura-pura membuang kita ya Lis?"
"Iya nih"
Afar melihat mereka begitu pun Rindi.
"Pergilah kalian, Melina aku akan menceraikan mu dan Lisa kau tidak usah memakai marga ku"
"Baik"
Melina dan Lisa segera pergi beranjak dari halaman mewah itu. Mereka menggunakan travel untuk menuju luar kota.
"Ayo nak kita masuk"
"Papah membiarkan mereka pergi begitu saja"
"Untuk apa ditahan, lagi pula kita hanya bersama satu atap bukan saling menyayangi"
"Maksud papah?"
"Papah dan mamah tiri mu tidak pernah bersama setelah papah bersama mamah kandung mu, Lisa bukan anak kandung papah tapi papah menerima nya karena mamah tiri mu akan membuang ke panti asuhan sementara papah belum punya apa pun untuk melindungi mu waktu itu"
Afar menundukkan kepala nya, meski hari ini kembali menjadi orang lemah tapi tidak seperti waktu itu. Waktu itu Afar lemah dan hina karena sendirian.
"Bahkan kematian mamah mu tidak sempat papah urus karena papah sibuk memperkuat bisnis agar suatu saat bisa layar dibanggakan untuk mu, tapi semua nya sia-sia tidak ada yang papah raih"
Rindi mengelus tangan papah nya yang mulai kendur kulit nya. Ya Afar memang sudah tak muda lagi tapi masih sangat tampan di antara golongan usia nya.
Afar mengangguk.
"Arin tahu karena ini mamah mau membunuh papah Minggu lalu kan?"
Afar terkejut memandang putri nya itu.
"Bagaimana kau tahu nak?"
"Arin kan pasang cctv pah"
Afar mengangguk dengan cepat, dia mengakui jika putri nya ini sangat cerdas, cantik seperti mamah nya.
"Ini.....?"
Rindi mengangguk dengan pasti, kartu bank yang dia temukan kini dia perlihatkan pada sang papah.
"Kau bagaimana menemukan nya nak?"
"Di lemari baju Arin paling dalam pah?"
"Benar kah?"
"Iya, tapi isi nya sudah habis Arin sudah pindahkan ke tabungan Arin semua"
Afar mengelus pucuk kepala putri nya itu.
"Besok papah mau ke perusahaan"
"Papah kan baru pulang, harus istirahat dengan benar, bukan nya keluyuran ke perusahaan"
Afar tersenyum, meski dia selalu menyakiti gadis di sebelah nya namun hati gadis nya itu sangat welas asih.
"Perusahaan bangkrut, jadi Minggu depan akan di lelang"
"Apa!"
"Benar, semua karena uang buat menjalankan proyek dibawa kabur seseorang yang menyodorkan berkas dengan tanda tangan asli Lisa"
"Lalu kalau sudah bangkrut kenapa papah harus bekerja?"
"Papah ingin berjabat tangan dengan mereka yang sudah bekerja bersama papah, menyapa dan mengucapkan terimakasih itu saja nak"
"Bawa obat dan istirahat jika lelah jangan pernah melupakan obat ya pah"
"Pasti"
"Terus apa rencana papah selanjut nya jika rumah ini di jual"
"Entah lah, mungkin papah akan beli rumah yang sederhana saja dan berdagang ikan atau hasil kebun saja"
"Kenapa tidak bekerja di perusahaan lagi saja pah?"
"Papah sudah berumur nak"
"Oh iya ya"
Rindi tertawa begitu pun sang papah.
Sementara Melina dan Lisa menaiki travel mereka yang sudah dalam perjalanan menuju luar kota. Namun di jalan mereka di cegat beberapa mobil polisi yang menghadang bus travel mereka. Dengan cepat si supir menghentikan laju mobil bus nya.
"Kok berhenti? ada apa?"
Tanya Melina garang.
"Ada polisi patroli"
"Terobos saja lah pak membuang waktu saja"
Sang supir tak menggubris, lantas polisi menyusul mereka turun.
"Ada apa sih ini?"
"Maaf mengganggu perjalanan anda sekalian, kalian bernama Melina dan Lisa Mukti betul?"
"Iya benar itu kamu kenapa ya pak?"
"Silahkan ikut kami ke kantor polisi"
KREAK....
Tangan Lisa dan Melina sudah di borgol lantas di Giring ke mobil polisi.
"Kau supir bus ikut juga dan bawa barang milik mereka ke kantor polisi juga"
"Baik pak"
Sementara Melina dan Lisa berteriak meminta di lepaskan namun polisi tak ada yang perduli mereka dibawa masuk ke mobil polisi dan dengan segera melaju ke kantor polisi.
BERSAMBUNG.