
Mobil yang Andra tumpangi melaju dengan cepat tak lupa diiringi beberapa mobil para bodyguard mereka.
"Will lebih cepat!"
"Sabar bro, jangan sampai kita mati bareng"
Ucap Will tak kalah panik dari Andra yang melihat Rindi memegang perut nya dengan wajah pucat.
"Mas jaga omongan dong"
Ucap Lisa yang selalu menengok ke belakang, Andra sedang memangku kepala Rindi yang terus merintih.
"Rin, sabar ya dek"
Lirih Lisa tak tega.
Dengan kecepatan turbo dan keahlian tingkat dewa Will memacu mobil nya dengan cepat.
Sekitar sejam kemudian mereka tiba di rumah sakit ternama milik keluarga Mid.
"Perawat"
Andra berteriak seolah kesetanan, perawat pun datang dengan segera membawa brankar menuju mereka.
Andra menggotong istri nya yang sudah berlumuran dari dari sela paha nya.
"Mas sakit!"
Lirih Rindi.
"Sabar sayang"
Mereka segera segera bergegas menuju ruang gawat darurat.
"Silahkan menunggu di luar pak, kami akan menangani pasien ini"
"Tapi sus"
Perawat itu segera menutup ruang gawat darurat untuk melakukan tindakan pada Rindi.
William mengelus punggung Andra sahabat baik nya, sementara Lisa menangis tak henti-henti nya.
"Ini semua gara-gara aku, seandai nya tangan ku tidak menyentuh Rindi maka dia tidak akan jatuh"
Will pun terdiam begitu pun dengan Andra.
"Carmen"
Ucap Will segera menelpon asisten Daddy German karena dia harus mengurus wanita itu. Bagaimana pun wanita itu sudah mencelakai adik ipar nya sekaligus istri tercinta sahabat nya itu.
Roy, Novan, Anita dan para pengawal mereka sudah siap siaga. Tak lama kemudian para orang tua datang menyusul.
Paman Rindi, papah Afar, Daddy Rei dan mommy Jasmin, ayah Andreas dan istri nya serta ibu Amelia sudah datang ke rumah sakit itu.
Tak berapa lama hampir tengah malam Daddy German datang dengan Aditya secara terburu-buru.
"Bagaimana keadaan korban nya?"
Daddy German baru mendengar kejadian sesungguh nya dari asisten nya yang sudah menangkap Carmen dan asisten nya di bandara.
"Masih di dalam ditangani dokter"
"Ini kelalaian kita"
"Dia adik ipar ku dan istri dari tuan muda Alkatiri"
Deg......
Jantung Daddy German seakan berhenti berdetak, Carmen sudah berurusan dengan orang yang salah, dia tidak akan bisa menyelamatkan lagi seorang Carmen anak dari sahabat nya.
Daddy German terdiam lantas mendekati Daddy Rei yang berdiri bersama mommy Jasmin.
"Pak Rei, maafkan kejadian ini di pesta resepsi anak ku, sungguh aku tidak tahu kejadian nya akan seperti ini"
Daddy Rei tak menggubris bagaimana pun dia sangat menyayangkan kejadian itu.
"Wanita itu adalah anak dari sahabat ku, mohon berbesar hati untuk mengampuni nya tuan Alkatiri"
"Aku tidak bisa menjamin kemarahan anak ku, berdoa lah semoga istri dan anak nya baik saja"
Daddy Rei terdiam memperhatikan anak nya yang masih diam terduduk di kursi tunggu, Daddy Rei tahu jika Andra ada dalam kesedihan yang dalam.
"Nak ibu yakin cucu ibu akan kuat"
Ucap ibu Amelia mengelus pelan kepala anak angkat nya.
Andra hanya mengangguk saja, pandangan nya terus menatap ruang unit darurat itu. Dimana ada istri nya yang sedang berjuang kesakitan.
Andra teringat akan mimpi nya sebulan lalu, dia menutup muka nya karena mimpi itu, Andra yakin itu pertanda untuk kejadian hari ini.
Namun di sudut lain nampak lelaki itu terpaku karena mendengarkan suara merdu wanita paruh baya itu. Lelaki itu tak lain adalah German, dia melihat wanita yang sekian lama dia cari itu.
German mengucek mata nya, dia kira diri nya sedang berhalusinasi namun tentu itu tidak mungkin.
"Ada apa dad?"
Tanya Aditya pada Daddy nya, yang tak di hiraukan keadaan nya oleh keluarga Alkatiri.
Daddy German hanya terdiam sejenak sambil menatap wanita itu yang tak lain ibu Amelia. Wanita yang dicarinya siang malam, wanita yang selalu ada di mimpi nya.
Namun apa ini, Amelia mengakui Andra pewaris Kerajaan bisnis Alkatiri itu sebagai anak nya. Dia sekarang dalam posisi yang sulit, karena pasti nya jika membela anak dari sahabat nya pasti lah Amelia akan menyalahkan diri nya.
German tiba-tiba memijat pelipis nya yang berdenyut nyeri, karena masalah yang tiba-tiba datang menghimpit nya.
"Nak semoga kau baik saja, papah selalu mendoakan mu"
Ucap papah Afar sambil mengelus unit gawat darurat.
"Pah, maaf semua ini karena Lisa, tangan Lisa yang menyenggol tubuh Arin pah, maaf pah maaf"
Lisa sudah bersujud di hadapan papah Afar namun seolah lelaki itu tenggelam dalam kesedihan nya sendiri.
"Nak jangan begini, ini musibah, tolong bangun ya, jangan menangis, kita harus bantu doa, kamu yang tenang ya"
Ucap mommy Jasmin, membantu Lisa bangun yang kini bersimpuh.
"Aku melukai adik ku, aku melukai keponakan ku sendiri"
Ucap Lisa sambil terisak, dia sungguh sangat berdosa karena telah membuat adik nya dalam bahaya saat ini.
Bu Amelia menitikkan air mata, tentu dia tak berharap cucu dari anak laki-laki nya pergi sebelum terlahir ke dunia.
"Semua nya mohon berdoa untuk kesembuhan Rindi, semua nya takdir, tolong jangan bersedih ya, kita disini saling menguatkan"
Ucap ayah Andreas, dia tidak ingin rumah sakit ini di penuhi tangis kesedihan.
Setelah 1 jam berlalu, dokter keluar.
"Dengan keluarga pasien dari nyonya Arindi?"
Andra langsung bangkit, semua menyerbu dokter.
"Siapa anda tuan?"
"Saya suami nya dok, bagaimana keadaan istri saya dokter"
"Maaf tuan dengan sangat menyesal kami mengatakan jika bayi anda keguguran, istri anda rahim nya terluka mungkin hingga 5 sampai 10 tahun lagi tidak bisa memiliki keturunan"
Deg.....deg....deg.
Andra terdiam, dia tidak bisa berbicara lagi mendengar penjelasan dari dokter.
"Apa rahim nya diangkat dok?"
"Tidak tuan, hanya terluka saja kebetulan juga janin nya sudah keguguran jadi kami hanya membersihkan rahim nya, kalau pun janin nya bertahan maka harus segera diaborsi karena kalau tidak maka akan mengakibatkan pengangkatan pada rahim dan itu sangat beresiko sekali"
Semua orang mengangguk, Andra tidak tahu harus berkata apa pada istri nya nanti jika sudah sadar.
Mengatakan jika bayi mereka keguguran saja, dia susah sekali apa lagi jika istri nya di vonis susah untuk hamil.
"Yang sabar nak"
Ucap Mommy Jasmin menenangkan pikiran putra nya, begitu pun Daddy Rei mengelus pundak putra semata wayang nya. Ibu Amelia sudah berderai air mata nya karena anak lelaki angkat nya akan sulit memiliki keturunan nanti nya.
BERSAMBUNG.