
Benar saja pagi hari warga datang ke rumah nenek dan kakek, untuk ikut serta mengantar sepasang suami istri itu pindah ke kota.
"Tuan apakah sudah yakin?"
Ucap salah seorang warga diantara nya, nampak dia lah ketua RT di desa itu.
"Tentu saja, selain aku harus berobat cucu ku harus melanjutkan kuliah di universitas ternama"
"Kau kembali ke kota untuk cucu mu?"
"Tentu saja, karena aku melihat dia pemuda pilihan dan sudah seharusnya kami kembali"
"Baik lah selamat jalan tuan"
"Urus rumah ini, jika kelak cucu ku kembali suatu saat nanti"
"Baik tuan"
Mereka satu desa melepas kepergian kakek sekeluarga.
Flashback on.
Sepasang kakek dan nenek itu tak lain adalah sepasang suami istri keluarga Aryandy. Ukas Aryandy dan istri tercinta nya Mina Aryandy, mereka mengangkat anak sebelum memiliki anak mereka sendiri. Mereka mengira anak perempuan mereka setelah lahir meninggal namun baru mereka ketahui bahwasan nya Karenina lah yang membuang anak kandung mereka. Hingga Ukas Aryandy menampar Karenina. Wanita itu bukan nya sadar malah menyuruh anak buah untuk mengurung juga menyiksa pasangan Aryandy yang tak lain kedua orang tua angkat nya. Ukas Aryandy sangat menyesal sehingga dia jatuh sakit, lama kelamaan membuat kaki nya tak mampu menopang berat tubuhnya. Selama di kurung mereka sakit-sakitan sehingga Karenina membuang mereka ke hutan belantara yang jauh dari kota.
Sebelum Karenina membuang mereka wanita itu sudah tahu jika anak mereka masih hidup, dia menjadi menantu keluarga Alkatiri. Semua usaha mereka sia-sia karena kelurga ternama seantero jagat raya itu sudah pindah ke negara B. Mereka memutuskan untuk mengasingkan diri di desa terpencil yang indah karena mereka memiliki rumah kecil dan sepetak tanah.
Flashback off
Rei pemuda yang menginjak 18 tahun itu, dengan antusias nya memperhatikan jalan. Sang kakek yang melirik cucu nya itu tersenyum sambil memegang tangan nenek yang duduk di kursi mobil sementara diri nya di kursi roda.
"Wah pemandangan yang sangat indah ternyata ada di desa kita ya nek, kek"
"Benar"
Sepasang kakek dan nenek itu tersenyum, mereka maklum karena cucu mereka sejak melihat dunia sudah di desa itu.
"Nek, rumah kita bagaimana?"
"Rumah kita ada yang mengurus, kau tenang saja"
"Baik lah"
"Paman kita akan ke kota mana?"
Meski yang dipanggil paman itu tak menyahut namun 18 tahun ini Rei selalu berbicara pada paman nya itu.
"Sebentar lagi juga kita akan sampai?"
"Baik lah nenek"
Tak terasa lelaki kecil itu tertidur.
"Dia sama ketika masih bayi, sangat doyan tidur!"
Ucap kakek sambil tertawa entah apa yang ada dalam pikiran nya.
"Seperti kakek saat masih muda"
"Tentu dia adalah cucu ku!"
Si paman hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sepasang manusia renta itu.
"Kau jangan mengolok kami, aku tahu kau selalu mengolok ku dalam hati mu"
"Tidak"
Ucap lelaki paruh baya yang mengenakan jubah itu, yang sering Rei panggil paman. Hanya ketika bocah lelaki itu tidur atau tak ada di rumah lelaki berjubah itu berbicara.
"Berapa jauh lagi perjalanan ini?"
"1 jam lagi kita akan sampai di kota"
"Oh aku tidak suka bepergian jauh"
"Jangn mengeluh kalau kalau cucu mu tahu bagaimana?"
"Baik lah, aku tidur saja"
Suasana kembali hening karena mereka bertiga tertidur dengan nyenyak.
BERSAMBUNG.