
"Mau kemana?"
"pulang ke rumah papah, paman"
"Ini gaji mu"
"Gaji, gaji apa paman?"
"Gaji karena kau bekerja di restoran , bukan kah kau ijin bekerja di restoran pada ayah mu?"
"Iya sih, tapi Rindi kan tidak kerja sungguhan"
"Terima saja nanti kalau ibu tiri mu tanya kan memang ada bukti gaji nya"
"Oke paman, makasih, Arin pulang dulu ya"
"Hati-hati di jalan"
Rindi berjalan ke halte bus, dia melihat mobil milik Andra namun tidak berhenti. Rindi segera memalingkan muka nya ketika mobil itu mendekat.
Rindi melihat lelaki itu duduk bersama dengan wanita yang kemaren bersama lelaki itu. Rindi menyetop taksi tak lama setelah mereka berlalu, hingga di saat lampu merah mereka berhenti dan mobil nya saling beriringan.
Roy melihat dari spion, Rindi menengok ke sebelah ternyata wanita itu sedang bersandar di dada Andra. Sontak Rindi langsung memalingkan muka nya.
Rindi sampai di rumah, mereka telah selesai makan malam.
"Baru pulang Arin?"
"Iya pah, Arin sibuk banget"
"Ini kan kamu sudah sebulan kerja disana? bagaimana gaji nya?"
"Iya lumayan mah, ini"
Rindi memperlihatkan uang itu, Melina hendak meraih namun.....
"Simpan saja gaji itu untuk diri mu sendiri"
Tangan Melina yang sudah akan menggapai amplop uang milik Rindi berhenti mendadak.
"Oke pah, makasih ya"
"Kamu tidak makan?"
"Arin sudah makan malam di restoran tadi, kebetulan ada sisa box nasi dari keluarga yang ulang tahun"
"Oh"
"Arin pamit ke kamar ya pah"
"Ya istirahat lah"
Rindi naik ke lantai atas untuk mandi dan membersihkan tubuh nya lalu tidur.
Sebelum jam pulang kantor, Sisi datang ke perusahaan yang Andra miliki.
"Permisi, saya ingin bertemu mas Andra"
Ucap nya ketika melihat Novan dan Anita.
"Silahkan mba, bos ada di dalam, permisi"
Ucap Anita kesal.
Dengan segera Sisi masuk untuk menemui Andra.
"Hai"
Andra mendongak lalu tersenyum, dia melihat wanita itu datang lagi.
"Oh hai, silahkan duduk"
"Terimakasih, tadi aku habis arisan jadi aku mampir ke sini mau ketemu kamu"
Andra mengangguk. Sebenar nya Sisi si kejar mantan pacar nya karena dia memutuskan pacar nya secara sepihak, meski sudah berhubungan layak nya suami istri namun Sisi tiba-tiba disodori lelaki kaya dan tampan meski pun lelaki itu cacat tapi asal bergelimang harta maka Sisi bersedia melakukan apa pun.
"Kamu mau pulang atau mau jalan?"
"Aku mau pulang saja"
"Oke tunggu aku sebentar lagi, aku akan mengantar mu pulang"
"Baik, terimakasih"
Andra kembali berkutat dengan pekerjaan nya, setelah jam pulang kerja Andra mengantar Sisi. Mereka melewati jalan komplek sebelah karena komplek yang biasa Sisi lalui sedang ada perbaikan jalan.
Cukup jauh untuk ke komplek yang Sisi tinggali karena harus berputar, saat di tengah perkomplekan mewah Roy melihat siluet yang mirip dengan Rindi, namun karena lampu nya agak redup jadi agak tidak jelas. Tapi sesaat kemudian mereka berhenti di lampu merah dan Roy yang dengan jelas melihat itu benar adalah Rindi yang sedang naik taksi.
"Sudah sampai tuan, nona"
Roy segera turun membukakan pintu mobil untuk Sisi.
"Terimakasih mas Andra, Roy"
Mereka pun mengangguk dan langsung memutar jalan kembali.
"Tuan"
"Iya"
"Tadi saat di komplek itu dan lampu merah saya melihat non Rindi"
"Terus?"
"Tidak ada tuan"
"Oh, pulang ke rumah"
"Baik"
Setiap hari Rindi belajar dengan giat, sudah tiga hari dia tetap di rumah paman setiap akan istirahat siang.
"Non makan siang, ini bekal milik non"
"Terimakasih bi"
Tak berapa lama satpam datang.
"Non Rindi tukang antar makanan online datang"
"Sebentar pak"
Rindi segera berlari keluar dia menitipkan makanan online untuk diantarkan ke perusahaan milik Andra.
"Sudah non"
"Sudah bi"
Rindi memakan makan siang nya lantas bersantai dengan menonton televisi di ruang keluarga.
"Kok tidak pergi antarkan sendiri?"
"Kan aku sibuk bi, lagian belum orang yang ku kirimi makan siang ada di kantor nya"
"Maksud non?"
"Mungkin sedang makan enak di luar"
Bibi pengasuh mamah kandung nya itu tersenyum.
Ketika Andra selesai meeting dia segera kembali ke ruangan nya, lantas di meja sudah ada kotak bekal yang sangat wangi.
"Dari dia lagi?"
Andra segera memakan nya, namun sudah tiga hari tak orang nya tau pesan nya yang datang hanya kotak makan nya saja.
Hari ini Sisi datang saat jam pulang kerja tidak seperti kemaren datang berkunjung saat jam makan siang.
"Hai selamat sore"
Sapa gadis itu setelah masuk ke ruangan Andra.
"Sore juga"
"Aku mau ajak jalan, ada waktu gak?"
"Boleh, aku mandi dulu ya"
"Oke deh"
Andra segera mandi tak lupa dia mengunci pintu nya supaya tenang. 1 jam, Andra selesai mandi dan memakai pakaian rumahan.
"Wow sangat fresh ya"
"Ya habis mandi lumayan"
"Kita jalan sekarang"
"Ayok"
Mereka pergi tepat di malam Minggu.
"Paman?"
"Kenapa?"
"Aku mau lembur di restoran pasti rame"
"Iya juga sih, ya sudah kamu ke restoran saja"
"Oke paman"
Rindi tak pernah berpikir negatif mungkin saat itu hanya rekan bisnis Andra saja. Dia memang sibuk hingga tidak bisa datang ke perusahaan lelaki itu.
Dari sore restoran sudah sibuk, beruntung ada Rindi yang datang membantu. Sudah ada sekitar lima meja yang Rindi antarkan pesanan nya.
"Ada order baru yang banyak, ayo cepat"
Mereka bekerja dengan keras, dan membantu bersama. Rindi sangat suka karena mereka ramah juga ceria.
"Non ini ada pesanan meja nomer 25"
"Baik lah"
Karena restoran penuh, jadi Rindi tak sempat melihat siapa pelanggan nya. Rindi berjalan pelan dengan mendorong troli berisi pesanan pelanggan restoran itu.
Dengan perlahan namun anggun Rindi menata pesanan itu.
"Silahkan menikmati tuan"
"Terimakasih"
Rindi mendongak karena dia akan mengangguk, hingga Rindi bertatapan langsung dengan pelanggan itu. Rindi kaget, namun rasa kaget itu hanya sepersekian detik, wajah Rindi kembali seperti semula yang ramah.
"Ini layanan menu istimewa dari restoran kami tuan, silahkan"
Rindi membuka sebotol anggur merah menuangkan nya seperti seorang profesional. Pelanggan lelaki itu memperhatikan cara Rindi menuangkan anggur merah itu.
"Permisi saya undur diri dulu"
Setelah selesai menyajikan itu, Rindi segera pamit. Meski hati nya sakit namun dia tetap undur diri dengan elegan dan tanpa ekspresi.
Meja yang baru Rindi layani pesanan nya adalah sepasang lelaki dan wanita. Lelaki itu adalah tiada lain Andra, Rindi tidak boleh rapuh dia kembali melayani meja yang lain. Sesaat tadi Roy juga memperhatikan raut wajah kaget Rindi namun segera ramah kembali, tapi gadis itu sedikit murung dengan senyum yang dipaksakan. Semua pegawai di restoran itu sangat sibuk, hingga tidak ada waktu memikirkan orang lain.
BERSAMBUNG.