TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.374


Kini mereka semua sudah berada di lantai bawah, German sudah berpamitan pada si empu nya mansion.


"Ingat pesan ku German, jangan kau sia-siakan kak Amelia"


Ucap Daddy Rei pada Daddy German yang akan membawa ibu Amelia istri nya.


"Jangan khawatir sobat, dia itu istri ku"


Daddy Rei tersenyum memang rasa khawatir nya berlebihan sekali, mengingat wanita itu juga yang sudah mengurus putra tunggal nya Andra.


"Kalau sampai kau melukai kak Amelia maka kau berurusan dengan ku"


Ucap Daddy Rei serius.


"Siap bos"


Jawab Daddy German tak kalah serius pula.


Andra hanya terdiam saja, ibu Amelia beberapa kali melirik anak angkat nya itu. Begitu pun William yang terdiam, dia juga memperhatikan raut muka Andra.


Terang saja Andra murung karena biasa nya tinggal bersama kini harus berpisah.


"Nak ibu pamit ya"


Andra masih terdiam saja.


"Avin, ibu Amelia mau pamitan nak?"


Ucap mommy Jasmin lembut pada anak tunggal nya itu.


Andra hanya mengangguk, ibu Amelia mengelus pucuk kepala sang anak agar merelakan diri nya berpindah ke mansion milik German.


German membawa istri nya Amelia, untuk bergegas pulang ke mansion mewah nya itu.


"Ayo sayang"


Ibu Amelia keluar dari mansion keluarga Mid hanya membawa sebagian baju dan peralatan make up nya saja.


"Sudah ini saja sayang?"


"Iya, nanti juga aku akan menginap lagi disini"


"Iya, ya sudah kamu pamit semua"


Ucap Daddy German pada semua penghuni mansion keluarga Mid.


Mobil Daddy German mulai membelah jalanan di sore hari itu, udara sore yang membelai rambut ibu Amelia dengan semilir.


Tangan Daddy German mengelus punggung tangan ibu Amelia dengan sayang.


"Jangan sedih, kita bisa berkunjung ke tempat mereka, aku tidak akan melarang mu"


Ibu Amelia mengangguk lantas tersenyum lembut.


1 jam perjalanan menuju mansion yang tak kalah besar dari mansion keluarga Mid, namun disini dekat dengan pegunungan sedang di mansion keluarga Mid dekat dengan pantai nya.


"Kita sudah sampai"


Ucap Daddy German seraya mempersilahkan ibu Amelia untuk turun.


"Bawa barang bawaan nyonya"


"Baik tuan besar"


Ucap kepala pelayan dan supir nya Daddy German.


"Nah ini rumah kita sekarang"


Ucap Daddy German sambil mencium kedua tangan istri tercinta nya itu. Ibu Amelia hanya tersenyum senang saja saat ini karena lelaki tua disamping nya masih memendam perasaan yang begitu luar biasa nya.


"Semoga kau betah ya istri ku"


Ibu Amelia tertawa dengan gombalan receh ala Daddy German itu.


"Kau bisa saja pandai sekali merayu ku"


"Sudah ku siapkan 40 tahun lalu untuk selalu mengisi hari kita dengan gombalan garing ku ini"


Ucap Daddy German membawa ibu Amelia masuk kedalam istana megah nya itu.


"Rumah mu sama besar nya dengan milik keluarga Jasmin ini"


"Memang kenapa? lagi pula kita punya 2 anak lelaki dan nanti akan punya banyak cucu"


Ibu Amelia tersenyum, menggelengkan kepala nya tanda heran.


"Kau ini bisa saja, dimana anak pertama kita mas?"


"Tentu dia sedang bekerja sayang"


"Kau sendiri tidak bekerja, dan membiarkan anak kita bekerja"


"Aku sudah tua dan sudah cukup membimbing mereka, sudah sepantas nya lah aku ini pensiun sayang"


"Alesan saja mas kau ini"


German mengikuti istri nya dari belakang lantas mereka masuk kedalam mansion bersama.


"Sudah mas"


Andra yang sedih ditinggalkan ibu Amelia mengajak istri nya masuk kedalam kamar. Andra tak ingin memikirkan ibu Amelia lagi, maka nya dia bergulat dengan istri nya hingga saat ini.


Andra menggelengkan kepala nya saat ditanya oleh istri cantik nya.


"Jangan sedih lagi"


Rindi mengusap kepala suami nya yang masih menelusup diantara belahan dada nya.


"Tentu tidak"


"Aku tahu"


Andra segera bangkit dari atas tubuh istri nya.


"Entah lah rasa nya aku belum pernah ditinggalkan oleh ibu seperti ini"


"Nanti juga kamu terbiasa, jangan egois ibu juga perlu bahagia"


Andra hanya tersenyum mengangguk, ingin rasa nya mencegah ibu Amelia untuk pergi dari sisi nya namun itu tak akan mungkin.


"Ya sudah, mau tidur atau mau makan malam"


"Tidur saja"


Sementara Will juga sedang memeluk istri nya itu yang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang.


"Mas kamu sedang bahagia ya?"


William mengangguk sambil melirik istri nya itu.


"Kenapa?"


"Coba tebak?"


"Karena ibu sudah mau pulang ke rumah Daddy German ya?"


"Pinter kamu"


Ucap William sambil mengecup seluruh wajah Lisa.


"Ih penuh liur kamu mas"


"Kan cinta yang"


"Ih jorok"


"Tidak lah sayang, hari ini aku senang akhir nya aku bisa melihat senyum dari Daddy dengan mata yang berbinar cerah"


Ucap William dengan antusias nya.


"Aku juga turut senang mas"


Mereka saling berpelukan.


"Ayo kita makan malam dahulu, nanti kita terlambat dan di tunggu oleh semua orang"


"Oke sayang"


Mereka turun untuk memulai makan malam bersama di ruang makan.


"Loh cuma ada Tante sama om"


Ucap William heran.


"Papah kalian ke rumah sakit, Arvin sedang di kamar mereka belum lapar kata nya"


Ucap Daddy Rei menjawab.


Baik Lisa maupun William saling pandang, sejurus kemudian mereka mengerti.


"Sudah tidak usah dipikirkan, ayo makan malam, Daddy sudah lapar tuh"


Ucap Daddy Rei.


Mereka makan dengan khidmat, begitu pun di kediaman Daddy German.


"Mas mau dimasakin makan malam apa?"


"Apa pun asal kamu yang memasak"


Ibu Amelia mengangguk, disana hanya ada 10 pelayan untuk memasak, mencuci pakaian dan bersih-bersih.


Ibu Amelia membuka lemari es disana ada cumi, ikan dan ayam. Di kulkas ada sayur bayam, brokoli, bumbu, dan juga ada cabai.


Ibu Amelia mengeluarkan semua bahan makanan untuk dia olah.


"Nyonya mari saya bantu"


"Oh boleh bik, tolong siangi bayam, brokoli dan bumbu ya"


Sementara ibu Amelia mencuci cumi, ayam dan ikan.


Hanya butuh waktu 1 jam saja semua hidangan sudah matang, ayam rica, cumi saus pedas manis, brokoli tumis, bayam tumis, dan sup ikan jahe.


"Wah bau nya harum sekali?"


Ucap Daddy German datang mendekat kearah meja makan.


"Dimana Aditya mas?"


"Dia makan malam dengan klien di luar"


"Oh mas mau makan?"


"Boleh sayang"


German tadi sudah mandi dan sebentar ke ruang kerja nya untuk memantau kegiatan Aditya.


Ibu Amelia mengambilkan nasi kedalam piring German, sup ke mangkuk nya dan menambahkan sayur serta lauk ke piring lelaki itu.


Ibu Amelia juga menyangka air putih di gelas Daddy German.


"Terimakasih sayang"


Mereka malam ini makan dengan khidmat berdua di meja makan meski pun bukan makanan mahal seperti di restoran bintang lima namun rasa nya luar biasa.


BERSAMBUNG.