TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.188


Rei pulang ke villa nya dengan tampilan elegan, kebetulan hari ini weekend jadi dia berada di rumah.


"Tuan anda sudah pulang?"


James menyapa di depan pintu, sementara Min sedang memakan sarapan nya. Rei datang ke dapur mengambil segelas jus segar untuk membasahi tenggorokan nya.


"Sarapan apa?"


"Oh, aahh......."


Min tergagap karena dia tiba-tiba disapa iblis kegelapan.


"Aku sarapan nasi goreng"


"Kau pecinta nasi goreng ya?"


"Tidak juga"


"Di lemari pendingin ada Pai susu kalau kau suka main sarapan yang berbeda tiap hari agar sedikit gemuk, tidak kerempeng"


Min mendadak menghentikan sarapan nya itu, selera sarapan nya pagi ini menguap entah kemana.


"Baik tuan"


"Biasa nya kau memanggil ku om, atau mau memanggil ku sayang"


Rei mendekatkan wajah nya kearah istri yang status nya di rahasiakan itu.


"Oh, ba....baik lah om"


Wajah Min mendadak canggung seketika karena mereka berbicara dengan jarak yang sedekat ini.


"Ini ambil lah untuk mu, oleh-oleh aku baru dari luar kota"


"Terimakasih om"


"Oh ya hari ini hati ku sangat senang sekali, kalian akan dapat bonus bulanan"


"Terimakasih tuan"


Sahut para pekerja yang bekerja melayani Rei.


Rei tersenyum smirk sambil menaiki tangga menuju kamar nya, dia mengepalkan tinju nya rasa sakit semalam masih terasa di rongga dada nya.


Drrtt.....drrttt.


"Ya"


"Bagaimana nanti malam?"


"Jadi lah pasti nya"


"Baik lah, aku ke salon dulu"


"Ya gunakan pakaian terbaik mu untuk malam ini"


"Siap"


Di seberang yang menghubungi Rei adalah Ravenda, dia saat ini begitu senang sekali karena akan seperti dulu berkelana ketika malam. Tidak ada kesibukan kerja yang menghalangi dan juga kesedihan serta dendam yang membara ini.


"Yos, nanti malam bertemu di depan bioskop seperti biasa"


"Baik, tuan"


Aryos pun segera bergegas memakai pakaian casual, tidak nampak lelaki matang namun bak ABG yang mulai beranjak dewasa saja. Aryos nampak tampan dengan pakaian serta parfum mahal meski pun belum membeli mobil sport namun setidaknya mobil nya tak kalah dengan lelaki lain pada umum nya.


"Sebaik nya aku menunggu mereka dulu"


Aryos datang lebih awal, dia memesan makanan karena sudah waktu nya makan malam. Menu sederhana dia makan, Karen biasa nya jika menemani tuan muda nya maka makanan yang di pesan harus serba mahal dan tentu nya harus sempurna tanpa memperhitungkan harga.


"Yos, sudah sampai?"


Terlihat lelaki dengan pakaian yang santai namun tak menghilangkan kesan mewah dan elegant nya itu, siapa lagi jika bukan Ravenda.


"Hei, kau sudah datang rupanya"


"Ya benar"


Rave langsung memesan makanan satu porsi makan malam. Rave nampak lahap memakan makanan tersebut, dia tidak pernah mengubah menu makanan nya selalu seperti itu karena dulu juga dia seorang konglomerat.


"Kenyang nya"


"Hanya tinggal menunggu tuan muda kita saja"


"Benar"


Rave nampak melamun ke masa silam, pertemanan mereka yang harmonis.


"Apa yang kau lamun kan?"


"Seperti nya kita sudah lupa ya cara nya bahagia, hidup kita selama 15 tahun terakhir ini penuh dengan dendam, perjuangan juga perselisihan"


"Kau benar, Rave"


"Mungkin kita lelah dengan aktifitas yang berputar begitu-begitu saja"


"Mungkin"


Mereka tertawa bersama, mengobrol sangat asik malam ini di temani dengan angin malam yang kian dingin.


"Seperti nya asik mengobrol kan masa depan ya? sesenang itu?"


"Selamat malam semua"


Min menyapa semua teman Rei, mereka pun mengangguk. Ravenda tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis yang sungguh sudah berada didalam hati nya itu.


"Kalian sudah makan malam semua?"


Ucap Rei sambil duduk di kursi yang tersisa setelah dia menyuruh Min untuk duduk.


"Sudah!"


Sahut Ravenda dan Aryos berbarengan.


"Ya sudah kalau begitu kita langsung nonton bioskop saja, aku sudah memesan tempat nya"


Merek berjalan mengikuti Rei di belakang nya, memang seorang Rei sudah membooking satu gedung bioskop untuk mereka nonton bersama.


"Pada hal di rumah nya kan ada home teater, kenapa meski ke bioskop gak terjangkau nih"


Gumam Aryos.


Film genre romantis mulai di putar, terdapat berbagai adegan. Min memakan camilan yang sudah disiapkan diatas meja yg tersedia di bioskop. Sekitar 1 jam lebih film telah berakhir dengan tingkat kebosanan menengah menurut Aryos.


"Bosan sekali, kalau ke club malam enak nih"


Aryos asal bicara saja, Rei melirik nya.


"Setuju, mumpung weekend, ayo kita kesana"


Ravenda tersenyum, Aryos bersorak karena bisa melupakan beban kerja nya.


Hanya memakan waktu 20 menit saja kini mereka berempat masuk ke club malam yang sangat ramai dan terbesar di kota itu. Suara musik memekakkan telinga, aroma minuman beralkohol juga para wanita dengan berbagai kecantikan dan tingkat keseksian nya ada disana.


"Kita naik ke atas ke ruang VIP"


"Siap bos"


Mereka sudah duduk di ruangan yang Rei pesan, Rei memesan aneka minuman mahal, air mineral juga jus tanpa alkohol.


Drrtt.....ddrrtt.


Ponsel Rei berbunyi tatkala mereka sedang melakukan tos bersama malam ini.


"Sebentar, aku angkat telpon dulu"


Mereka mengangguk dengan cepat. Tek berapa lama Rei kembali.


"Aku ke seberang dulu, ada klien yang ingin bertemu 20 menit kok"


"Baik lah"


Rei bergegas keluar, hanya tinggal mereka bertiga terlihat hawa canggung yang menyelimuti mereka.


"Kau jangan khawatir, Rei meeting sebentar mungkin klien penting bagi perusahaan, maklumi saja ya"


Min mengangguk, dia tidak keberatan.


"Baik lah, aku ke toilet sebentar, perut ku melilit"


Ucap Aryos sedikit terburu-buru.


"Baik lah, hati-hati"


Kini hanya tersisa Min dan Ravenda, suasana lebih canggung lagi.


"Apa kabar?"


Suara Ravenda memecah keheningan tatkala telah 10 menit berlalu dalam hening.


"Baik mas"


"Bagaimana hari-hari mu?"


"Baik"


"Min, apa kau tak ingin keluar dari villa nya Rei?"


Min terdiam tak ingin menanggapi.


"Ayo mas keluarkan kau dari sana"


Min masih terdiam.


"Mas janji akan menjamin kehidupan mu Min"


Min nampak meneguk jus nya, lalu menghela nafas.


"Mas akan melakukan apa pun demi mu, mas juga akan memohon pada Rei apa kau bersedia pergi?"


Min menggelengkan kepala nya tak ingin menanggapi dengan ucapan.


"Mas mengerti Rei sudah membantu mu, tapi kau butuh kebebasan bukan?"


Rave mencoba untuk provokatif pada Min.


"Cukup mas, aku tidak ingin membahas nya lagi"


Min sengaja berbicara dengan lantang karena tidak ingin banyak orang terlibat. Dia sangat ingin kebebasan namun itu semua tak berarti jika mengharuskan sang mamah celaka. Asal Min mengerti situasi dia pasti sudah akan terbiasa dengan semua pengaturan Rei akan diri nya.


BERSAMBUNG.