
Andreas pulang dari kantor, dia dihubungi salah seorang teman nya saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Teman Andreas mengajak janjian di restoran seafood dekat dengan cafe yang ingin dia bangun. Teman Andreas ini ingin meminta saran dari diri nya, meski pun seorang ahli di bidang medis namun harus mempunyai penghasilan dari bidang lain.
Nampak Andreas menekan beberapa tombol di ponsel nya.
"Hei kau dimana?"
"Maaf Yas, aku ada pasien, tolong tunggu 30 menit ya ditempat janjian, ini mendesak sekali, tolong ya"
"Baik lah"
"Aku yang traktir, kau tenang saja"
"Baik lah, aku menunggu di restoran ini"
Andreas pun menunggu sambil memesan jus dan membuka laptop untuk pengerjaan design rancangan perusahaan hanya tahap finishing saja jadi tak masalah. Tak berapa lama pesanan yang Andreas pesan tiba juga, dengan segera Andreas melahap semua yang dia pesan.
"Bosan juga, masih 10 menit lagi"
Andreas nampak melihat kearah hutan yang asri di luaran sana, Andreas dapat melihat secara perlahan langit mulai menggelar beranjak malam.
"Janjian dengan seorang dokter memang hal yang konyol, mana mau buka usaha kuliner lagi, itu duit masih adakah wadah nya"
Andreas menggerutu tak karuan. Ketika hendak ke kamar kecil, dia melihat gadis yang ingin di kejar nya. Niat hati ingin mendekati namun ternyata disampingnya seorang bos menemani.
'Pantas aku tak kenal dia, rupa nya wanita si bos'
Andreas yang tadi tak bersemangat kini di mendengarkan pembicaraan mereka dengan serius, Karen tempat duduk mereka sangat dekat hanya berjarak satu meja saja.
Karena fokus dengan mereka, Andreas lupa menghubungi teman nya meski sudah 2 jam dia berada di restoran itu. Gadis yang ditaksir Andreas dan bos nya sudah berlalu pulang.
"Kampret ini niat gak sih buat janji"
Yang membuat stres Andreas pun tiba setelah hampir 3 jam menunggu.
"Sorry bro, ini aku sibuk biasa ada pasien darurat"
Saking kesal nya Andreas, entah karena menunggu tiga jam atau melihat gadis yang di sukai bersama si bos besar.
'Apa dia gadis yang seperti itu? apa hanya teman ranjang nya si bos?'
"Woi, ini minum mu"
Teman Andreas mengageti jomblo akut itu, ya bagaimana tidak akut hampir berumur 27 tahun tapi Andreas belum pernah pacaran sama sekali. Meski pun karir nya terus meningkat juga gaji nya yang lumayan untuk menghidupi wanita beserta seorang anak.
"Kau aku jantungan terus sekarat kau mau bertanggung jawab hah!"
Teman Andreas tertawa kencang karena teman karib nya ini pikun.
"Hei bocah, kau lupa bahwa aku ini seorang dokter, kalau jantung mu copot aku pakai lem buat rekatkan kembali!"
Ucap nya dengan nada sombong.
"Lem kepala mu, mana ada begitu"
"Sudah lah ini minum, kau seperti emak ku saja selalu marah dengan suara kencang, budeg kuping ku ini"
"Cepat kita ke inti nya saja"
Andreas segera berdiskusi tentang mereka yang akan join untuk membuka kuliner pula. Meski sudah ada resto, namun mereka hanya membuka cafe. Cafe lebih praktis pengerjaan nya, basis rugi dan laba nya, juga penangan nya.
"Lantas siapa yang akan kau tunjuk untuk mengawasi cafe mu?"
"Tentu saja kau"
"Kau pikir aku babu mu"
Andreas meninju bahu kekar sahabat nya itu. Mereka saling tertawa bersama karena 5 tahun telah berpisah dan bertemu ketika dewasa dan sudah punya profesi masing-masing.
BERSAMBUNG.