TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.61


EPS.61


Hari berikutnya tetap Aksara pergi ke kantor untuk memulihkan kekuatan finansial nya meski mungkin setengahnya telah diambil oleh Smith.


"Bagaimana hasilnya Dino?"


"Hanya sekitar 2% bos naik nya"


Aksara menghela nafas panjang, dia tidak mungkin meminta bantuan Haris karena lelaki itu menjaga istri untuk berobat ke luar negeri 10 bulan lalu.


Flashback on.


Dua bulan setelah kepergian Cinta, bukan hanya Aksara yang kehilangan namun juga Rista. Tubuh Rista melemah seiring dengan kandungannya yang kian membesar. Hingga anak yang mereka kandung belum juga lahir meski perkiraan lahir nya telah lewat 2 Minggu.


"Bagaimana ini mah?"


Haris nampak sangat khawatir akan kesehatan istrinya.


"Kamu yang sabar, Rista ibu yang kuat"


Sementara Rista terbaring di ranjang pesakitan dengan perut yang membesar. Haris menitikkan air matanya, dia mengkhawatirkan kondisi sang istri juga kondisi sang kakak sepupu lelakinya. Aksara kakak yg selalu di banggakan Haris sedang terpuruk maka otomatis Alkatiri perusahaan raksasa itu seperti mayat hidup. Asisten Haris juga kedua asisten Aksara berada di samping Haris.


"Apa kau tidak lelah?"


Haris memijit pelipis nya.


"Apakah aku harus berkata lelah di saat seperti ini, dari pada berkata lelah aku hanya melihat mereka hidup"


Mereka semua terdiam, ucapan adik sepupu dari CEO mereka memang benar.


"Aku akan merekap laporan nya!"


"Kami akan membantu"


Ucap mereka bertiga, Haris menoleh lantas tersenyum mengangguk.


"Aku mengandalkan kalian semua"


"Kami akan membantu sekuat tenaga"


Mereka bertiga disuruh bergabung, meski Haris tak sehandal Aksara namun Haris bisa menjalankan perusahaan dari kemunduran meski hanya bertahan di posisinya saja.


Seminggu dua minggu mungkin Harus sanggup tapi jika selamanya sungguh tak akan mampu dirinya ini pikir Haris.


Klek.


Pintu rumah sakit terbuka, menampakan sang adik gadis nya datang.


"Mas"


"Hem"


Sheyla mengelus pundak sang kakak.


"Maaf Shey tidak bisa bantu"


Haris mengangguk.


"Tapi Shey bantu kak Rayz untuk ke terapis temannya Shey supaya cepat sadar"


Haris melihat kearah sang adik yang mungkin salah berbicara.


"Oh maksud Shey, supaya kak Rayz bisa bekerja kembali membantu mas"


Haris memeluk adik kecil perempuannya yang sudah berusaha dengan segala cara itu.


"Terimakasih Shey"


"Jadi mas bisa tenang menjaga kak Rista"


Harus mengangguk cepat.


Memang benar 3 Minggu berlalu itu Aksara pergi berkunjung ke rumah sakit untuk menengok Haris.


"Kak!"


Haris berlari seperti anak kecil memeluk Aksara.


"Kenapa kau cengeng sekali"


Aksa menolak pelukan itu lantas membawa seseorang dibelakang nya.


"Periksa dia"


"Mereka siap kak?"


"Ahli media dari benua Eropa"


Haris mengangguk, para ahli medis tersebut berbicara dengan Aksara bahwasannya mereka butuh untuk menyadarkan Rista sebelum membawa pasien ke negara mereka.


Aksara mendekat ke Haris.


"Mereka butuh untuk membuat istri mu sadar, agar bisa secepatnya dibawa berobat ke negar mereka, apa kau setuju?"


"Tentu kak, apa pun keputusan mu aku ikut"


"Baik lah"


Aksara segera memberikan perintah pada mereka.


"Ayo kita bicara"


Mereka menuju balkon rumah sakit, karena Rista ditangani ahli medis dari benua lain.


"Apa kabar kak?"


"Kau kira aku sudah gila!"


Aksa melirik sepupu nya yang kurang terurus, jelas tidak pernah sempat memperbaiki penampilan karena mengurus istrinya yang koma juga mengurus perusahaan induk yang jumlah karyawannya ratusan ribu orang.


"Aku senang kau bisa menjenguk ku, kak!"


"Tentu saja"


Haris tertawa senang.


"Maaf"


"Untuk?"


"Karena tidak bisa membantu perusahaan, tidak bisa membantu mencari istri kesayangan mu"


"Apa kau terurus"


"Kau mengejek ku!"


"Mengapa nasib kita sama kak?"


Aksara terdiam begitu juga Haris.


"Pergi dan urus lah istri mu, besarkan anak mu juga, lantas kembali lah jika kau sudah bahagia"


Haris mengangguk dengan pasti, Aksara hanya menepuk pundak lelaki sepupu nya itu. Karena sejujurnya di lebih rapuh lagi, sakit nya tidak lah berkurang namun tentu dia tidak boleh egois sementara Haris dibutuhkan oleh keluarga kecilnya. Malam itu juga Haris, Rista beserta tim medis nya pergi ke benua lain untuk menjalani pengobatan.


Flashback off


Drrtt....ddrrttt.


Ponsel milik Aksara berdering beberapa kali, namun pemilik nya malah melamun tidak karuan.


Entah sudah beberapa puluh kali panggilan itu, akhirnya di angkat juga.


"Kemana aja bos?"


"Kenapa emang?"


"Tender kita disabotase si Smith lagi"


"Kembali lah tidak usah memenangkan tender"


"Tapi kenapa?"


"Sudah urus saja proyek yg masih ada"


"Baik lah, bos!"


Tut.


Sambungan ponsel dimatikan segera oleh Aksara. Aksa memutar otak agar bisnis dari perusahaan raksasanya itu kembali pulih. Tidak jalan di tempat apa lagi sampai gulung tikar.


Aksa segera melanjutkan kerjanya, sementara kedua asistennya mengurus beberapa proyek di luar.


"Permisi pak?"


"Masuk"


Seorang OG yang tak lain adalah Cinta, memasuki ruangan kantor petinggi perusahaan besar itu.


"Pak ini makanan nya"


Aksa mendongak, terlihat gadis kerempeng itu yang sedang menata makanan di meja dihadapan Aksara.


"Saya tidak memesan makanan!"


"Tapi pak........"


"Bawa keluar semua makanan itu!"


"Tapi pak anda belum makan siang sama sekali"


Aksara mengerutkan kening nya.


"Dari mana kau tahu?"


"Dari orang yang mengirim makanan ini?"


Dengan cepat Cinta mengangguk.


"Untuk mu saja"


Namun Cinta segera maju, menyediakan makanan ke mulut Aksara.


"Aaaaa........"


Aksara membuka mulut nya, Cinta dengan segera menyuapkan makanan itu. Secara sadar atau tidak bagi keduanya karena saat ini seolah interaksi yang begitu intern.


"Sudah habis pak, ini diminum dulu"


Cinta segera membereskan bekas makan CEO nya. Setelah Cinta berlalu dari ruangan Aksara terdiam, bukan hanya tingkah gadis itu namun juga masakan yang baru Aksara telan. Sungguh itu adalah masakan Cinta istri nya, tidak ada yang bisa masak makanan tadi selain istrinya, Cinta.


"Siapa gadis itu?"


Namun segera Aksara menyingkirkan yang mengganggu nya.


Cinta segera melenggang ke dapur makanan tempat para pekerja bawah makan. Tak ada orang pun sehingga tidak akan ada yang curiga, pikir nya. Cinta memakan nasi separuh yang tersisa dari bekas makan Aksara.


'Maafkan Cinta byy'


Gumam Cinta sendirian, sambil dengan cepat menyuapkan masakan nya kedalam mulut nya sendiri.


"Indy"


"Sofi"


"Eh kamu bawa bekal, kenapa aku tidak ditawarin?"


"Ini masih banyak makan lah"


"Terimakasih Indy"


Sementara ada sepasang mata yang memperhatikan.


"Jadi namanya Indy, sudah lah* ini nanti saja"


Gumam Aksara pada diri sendiri.


Aksara segera memfokuskan diri untuk mengerjakan semua pekerjaannya.


Klek.


Dino segera masuk ke ruang bos nya.


"Bagaimana Din?"


"Kita tidak memiliki bantuan sama sekali, bos"


"Baik lah, kembali"


Mereka menjawab serentak lalu segera meninggalkan ruangan bos nya.


BERSAMBUNG.